nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nabi Diutus untuk Membela yang Lemah

Jum'at 17 Mei 2019 15:39 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 17 330 2057010 nabi-diutus-untuk-membela-yang-lemah-X9Ex8D5M4H.jpg

DALAM sejarah agama samawi, hampir semua Nabi diutus untuk membela mereka yang lemah dan melawan tirani. Nabi Musa diutus untuk melawan Fir’aun yang mengaku Tuhan. Isa diutus untuk melawan tirani para penguasa Romawi. Muhammad diutus membela kaum lemah melawan para penguasa Quraisy yang menyembah berhala.

Ketika kekejaman dan penyiksaan yang dilakukan Quraisy Mekkah kepada para pengikut Nabi Muhammad SAW sudah melampaui batas, turun ayat yang secara tersurat berisi dorongan untuk membela yang lemah dan memerangi orang-orang kafir. QS al-Nisa/5: 75 menyatakan:

“Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zalim. Berilah kami perlindungan dari sisi-Mu, dan berilah kami pertolongan dari sisi-Mu.”

Islam mendorong pemeluknya untuk membela kelompok-kelompok marginal, kelompok-kelompok yang disingkirkan sejarah, mereka yang tertindas dan dilemahkan oleh struktur yang tidak adil.

Allah sendiri bersama orang-orang yang tertindas dan berjanji akan mengangkat mereka menjadi para pewaris bumi jika sabar dan terus berjuang. QS al-Qasas (28: 5) menyatakan: “Dan kami akan memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi itu dan akan menjadikan mereka pemimpin dan orang-orang yang mewarisi bumi.”

Karena itu, jika kita ingin didampingi Allah dalam hidup kita, marilah kita berjuang membela yang lemah, yakni mereka yang ditindas dan diperlakukan tidak adil. Penindasan memiliki beberapa aspek.

Pertama, aspek kebijakan pengambil keputusan yang memperlemah posisi umat adalah wujud dari pemimpin yang tidak adil, padahal dalam kaidah kepemimpinan menurut Islam tugas Pemimpin adalah “Tasharaful Imam ‘Ala Ro’iyah Manuutun bil Maslahah”, artinya kebijakan pemimpin kepada rakyatnya harus di arahkan pada kemaslahatan umat.

Kedua, aspek struktur sosial yang melahirkan disparitas dalam pengusaan asset dan akses ekonomi. Karea itu Islam selalu menekankan prinsip persamaan di muka hukum, sosial dan pemerintahan.

Islam menolak perbudakan, Islam melawan oligarki politik dan monopoli ekonomi. Bulan Ramadan inilah saat yang tepat kita merefleksi bahkan bertindak agar sistem politik yang oligarkis dan sistem ekonomi yang monopolis ini harus diubah menjadi lebih merata dan adil.

Inspirasi Ramadhan 1440 H

Oleh Ali Masykur Musa

(Ketua Umum PP ISNU-Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini