Ummu Ruman, Sang Bidadari di Mata Rasulullah

Ibrahim Al Kholil, Jurnalis
Kamis 02 Januari 2020 00:09 WIB
Ilustrasi. Foto: Pond5
Share :

Ummu Ruman merupakan contoh dari sosok istri setia, salehah, dan suci yang selalu berdiri di sisi suaminya untuk meringankan segala penderitaannya. la selalu menghibur sang suami selama hari-hari sulit yang dihadapi oleh kaum Muslimin awal. Bahkan, ia selalu mendukung sang suami dan membangkitkan semangatnya dalam mendakwahkan Islam, memperjuangkan kebenaran, dan membela Rasulullah saat menghadapi kaumnya yang kafir. Selain itu, ia juga membebaskan banyak budak lemah yang menyatakan masuk Islam dan semakin banyak mendapat siksaan dari kaum Quraisy maupun lainnya.

Di samping itu semua, Ummu Ruman merupakan ibu yang pengasih dan penyayang, dan begitu lembut dalam mendidik anak-anaknya. Ummu Ruman mendidik Abdurrahman dan Aisyah dengan kebesaran hati serta pendidikan yang benar dan baik. Pasalnya, mereka adalah anak-anak yang lahir dari sulbi yang suci dan penyayang. la rawat mereka sebaik-baiknya hingga Sayyidah Aisyah memasuki usia enam tahun, lalu datanglah Rasulullah SAW untuk meminang dan menikahinya. Hal ini terjadi sebagai bentuk ketaatannya kepada perintah Allah. Ibunda Aisyah pun merasakan kebahagiaan yang tiada tara atas terbangunnya hubungan kekeluargaan yang mulia dan tiada bandingnya itu.

Ketika Allah SWT mengizinkan Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk hijrah ke Madinah al-Munawwarah, Ummu Ruman tetap bersama anak-anak untuk mengemban tanggung jawab besar serta menanggung tekanan kaum jahiliyah yang terus mengancam dan meneror.

Kondisi demikian itu berlangsung hingga Rasulullah mengutus Zaid ibn Haritsah yang ditemani oleh Abu Râfi untuk menjemput keluarga Rasulullah dan keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq. Ketika mereka semua tiba di Madinah al-Munawwarah, Rasulullah dan Abu Bakar menyambut dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Rasulullah telah membangun suatu rumah kecil untuk tempat tinggal Aisyah r.a bersama sang suami.

Hubungan kekeluargaan yang indah itu menjadi sebab lain yang semakin memperkuat hubungan antara kedua keluarga mulia tersebut. Kebahagiaan Ummu Ruman semakin besar tatkala melihat cinta Rasulullah yang begitu besar dilimpahkan kepada Aisyah. Selain itu, ia juga mendapat kesempatan untuk semakin sering berkunjung ke kediaman Rasulullah sehingga mendapat pancaran dari sumber iman yang paling jernih, Rasulullah SAW.

Ummu Ruman turut merasakan pengalaman yang begitu pahit saat menyaksikan putrinya, Ummul Mukminin Aisyah ra, menjadi korban kedustaan seorang gembong munafik, Ibnu Salul. Dusta yang dikenal dengan Minah al-Ifki, yang begitu ramai dipergunjingkan di tengah umat. Ummu Ruman pun sempat jatuh pingsan karena saking tertekannya oleh fitnah yang ia dengar berkaitan dengan sang putri tercinta, Aisyah r.a. Namun, Ummu Ruman menyembunyikan persoalan itu dari Aisyah, sebagai bentuk kasih sayangnya seraya merendahkan diri kepada Allah SWT agar Dia memberikan jalan keluar dengan cara yang terbaik. Akhirnya, Dia turunkan ayat-ayat mulia untuk membersihkan nama Aisyah r.a.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya