Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puasa Jalan Takwa

Puasa Jalan Takwa
A
A
A

Jika kita telaah ayat-ayat al-Qur’an, kata kutiba yang digandengkan dengan kata alaikum biasanya digunakan untuk perkara yang mengandung unsur masyaqqah (kesulitan), yang membuat manusia enggan menjalankannya.

Misalnya ayat kutiba alaikumul qital wa huwa kurhun lakum (diwajibkan atyas kamu berperang padahal engkau tidak menyukainya) atau ayat kutiba ‘alaikumul qishahu fil qatla (diwajibkan bagimu kisas dalam perkara pembunuhan). Ini semua mengandung kesulitan dan keberatan sehingga bentuk perintahnya bersifat pasif (kutiba) dan persuasive ketimbang perintah hirarkis vertical.

Allah memupuk moral dan mental orang yang beriman, sebab di dalam kesulitan itu terdapat kebaikan untuk manusia sehingga tanpa perintah yang bersifat tegas pun, kelak manusia akan memetik buah kebaikan dari perbuatan itu. Misalnya, puasa penting untuk kesehatan manusia.

Ketiga, Allah menjelaskan bahwa kewajiban puasa juga pernah dipikulkan kepada umat-umat terdahulu (kama kutiba alal ladzina min qablikum). Dua pelajaran penting bisa ditarik. Pertama, puasa merupakan ritual universal. Setiap generasi manusia menjalankan puasa, meskipun kaifiyah (cara dan aturannya) berbeda-beda.

Imam Jalaluddin Assuyuthi dalam kitab Ad-Durrul Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur meriwayatkan sebuah hadits yang menerangkan kewajiban puasa telah ada sejak Nabi Adam as. Ketika terusir dan diturunkan dari surge ke bumi karena makan buah terlarang, Nabi Adam melakukan puasa pertobatan, tiga hari dalam satu bulan, yaitu di hari-hari putih (ayyamil bidz) tanggal 13,14, dan 15. Puasa ini dilestarikan hingga Nabi Nuh.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement