Penulis Barat, Edward William Lane menggambarkan bahwa malam pertama Ramadan adalah perayaan keagamaan yang paling indah bagi orang Mesir karena mereka sangat mencintai bulan itu.
“Pada malam ini, para pengrajin, termasuk penggiling, tukang roti, tukang daging, penjual makanan, kelompok musisi dan masyarakat, semua berbaris ke arah istana, di mana para hakim akan mengumumkan penampakan bulan baru, setelah itu perayaan besar dimulai. Mereka berbaris di jalan-jalan dan menembakkan meriam,” tulis Lane.
Di bawah Pemerintahan Sultan Abbas Hilmi, pada awal abad ke-20 perayaan dipindahkan ke Pengadilan Islam di Bab El-Khalk. Perayaan dimulai dengan pagelaran musik, lalu meriam menembak dari istana menerangi langit Kairo yang gelap.
Orang Mesir masih melanjutkan tradisi perayaan tersebut setiap tahun hingga sekarang. Dalam perayaan, para ulama Al-Azhar, perwakilan kementerian, tokoh-tokoh Mesir, dan duta besar komunitas Muslim di seluruh dunia yang tinggal di Mesir, berkumpul untuk melakukan tradisi rukyatul hilal pada 29 Syaban.
Mufti Besar Mesir mengkonfirmasi tentang dimulai atau tidaknya bulan Ramadhan hari itu, lalu beritanya menyebar ke seluruh Mesir lewat radio, televisi, dan media lainnya.
Untuk diketahui, lembaga bernama Darul Ifta di Mesir selalu melakukan tugas pengamatan bulan setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Syaban. Pengamatan tersebut dilakukan melalui komite yang sah dan ilmiah yang tersebar di seluruh negeri. Mereka telah terakreditasi selama hampir 100 tahun di Helwan Astronomical Observatory.
(Abu Sahma Pane)