Allah menghendaki agar Aisyah mengetahui fitnah yang tersebar di tengah umat itu melalui Ummu Masthah ibn Utsatsah yang bercerita kepadanya. Oleh karena itu, Aisyah pulang ke rumah kedua orangtuanya seraya menangis mengadukan berita dusta tersebut. Dengan penuh haru disertai deraian air mata yang membasahi kedua pipi, sang ibu Ummu Ruman, mengatakan, "Wahai anakku, tenanglah, janganlah terlalu engkau pikirkan soal itu. Demi Allah, jarang sekali ada wanita cantik yang sangat dicintai suaminya dan mempunyai beberapa madu, kecuali pasti banyak berita kotor dilontarkan kepadanya."
Allah SWT mengabulkan doa dari hati yang beriman dan penuh kesungguhan dalam berdoa. Dia turunkan ayat-ayat yang mulia kepada Rasul-Nya untuk membersihkan nama Aisyah r.a. melalui Alquran yang dibaca dan dijadikan sebagai rujukan dalam beribadah kepada Allah oleh kaum Mukminin hingga hari kiamat dan selama-lamanya:
"Sesungguhnya, orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan itu adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar." (QS. An-Nûr: 11)
Fase ini merupakan masa paling berat yang pernah dialami dan dilalui oleh sang sahabat wanita agung, Ummu Ruman ini. Peristiwa ini sungguh mempengaruhi jiwanya hingga ia jatuh sakit. Ummul Mukminin Aisyah selalu merawat sang ibu selama sakit hingga mengembuskan napas terakhir. Bersama beberapa orang, Rasulullah SAW turun ke dalam liang lahad Ummu Ruman dan berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu apa yang telah dialami oleh Ummu Ruman karena Engkau dan karena Rasul-Mu."
Semoga Allah merahmati sang wanita suci yang beriman dan terlibat dalam hijrah serta penyebar Islam ke seluruh penjuru negeri, Ummu Ruman. Semoga Dia memberinya tempat dalam keluasan surga-Nya.
Demikian dikutip dari Buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, halaman 229-233, karya Karya Dr.Bassam Muhammad Hamami.
(Abu Sahma Pane)