Hakikat Menahan Syahwat saat Berpuasa

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 09 Mei 2019 04:34 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 09 330 2053322 hakikat-menahan-syahwat-saat-berpuasa-Yh0Jka2qse.jpg Puasa di Bulan Ramadan (Foto: Ilustrasi/Pixabay)

Berpuasa hakikatnya adalah menahan. Namun ditelisik lebih jauh, sebetulnya berpuasa di bulan Ramadan bukan hanya menahan rasa lapar dan dahaga. 

Sejatinya, berpuasa bukan hanya menahan diri dari waktu terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dari hal-hal yang membatalkan puasa dari sisi lahiriah (yang terlihat), misalnya minum, merokok, dan makan tentunya.

Lebih dari itu, seperti dijelaskan oleh Ustadz M Najmi Fathoni dalam tayangan tausiah Ramadan bersama Okezone, episode ketiga yang bertajuk “Menahan Syahwat”. Ustadz Najmi menerangkan, sesunggguhnya Rasulullah SAW telah mengingatkan, “Amat banyak orang-orang berpuasa menahan diri tapi tidak mendapat pahala, hanya mendapat haus dan lapar”.

Baca juga :

Artinya, di luar hal-hal yang bersifat lahiriah atau yang terlihat ini, sejatinya memang ada hal-hal lain yang harus kita puasakan. Ustadz Najmi memberikan contoh misalnya, mulai dari pikiran-pikiran kotor, puasa dari bergunjing membicarakan orang lain. Jangan sampai kita terjebak hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, tapi Ustadz Najmi menegaskan kita harus berupaya menjadi umat Muslim, hamba Allah yang mendapat pahala berlipat sehingga akhirnya bisa damai di surga Allah SWT.

Dalam kisah Nabi Muhammad, Ustadz Najmi bercerita suatu kali Rasulullah berbicara pada sahabat-sahabatnya tentang jalan golongan orang yang bebas dari azab api neraka. Golongan apakah itu?

Pertama disebutkan ialah golongan orang-orang yang “ala kulli hayyin”, yakni orang-orang yang hatinya lapang. Melapangkan hati inilah yang salah satunya diajarkan dalam berpuasa, berhati lapang, menyingkirkan rasa dendam. Maka memang saat berpuasa itu ada yang kita hindari, ada yang kita tinggalkan, ada yang kita amalkan. Saat berpuasa kita melatih diri untuk tidak menjadi orang yang gampang marah, contohnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Maka dari itu, Rasulullah SAW mengatakan orang-orang yang ‘Hayyin’ adalah orang-orang yang kelak bebas dari api neraka.

Golongan kedua ialah Layyin, orang-orang yang lisannya lembut, tidak pernah berkata kasar pada siapapun. Patut kita ingat dalam hati dan pikiran kita, dikatakan sesungguhnya ketika orang berkata kasar atau menghina siapapun, baik rekan kerja, ataupun sanak keluarga, sesungguhnya orang tersebut tengah berkata kasar kepada yang menciptakannya. yg menciptakannya.

Selanjutnya ada yang disebut dengan ‘Qaribin’, yakni akrab atau dengan kata lain tidak membeda-bedakan orang dari latar belakangnya. Baik itu latar belakang agama, suku, dan sebagainya. Sebab sejatinya, yang membedakan sesama manusia hanyalah ketakwaannya pada Allah SWT.

Terakhir, Ustadz Najmi menyebutkan ialah golongan ‘Sahlin’, yakni orang-orang yang setiap harinya berpikir bukan untuk berbuat curang alias culas. Namun menghadirkan dirinya sebagai suatu jawaban.

“Sahlin, hadirnya kita menjadi solusi di manapun adanya. Baik di dalam rumah tangga, di lingkungan bekerja, di manapun adanya. Sehingga orang-orang yang sahlin ini yang kelak juga termasuk terbebas dari siksa api neraka. Jadi intinya, belajar menahan bukan hanya soal nahan lapar dan dahaga, tapi juga belajar menahan diri untuk menjadi orang yg hatinya lapang, lisannya lembut, tidak membeda-bedakan siapapun, dan bisa hadir menjadi sebuah solusi di manapun,” pungkas Ustadz Najmi menutup tausiyah.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ren)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya