Keberagamaan dan Keberagaman, Masalah Pelik di Tengah Pandemi Covid-19

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis
Rabu 20 Mei 2020 20:01 WIB
Profesor Dr KH Haedar Nashir. (Foto: Okezone)
Share :

Namun pada kenyataannya ada dua dimensi dari fitrah yang tidak sederhana. Pertama, ketika fitrah itu diberikan kepada jiwa manusia, lalu mereka mengikuti seluruh amalan yang tertulis di kitab suci Alquran, maka fitrah yang makbullah dan fitrah yang diturunkan munadzallah itu akan menyatu di dalam jiwa mereka.

Di sisi lain, fitrah yang diberikan juga bisa salah arah. Terlebih ketika ada kekuasaan di sekitar mereka. Contohnya orang-orang atau kaum primitif dan tradisional.

Ketika ilmu pengetahuan dan agama belum mereka dapatkan, mereka cenderung melihat segala yang berkuasa itu adalah Tuhan.

"Persis seperti kisah Nabi Ibrahim saat mencari tuhan. Matahari begitu perkasa dia lihat ternyata tenggelam juga, bulan yang bercahaya setelah dia mau sembah juga surut dan lepas di malam hari. Ternyata akhirnya memang hanya sampai pada tauhid," tutur Prof Haedar.

Ada juga orang-orang yang setelah diberi fitrah malah menjauh dari kitab suci. Mereka biasanya hanya mendambakan ilmu dan mengandalkan akal pikiran semata.

Kelompok-kelompok inilah yang berpotensi menjadi sekular, agnostik, dan atheis. Karena pada dasarnya, ilmu yang mereka andalkan justru menimbulkan benturan dalam keberagamaan.

Di kalangan umat beragama sendiri juga ada dua dimensi keberagaman dari keberagamaan. Salah satunya dimensi verbalistrik (serba syariah).

Contohnya bisa dilihat pada kondisi saat ini, bahwa ke masjid itu bagian dari keberagamaan, dan pahala saat beribadah di masjid bisa berlipat-lipat menjadi 27 derajat. Tetapi di kala ada musibah, umat Islam sejatinya memiliki pilihan.

"Di saat darurat maka pilihan di rumah itu sesungguhnya tetap bisa berjamah tetap bisa shalat wajib, tetapi sebagian orang tidak siap karena terlalu memegang pada hukum syariat verbal itu," kata Prof Haedar.

"Kita tidak mau menghakimi, tetapi di saat seperti ini ada problem yang diakibatkan dari kita memaksakan situasi. Toh shalat itu kan selain dimensi rukun, ada dimensi khusyuk. Di rumah juga kita bisa khusyuk. Kekhusyukan itu melahirkan taqarrub-ilallah dan kemudian lahir kesalehan," tambahnya.

Oleh sebab itu, Haedar kembali mengaskan bahwa umat Islam perlu melakukan satu proses transformasi pemahaman keagamaan yang lebih luas.

"Dalam perspekti kami perlu adanya pendekatan bayani tekstual yang kaya, perlu juga pendekatan burhani atau pemikiran ilmu yang kontekstual, baik klasik dan kontemporer, baik yang sifatnya ilmu ada di dalam rumpun-rumpun ilmu, maupun sunatullah dan hukum semesta," tandasnya. 

(Hantoro)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya