Pilihan pertama: melaksanakan nazar yang dinazarkan. Pilihan kedua: membayar kafarat berupa membebaskan budak mukmin, memberi makan sepuluh orang miskin, atau memberi pakaian kepada mereka. Jika tidak mampu, ia harus berpuasa selama tiga hari.
Nazar selain jenis lajaj tidak memiliki opsi kafarat. Jenis nazar ini mencakup nazar untuk ibadah murni tanpa kaitan emosional, seperti bernazar berpuasa untuk kesembuhan, atau bernazar shodaqah sebagai bentuk syukur. Bagi nazar-nazar ini, satu-satunya kewajiban adalah menunaikannya; tidak ada pengganti selain melaksanakan nazar tersebut.
Berdasarkan penjelasan ulama dalam Al-Fiqh al-Manhaji:
الأصل في النذر أنه يجب الوفاء به متى كان متعلقاً بإبادة قربة
Artinya: "Pokok hukum dalam nazar adalah wajib memenuhinya apabila nazar tersebut terkait dengan ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah."
Berdasarkan penjelasan di atas, umat Islam perlu membedakan jenis nazar sebelum menentukan konsekuensinya. Nazar biasa yang tertunda harus tetap dilaksanakan sebagai qadha dengan konsekuensi dosa, bukan kafarat. Kafarat hanya berlaku untuk nazar lajaj yang melibatkan unsur emosi atau pertengkaran. Dengan pemahaman ini, pelaksanaan nazar dapat dilakukan dengan lebih tepat sesuai syariat Islam. Wallahu A'lam.
(Rahman Asmardika)