Keberagamaan dan Keberagaman, Masalah Pelik di Tengah Pandemi Covid-19

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis
Rabu 20 Mei 2020 20:01 WIB
Profesor Dr KH Haedar Nashir. (Foto: Okezone)
Share :

Dimensi Keberagamaan

Menurut penjelasannya, ketika bangsa Indonesia maupun dunia internasional menghadapi pandemi covid-19, permasalahan tidak hanya menyangkut keberagaman di dalam konteks agama, budaya, sosial, dan ekonomi saja. Akan tetapi juga ada dimensi keberagaaman yang melekat dalam kehidupan masyarakat.

"Lebih-lebih di Indonesia. Fenomena ini memengaruhi dinamika sosial kita di dalam menangani covid-19," tutur Prof Haedar dalam live streaming di channel resmi Youtube Universitas Sebelas Maret.

Bicara soal dimensi keberagamaan, Prof Haedar mengatakan bahwa masyarakat Indonesia terkhusus umat Islam, sejatinya masih berinteraksi dalam dinamika yang pelik dan kompleks.

Ada kelompok Muslim yang coba mengaktualisasikan agama dengan kondisi darurat, lalu melahirkan pandangan-pandangan keagamaan yang memberi solusi pada situasi teraktual.

Sebut saja Muhammadiyah, NU, MUI yang telah mencoba memberikan solusi dengan dalil-dalil agama yang kokoh. Hasilnya, mereka sepakat mengimbau umat Islam di Indonesia untuk memindahkan ibadah secara berjamaah di masjid dan di luar rumah menjadi di rumah selama pandemi covid-19 berlangsung.

"Para ulama dan lembaga-lembaga keagamaan itu memberi solusi untuk beribadah di rumah masing-masing tanpa mengurangi rukunnya. Pada saat yang sama ada tuntutan baru bagaimana kita beragama di rumah, namun tetap menghasilkan kesalehan dan sikap keberagamaan yang konstruktif, baik dalam konteks habluminallah dan habluminannas," terang Prof Haedar.

Benar saja, pada praktiknya, sudah banyak masyarakat yang mencoba menerapkan imbauan tersebut, lalu adaptif dengan keadaan. Bahkan, pada tingkat praktis telah lahir berbagai macam gerakan taawun, ukhuwah, hingga gerakan amal salih untuk membantu sesama yang menderita.

Muhammadiyah sejak 2 Maret lalu juga dilaporkan sudah ikut membantu menggalang donasi. Begitu pula dengan perguruan tinggi di Indonesia. Mereka berhasil mengumpulkan donasi senilai lebih dari Rp100 miliar yang telah disalurkan ke 166 rumah sakit.

"Ini menjadi bukti bahwa keberagamaan bisa menjadi solusi bagi persoalan umat dan bangsa. Agama menjadi pemecah masalah (problem solver) dalam konteks pelaku agama itu sendiri," tegasnya.

Namun di saat yang sama, masih banyak umat Islam yang belum adaptif, atau memiliki cara pandang keberagaaman yang berbeda. Mereka merasa pada kondisi seperti ini masih memungkinkan untuk beribadah di luar rumah.

Padahal seperti yang kita ketahui bersama, beberapa titik-titik penluaran covid-19 justru lahir dari kegiatan keagamaan. Ditambah lagi kasus warga yang nekat lompat pagar masjid yang sempat disinggung sebelumnya.

Prof Haedar tidak menyalahkan hal tersebut. Karena pada dasarnya semua orang memiliki niat yang baik untuk beribadah. Namun perlu disadari, bila hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin wabah pandemi covid-19 akan terus menghantui Indonesia dalam waktu yang panjang.

"Ini dinamika yang tidak gampang. Perbedaan dan keberagamaan harus bisa kita cari solusinya. Kalau bisa bersepakat Alhamdulillah, kalau tidak bersepakat kita bisa bersepakat untuk tidak bersepakat," katanya. 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya