Selain shahih, ada ma yusybihu (menyerupai sahih). Hal ini mempunyai arti bahwa kualitas hadis itu di bawah sahih, tetapi ada riwayat atau pendapat yang menguatkannya. Istilah ini kemudian dikenal dengan shahih li ghairihi.
Kriteria lainnya adalah yuqaribuhu (mendekati hadis sahih). Di kemudian hari, para ulama menyebut hadis ini dengan istilah hadis hasan. Istilah lain lagi adalah wahn syadid, yakni bahwa hadis dimaksud mempunyai kualitas sangat lemah.
Baca juga: Alami Kejenuhan saat Berhubungan Suami Istri? Ustadz Khalid Basalamah Beri Solusinya
Terakhir, istilah kualitas hadits dalam Sunan Abu Dawud adalah shalih. Istilah terakhir ini menjadi perdebatan para ulama setelah Imam Abu Dawud. Perdebatan muncul karena Imam Abu Dawud menempatkan istilah hadis shalih ini pada hadis sahih, hasan, maupun dhaif. Sehingga, istilah tersebut dianggap tidak jelas kepada hadis mana derajat shalih ini dialamatkan.
Banyaknya istilah derajat hadis dalam Sunan Abu Dawud lebih disebabkan saat itu belum ada kesepakatan di antara ulama dalam menilai kualitas sebuah hadis. Kualitas hadis pada zaman Imam Abu Dawud hanya dibagi menjadi dua: sahih dan dhaif.
Baca juga: Bupati Langkat Ditangkap KPK, Ini Pandangan Islam terkait Korupsi
Baru setelah era Imam Abu Dawud, terutama Imam At-Tirmizi, membagi hadis menjadi beberapa istilah yang jelas seperti shahih li zatihi, shahih lighairihi, shahih gharib hasan lizatihi, hasan lighairihi, hasan gharib, dan lain-lain.
Wallahu a'lam bishawab.
(Hantoro)