BIOGRAFI Imam Abu Dawud sangat baik untuk diketahui kaum Muslimin. Beliau merupakan ulama ahli hadis yang tidak perlu diragukan lagi keilmuannya. Imam Abu Dawud termasuk ulama hadits yang sangat sederhana. Seperti dalam berpakaian, sebelah lengan baju Imam Abu Dawud lebih lebar dibanding satunya yang sempit. Menurut dia, lengan baju yang lebar untuk membawa kitab, sedangkan lengan yang sempit tidak perlu diperpanjang karena hanya memboroskan kain.
Dikutip dari laman Suara Muhammadiyah, Kamis (27/1/2022), Ustadz Syaifullah yang juga mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengisahkan bahwa Imam Abu Dawud dilahirkan di daerah Sijistani, termasuk wilayah Kota Basrah. Beliau memiliki nama lengkap Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Imran al-Azdi al-Sijistani.
Baca juga: Biografi Imam Ahmad bin Hanbal: Ahli Ilmu yang Zuhud dan Dermawan
Dia berkembang dalam keluarga taat beragama. Sebagaimana tradisi ulama Islam lainnya, Imam Abu Dawud sejak dini telah belajar keilmuan Islam. Ia belajar Alquran, hadis, dan ilmu bahasa Arab.
Pengetahuan dan penguasaannya tentang ilmu hadis dilatarbelakangi lingkungan keluarganya. Bapaknya Al-Asy’as adalah perawi hadis. Saudaranya Muhammad bin Al Asy’as merupakan seorang yang menekuni ilmu hadits. Dialah yang selalu menemani Abu Dawud dalam perjalanan mencari dan belajar ilmu hadis. Lingkungan inilah yang mendukung Imam Abu Dawud memperoleh ilmu hadis secara mendalam.
Ketika masa muda, Imam Abu Dawud melakukan al-rihlah li thalabi al-hadits (perjalanan untuk belajar dan mencari hadis). Dia melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Ia ke Khurasan, Baghdad, Hijaz, Mesir, Irak, Naisabur, dan tempat-tempat lain.
Imam Abu Dawud menjadi ulama hadis tidak lepas dari manfaat dari rihlah yang dilakukan. Banyak ulama hadis yang ditemui. Ia berguru kepada mereka. Salah satu gurunya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Selain banyak berguru, Imam Abu Dawud juga mengajarkan dan meriwayatkan hadis kepada para muridnya seperti An-Nasa’i dan At-Tirmizi.
Berkat ketenarannya sebagai ahli hadis, Amir di Baghdad yakni Abu Ahmad al-Muwaffaq memintanya tinggal di sana. Imam Abu dawud diminta mendirikan majelis ilmu guna mengundang orang-orang belajar hadis.
Permintaan ini dianggap penting karena saat itu Kota Basrah dan Baghdad dilanda tragedi peperangan. Kehadiran majelis ilmu diharapkan menjadikan dua kota tersebut makmur serta ramai kembali dalam dunia keilmuan.
Baca juga: Biografi Imam Muslim: Perawi Hadis yang Tidak Perlu Diragukan Lagi Kesahihannya
Imam Abu Dawud pun menerimanya, sembari tetap melakukan pencarian hadis. Ia pun menetap di Kota Basrah hingga wafatnya pada 16 Syawal 275 Hijriah dalam usia 73 tahun.
Selain kitab Sunan Abu Dawud, Imam Abu Dawud melahirkan beberapa karya lain. Di antaranya adalah Al-Marasil, Masail al-Imam Ahmad, Al-Nasikh wa al-Mansukh, Risalah fi Wasf Kitab Sunan, Al-Zuhud, Ijabat al-Salawat al-‘Ajjurri, Musnad Malik, Qaul Qadr, Al-Du’a, A’lam an-Nubuwwat, dan lain-lain.