nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Islam dan Moralitas Publik

Selasa 14 Mei 2019 02:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 14 330 2055307 islam-dan-moralitas-publik-mX802mJdUk.jpg

DALAM hadits yang sangat masyhur, diriwayatkan oleh imam Ahmad, Rasulullah menyatakan. “Aku tak lain diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia” (innama bu itstu li utammima makarim al-akhlaq).

Rasulullah tidak diutus untuk kepentingan selain memperbaiki akhlak manusia. Akhlak dan moral menduduki peran sentral dari seluruh misi dan ajaran Islam yang dibawakan Rasulullah. Karena itu, sasaran dari pengaturan aspek-aspek kehidupan manusia seperti hukum, ekonomi, sosial, politik, dan budaya adalah dalam rangka melahirkan manusia yang berakhlak luhur, bermoral tinggi.

Dengan kata lain, penegakan hukum atau syari’ah, pencanangan sistem ekonomi dan politik atau pengembangan sosial budaya yang tidak berorientasi kepada pembangunan akhlak manusia bukan merupakan misi yang dibawakan Rasulullah.

Dilihat dari perspektif demikian, jika orang, misalnya, mengumandangkan penegakan syari’ah Islam tetapi dengan cara yang menyakiti orang lain, menggangu ketertiban umum, cenderung merasa benar sendiri, dalam hemat kami, itu jauh dari teladan yang dicontohkan Rasulullah, bahkan keluar dari misi yang dicanangkan Rasulullah itu sendiri.

Jika kita perhatikan, seluruh ajaran Islam seperti salat, zakat, puasa, dan haji tidak lain adalah dalam rangka menghaluskan akhlak manusia, baik akhlak kepada Allah, kepada sesama, dan kepada lingkungan hidup.

Salat mengajarkan kepatuhan, kedisplinan, penghargaan terhadap waktu, dan pengheningan diri untuk kembali menyadari hakikat hidup. Zakat mengajarkan solidaritas, keikhlasan, altruism, dan keadilan.

Puasa mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, kejujuran, dan keseimbangan hidup. Haji melambangkan episode-episode perjalanan hidup manusia, yang di dalamnya terangkum seluruh ajaran-ajaran moral yang intinya menyeru seluruh manusia untuk kembali kepada Tuhan. Haji adalah perjalanan pulang menuju kampung yang sejati.

Karena itu, jika pengalaman ajaran dan syari’at Islam yang kita lakukan tidak mengantarkan kita menjadi mahluk yang berbudi luhur dan bermoral tinggi, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, sudah benarkah Islam kita? Sudah tepatkah cara kita ber-Islam? Jangan-jangan, kita termasuk orang yang disebut Rasulullah sebagai muslim yang bangkrut. Siapakah muslim yang bangkrut itu?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, Rasulullah bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian siapa orang-orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, orang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai uang atau kekayaan. Nabi berkata bukan. Orang bangkrut di antara umatku adalah orang yang dating di akhirat kelak dengan pahala shalat, puasa, dan zakat. Tetapi, ketika di dunia, dia suka mencela sesama, memfitnah sesama, memakan harta sesama, memukul sesama, atau mengalirkan darah sesama.

Maka semua kebaikan (pahala) yang dimilikinya akan dipindahkan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Jika kebaikan (pahala) yang dimilikinya ternyata belum cukup sebagai penebus, maka dosa orang-orang yang dizalimi itu akan dipindahkan kepadanya. Lalu ia dilemparkan ke neraka.”

Nauzubillah min dzalik. Semoga kita terhindar dari muslim demikian. Marilah di bulan baik ini, kita terus memperbaiki Islam kita, tanpa harus merasa diri sebagai paling baik dibanding orang lain.

Inspirasi Ramadhan 1440 H

Oleh Ali Masykur Musa

(Ketua Umum PP ISNU-Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini