JAKARTA — Bulan Syaban adalah bulan istimewa yang penuh berkah dan ampunan, serta menjadi penanda bahwa bulan suci Ramadan semakin dekat. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan meminta ampunan di bulan Syaban.
Syekh Yusuf an-Nabhani menjelaskan bahwa bulan Syaban juga dikenal sebagai bulan shalawat, di mana umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Ini menjadi wujud cinta kepada Rasulullah sekaligus sarana memperkuat kesiapan spiritual sebelum memasuki Ramadan, demikian dilansir dari NU Online.
Dalam kitab Al-Anwarul Muhammadiyyah minal Mawahibil Ladunniyyah, Syekh Yusuf an-Nabhani menjelaskan:
قَالَ اللهُ تَعَالىَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. قِيْلَ نُزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي شَهْرِ شَعْبَانَ، وَلِذَلِكَ يُقَالُ لَهُ شَهْرُ الصَّلَاةِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya, “Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.’ (QS. Al-Ahzab: 56). Dikatakan bahwa ayat ini diturunkan pada bulan Syaban, dan karena itulah bulan ini disebut sebagai bulan shalawat kepada Rasulullah saw.” (Syekh Yusuf an-Nabhani, Al-Anwarul Muhammadiyyah minal Mawahibil Ladunniyyah, [Mesir: Mathba’ah al-Maimaniyyah, t.t], hlm. 267).
Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki dalam kitab Madza fî Sya‘bân menjelaskan bahwa salah satu bacaan shalawat yang sangat dianjurkan untuk diamalkan pada bulan mulia Syaban adalah shalawat yang berasal dari Imam asy-Syafi‘i.
Berikut bacaan shalawat dari Imam Syafi‘i:
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُونَ، وَعَدَدَ مَا غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُونَ
Wa ṣhallallāhu ‘alā Muḥammadin ‘adada mā zhakarahu adz-zhākirūn, wa ‘adada mā ghafala ‘an zhikrihi al-ghāfilūn.
Artinya: “Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad sebanyak bilangan orang-orang yang mengingatnya, dan sebanyak bilangan orang-orang yang lalai dari mengingatnya.”
Ada sebuah kisah menarik di balik shalawat ini. Sayyid Muhammad mengisahkan bahwa suatu saat Ibnu Abdil Hakam bermimpi bertemu dengan Imam Syafi‘i. Dalam mimpi itu, ia memberanikan diri bertanya, “Wahai Imam, apa yang Allah perbuat kepadamu setelah engkau wafat?”
Imam Syafi‘i menjawab bahwa Allah swt telah melimpahkan kenikmatan kepadanya dan mengampuninya. Bahkan, ia disambut dengan penuh kemuliaan di dalam surga, diarak sebagaimana seorang pengantin, serta ditaburi anugerah dan penghormatan sebagaimana pengantin yang dimuliakan.
Mendengar jawaban tersebut, Ibnu Abdil Hakam tertegun. Dengan rasa penasaran yang memuncak, ia bertanya lagi, “Wahai Imam, amalan apa yang telah engkau lakukan sehingga engkau bisa mencapai kedudukan yang begitu mulia ini?” Maka Imam Syafi‘i menjawab:
بِقَوْلِي فِي كِتَابِ الرِّسَالَةِ: وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُونَ، وَعَدَدَ مَا غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُونَ
Artinya: “Dengan perkataanku dalam kitab Ar-Risalah: ‘Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad sebanyak bilangan orang-orang yang mengingatnya, dan sebanyak bilangan orang-orang yang lalai dari mengingatnya’.” (Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki, Madza fî Sya‘bân, cetakan pertama: 1424 H, hlm. 30).
Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa shalawat memiliki keutamaan yang sangat agung. Melalui shalawat, Allah swt melimpahkan kenikmatan dan ampunan. Bahkan, seseorang dapat disambut dengan penuh kemuliaan di surga, diarak layaknya seorang pengantin, serta dianugerahi kehormatan sebagaimana pengantin yang dimuliakan.
Penegasan tentang agungnya keutamaan shalawat ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Imam Abul Laits as-Samarqandi. Ia menjelaskan bahwa seandainya tidak ada balasan bagi orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad kecuali harapan memperoleh syafaat kelak, niscaya hal itu saja sudah cukup menjadi alasan bagi orang berakal untuk tidak pernah lalai dari membaca shalawat.
Terlebih lagi, shalawat tidak hanya menghadirkan harapan syafaat, tetapi juga menjadi sebab diampuninya dosa-dosa serta mendatangkan balasan berupa shalawat dari Allah Ta’ala sendiri kepada hamba-Nya.
قَالَ أَبُو اللَّيْثِ السَّمَرْقَنْدِيّ: لَوْ لَمْ يَكُنْ لِلصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ثَوَابٌ سِوَى أَنَّهُ يَرْجُو بِذَلِكَ الشَّفَاعَةَ، لَكَانَ الْوَاجِبُ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ لَا يَغْفُلَ عَنْهَا، فَكَيْفَ وَفِيهَا مَغْفِرَةٌ لِلذُّنُوبِ، وَفِيهَا الصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى
Artinya: “Abu Laits as-Samarqandi berkata: ‘Seandainya shalawat kepada Nabi tidak memiliki pahala kecuali harapan untuk mendapatkan syafaat, maka sudah seharusnya bagi orang yang berakal untuk tidak melalaikannya. Apalagi di dalamnya terdapat ampunan dosa dan shalawat (rahmat) dari Allah Ta’ala’.” (Madza fî Sya‘bân, hlm. 31).
Demikianlah uraian tentang keistimewaan bulan Syaban sebagai bulan shalawat serta bacaan shalawat yang bisa dibaca di dalamnya.
(Rahman Asmardika)