Puasa Jalan Takwa

Rabu 08 Mei 2019 04:01 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 07 330 2052725 puasa-jalan-takwa-1lPWrzm3Mc.jpg

AYAT yang paling sering dikutip dalam mimbar-mimbar Ramadan adalah QS al-Baqarah/2: 83; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” Ada empat saripati ayat yang ingin disampaikan dalam tulisan pendek ini.

Pertama, Allah menyeru/mengundang orang yang beriman untuk puasa Ramadan dengan kata kerja aktif amanu. Ini menunjukkan bahwa iman, sebagai kata kerja, bersifat aktif dan dinamis, kadang naik kadang turun sebagaimana diungkapkan Nabi saw “al-imanu yazidu wa yanqushu.”

Dengan redaksi ini, seolah Allah ingin mengundang semua orang yang dihatinya ada iman, baik yang sudah kuat atau yang masih lemah, yang teguh atau rapuh, yang tebal atau tipis, dengan seruan yang mengandung unsur kemesraan (ya ayyuha).

Kedua, jika terhadap objek yang diseru/diperintah Allah menggunakan kata kerja aktif, isi perintah itu sendiri dinyatakan dengan kata kerja pasif yaitu kutiba alaikum (dituliskan, ditetapkan, dan diwajibkan atas kamu).

Kenapa dalam perintah puasa Allah tidak menggunakan amar yang lugas dan tegas seperti dalam perintah shalat (aqimis shalata li dzkri), zakat (khudz min amwalihim shadaqatan tuthahhiruhum), dan haji (wa atimmul hajja wal’umrata lillah)?

Jika kita telaah ayat-ayat al-Qur’an, kata kutiba yang digandengkan dengan kata alaikum biasanya digunakan untuk perkara yang mengandung unsur masyaqqah (kesulitan), yang membuat manusia enggan menjalankannya.

Misalnya ayat kutiba alaikumul qital wa huwa kurhun lakum (diwajibkan atyas kamu berperang padahal engkau tidak menyukainya) atau ayat kutiba ‘alaikumul qishahu fil qatla (diwajibkan bagimu kisas dalam perkara pembunuhan). Ini semua mengandung kesulitan dan keberatan sehingga bentuk perintahnya bersifat pasif (kutiba) dan persuasive ketimbang perintah hirarkis vertical.

Allah memupuk moral dan mental orang yang beriman, sebab di dalam kesulitan itu terdapat kebaikan untuk manusia sehingga tanpa perintah yang bersifat tegas pun, kelak manusia akan memetik buah kebaikan dari perbuatan itu. Misalnya, puasa penting untuk kesehatan manusia.

Ketiga, Allah menjelaskan bahwa kewajiban puasa juga pernah dipikulkan kepada umat-umat terdahulu (kama kutiba alal ladzina min qablikum). Dua pelajaran penting bisa ditarik. Pertama, puasa merupakan ritual universal. Setiap generasi manusia menjalankan puasa, meskipun kaifiyah (cara dan aturannya) berbeda-beda.

Imam Jalaluddin Assuyuthi dalam kitab Ad-Durrul Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur meriwayatkan sebuah hadits yang menerangkan kewajiban puasa telah ada sejak Nabi Adam as. Ketika terusir dan diturunkan dari surge ke bumi karena makan buah terlarang, Nabi Adam melakukan puasa pertobatan, tiga hari dalam satu bulan, yaitu di hari-hari putih (ayyamil bidz) tanggal 13,14, dan 15. Puasa ini dilestarikan hingga Nabi Nuh.

Nabi Musa kemudian diperintahkan berpuasa selama 40 hari dalam setahun, tetapi kelak orang Yahudi hanya puasa dua hari, yang dikenal sebagai ‘Asyura (tanggal 9-10 Muharram), yaitu puasa untuk memperingati dan mensyukuri penyelamatan Tuhan atas bangsa Israel.

Sebelum kewajiban puasa Ramadan ditetapkan Allah pada tahun ke-2 hijriyah, Nabi Muhammad melakukan puasa ayyamil bidz dan puasa ‘Asyura. Menurut Imam Hanafi, puasa Asyura hukumnya wajib sebelum di-nasakh (dibatalkan) oleh kewajiban puasa Ramadhan.

Kedua, ajaran Islam adalah kelanjutan dan penyempurnaan dari ajaran-ajaran Nabi sebelumnya. Allah mewajibkan puasa pada umat Muhammad sebagaimana Allah mewajibkan puasa pada umat sebelumnya. Seolah Allah menyeru, kamu pasti sanggup karena umat-umat terdahulu juga melakukannya.

Keempat, Allah memerintahkan puasa sebagai jalan/metode agar manusia bertakwa (la’allakum tattaqun). Takwa berasal dari kata waqa yaqi wiqayatan yang berarti menjaga atau melindungi. Dari kata ini para ulama mendefinisikan takwa sebagai menjaga diri dari murka Allah dan api neraka dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan (imtisalul awamir wajtinabun nawahi). Dengan puasa, manusia akan lebih terjaga dan terlindungi dari jalan setan yang selalu berusaha menyesatkan manusia dari jalan Tuhan.

Dalam kitab ihya ‘ulumiddin, pada bab Kasrus Syahawat, Imam Ghazali menyebut bahwa kejahatan yang dilakukan pertama kali oleh manusia bersumber dari syahwatul bathn (syahwat perut). Syahwat ini mendorong Adam dan Hawa memakan buah khuldi. Dari syahwat perut kemudian turun ke syahwat farji (kemaluan) yang membuat aurat Adam dan Hawa kemudian tersingkap dan akhirnya diusir dari surga.

Puasa, terutama Puasa Ramadan adalah metode yang digunakan untuk mengikat syahwat perut sumber dari segala macam kejahatan dan keburukan, baik yang bersifat ruhaniyyah maupun jasmaniyyah.

Secara ruhani, pelampiasan nafsu perut akan menjerumuskan manusia ke jurang materialism yang menjauhkan dari Tuhan. Secara jasmani, pelampiasan nafsu perut akan menyebabkan timbunan berbagai kenikmatan tubuh yang telah dianugerahkan Tuhan kepada manusia.

Inspirasi Ramadan 1440 H

Oleh Ali Masykur Musa

(Ketua Umum PP ISNU-Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya