Alquran Bukan Bacaan Biasa

, Jurnalis
Minggu 10 Mei 2020 04:15 WIB
Share :

Sesungguhnya gambaran alam dibahasakan oleh lafadz Alquran sebagai wacana dan wacana itu adalah kenyataan, itulah yang disebut ayat-ayat kauniyya, ayat yang berkaitan dengan semesta beserta seluruh jagadnya. Inspirasi ilmu pengetahuan yang lahir dari bacaan alam sebagai pengejawantahan dari bacaan lafdziyahnya.

Benarkah seseorang yang makin membaca lafadz Alquran makin kuatlah paham kauniyyahnya, pengetahuan alamnya? Tentu tidak. Maka lafadz fisik Alquran harus menjadi referensi menemukan pengetahuan yang sesungguhnya. Alquran adalah bentangan teori yang teramat luas cakupannya, kavling-kavlingnya adalah kekhususan keilmuan yang dimiliki manusia.

Oleh karena itu, kehebatan ilmu manusia hanya terukur saja pada profesionalitasnya pada satu atau dua bidang. Tetapi jika satu kehebatan (profesionalitas itu) memberi dampak yang luas bagi kehidupan manusia maka itulah pahala yang tak dapat terukur, bernilai sepanjang hayat dan berpahala sepanjang hayat dan pasca kematian (ilmun yuntaf’u bihi).

Dalam literatur-literatur sejarah turunnya Alquran, para ulama menyebutkan bahwa Alquran turun secara berangsur-angsur dalam tempo 23 tahun. Ada juga yang menyebutkan Alquran turun selama kurang lebih 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Penamaan bagi kitab suci umat Islam ini tidak lebih karena ia adalah bacaan umat Islam yang benar-benar diturunkan oleh Allah SWT kepada Muhammad SAW.

Alquran paling tidak memiliki beberapa nama lain. Alquran dinamakan dengan Al Furqan, pembeda/yang membedakan antara yang hak dan yang batil. Pembeda antara yang halal dan haram, berisi ajakan melaksanakan kebajikan dan mencegah atau terhindar dari kemudharatan atau kemungkaran.

Sikap umat atau para pembaca Alquran masih belum maksimal terwujudnya nilai-nilai Alquran dalam kehidupan mereka. Seakan bacaan Alquran yang dikumandangkan sekedar pelengkap seni yang kehilangan nilai.

Alquran juga bermakna al Zikru yang bermakna peringatan. Alquran menjadi pengingat di kala umat dalam keadaan lalai, khilaf, dan lupa. Alquran mengingatkan untuk tidak memburu duniawi semata sementara melupakan akhirat. Alquran mengarahkan agar setiap orang tidak lupa daratan, tidak mabuk dan eforia kemewahan hidup. Alquran mengajarkan agar hidup penuh makna tidak berkarakter tamak dan rakus, pengingat untuk berinfaq, bersedekah, dan berzakat.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya