nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah 3 Pertanyaan Rabi Yahudi ke Nabi dan Asal Muasal Kata Insya Allah

Senin 20 Mei 2019 03:51 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 20 330 2057732 kisah-3-pertanyaan-rabi-yahudi-ke-nabi-dan-asal-muasal-kata-insya-allah-Dsm8feg4Cn.jpg Asal Muasal Kata Insya Allah (Foto: Nu.or.id)

BANYAK tuduhan dan sangkalan terhadap keaslian Alquran sebagai wahyu dari langit. Riwayat pengingkaran Alquran sebagai wahyu telah ada sejak Alquran pertama kali diturunkan hingga kemudian dikodifikasi menjadi mushaf seperti sekarang. Kaum pengingkar menuduh Alquran sebagai karya Muhammad, produk kecerdasan Muhammad dalam menguntai kata-kata prosais.

Allah, sesuai dengan rencana yang dia tulis, tidak menjadikan Muhammad sebagai orang yang berbakat dalam kepenyairan. Muhammad bahkan ditakdirkan sebagai seorang ummi, kurang cakap membaca dan menulis. Pesannya jelas, Muhammad dipersiapkan sebagai pribadi penerima wahyu Alquran.

Ibarat gelas, ia harus kosong. Allah sendiri yang akan mengisinya dengan wahyu dan kabar-kabar dari langit. Muhammad mengetahui sesuatu sejauh diberitahu Allah. Ia tidak membaca sejarah dan menggali cerita-cerita dari masa silam (asathirul awwalin). Ia tahu bahwa dirinya Nabi terakhir dan bahwa sebelum dirinya telah diutus para Nabi, itu karena diberitahu Allah.

Perihal sifat Nabi terakhir ini, Yesus (Nabi Isa AS) dalam Injil Yohannes (16: 13) menggambarkan, “ia (Nabi yang akan datang ini – maksudnya Nabi Muhammad) tidak akan berkata tentang dirinya, namun segala yang dapat ia dengar, itulah yang akan ia katakana.” Muhammad tidak mengatakan sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri. Ia hanya mengatakan apa-apa yang didengar/dikabarkan kepadanya dari langit.

Beliau tidak’sakti’ atau memiliki daya linuwih. Mukjizat yang sempat diperlihatkan Nabi, seperti membelah rembulan dan memancarannya air dari jari-jari beliau, bersifat insidental dan terjadi atas perkenan Allah.

Suatu hari, ketika unta Nabi terlepas dan hilang, orang-orang Yahudi berolok-olok: “Muhammad mengaku berita-berita yang diterimanya berasal dari langit padahal dia tidak tahu dimana untanya berada.”

Nabi menjawab “Aku hanya tahu apa yang diberitahukan Allah kepadaku dan Dia menunjukkan kepadaku bahwa unta itu berada di lembah sempit yang ikatannya tersangkut di sebuah pohon.” Beberapa orang Anshar pergi dan menemukan unta itu persis di tempat yang dikatakan Nabi.

Ada suatu hikayat dalam Alquran yang menegaskan betapa Nabi Muhammad tidak bisa mengontrol wahyu. Wahyu turun atas kehendak Allah dan Nabi tidak bisa mendikte kapan wahyu turun. Suatu ketika, atas saran para rabi Yahudi, para pemuka Quraisy mengajukan tiga pertanyaan sebagai ujian terhadap kebenaran klaim kenabian Muhammad.

Jika Muhammad dapat menceritakan tiga hal itu, kata rabi Yahudi, maka ia memang Nabi yang diutus Tuhan. Jika tidak, maka ia pendusta. Tanyakan kepadanya kisah kelompok pemuda yang meninggalkan kaum mereka pada zaman dahulu dan bagaimana kejadian yang menimpa mereka. Kisah mereka sungguh mengagumkan. Tanyakan pula cerita tentang petualang yang menjelajah hingga ujung bumi di timur dan barat. Lalu tanyakan juga apa itu roh?

Ketika tiga pertanyaan itu diajukan kepada Nabi, beliau menjawab, “Esok akan kujelaskan kepada kalian,” tanpa mengucapkan Insya Allah. Ketika esok hari mereka menuntut jawaban, Nabi tidak dapat menjawabnya. Jibril tidak datang membawa wahyu hingga 15 malam.

Beliau gelisah dan segera tersebar ejekan dari para penentangnya. Para pengikut Nabi juga dalam pertaruhan iman, bagaimana seandainya Nabi tidak mampu menjawabnya, apakah ia memang seorang pendusta? Akhirnya Jibril datang membawa wahyu yang dibuka dengan teguran Tuhan kepada Nabi: “Dan jangan kamu sekali-kali mengatakan terhadap sesuatu, aku akan melakukannya esok, kecuali mengucapkan Insya Allah’ (QS. 18: 23-24). Wahyu kemudian menjawab pertanyaan lebih daripada yang diharapkan.

Jawaban terhadap pertanyaan pertama adalah kisah dalam surat al-Kahfi tentang para pemuda yang bersembunyi di dalam gua dan tertidur selama 300 tahun demi menghindari kaum mereka dijaga oleh anjing yang setia menjulurkan lidahnya di depan pintu gua (QS. 18: 9-25).

Jawaban terhadap pertanyaan kedua termuat dalam QS 18: 93-99 tentang petualang yang bernama Dzul Qarnayn (pemilik dua tanduk) yang diberi kekuasaan oleh Tuhan untuk mengusir Ya’juj dan M’juj serta memenjarakan roh-roh jahat yang menggangu penduduk negeri.

Jawaban terhadap pertanyaan ketiga termuat dalam QS 17: 85, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah roh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kalian diberi pengetahuan kecuali sedikit.”

Cerita ini mengukuhkan kebenaran pernyataan bahwa wahyu turun dari langit dan sama sekali tidak bisa diintervensi Nabi. Bukanlah tidak masuk akal jika Muhammad mengarang wahyu kemudian menangguhkan wahyu lain ketika iman begitu banyak orang dalam pertaruhan? Bagi kaum beriman, kejadian ini menebalkan keyakinan bahwa Alquran adalah wahyu otentik.

Inspirasi Ramadhan 1440 H

Oleh Ali Masykur Musa

(Ketua Umum PP ISNU-Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini