Bayar Zakat ke Sanak Keluarga yang Miskin, Bagaimana Hukumnya?

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 20 Mei 2019 19:00 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 20 614 2058074 bayar-zakat-ke-sanak-keluarga-yang-miskin-bagaimana-hukumnya-SlvXlwIWcY.jpg Bayar zakat sama saudara sendiri, bolehkah? (Foto: Zakat.or.id)

ZAKAT sebagai salah satu dari rukun Islam, adalah salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap umat Muslim yang mampu.

Dalam tata pelaksanaannya, terkadang tidak disangkal kita sebagai pihak yang mampu menunaikan zakat terkadang berpikiran untuk langsung memberi zakat kepada anggota sanak-keluarga yang berstatus sebagai orang tidak mampu.

Namun jika ditelisik dari ilmu agama, sebetulnya bagaimana hukumnya memberikan zakat langsung kepada anggota keluarga yang miskin? Untuk jawaban jelasnya, maka Okezone pun bertanya kepada Ustadz Cecep Maulana.

Dalam penjelasannya, Ustadz Cecep Maulana menjelaskan bahwa soal hukum boleh atau tidaknya memberi zakat pada saudara yang miskin ini harus dilihat dulu soal tanggungan atau tidaknya.

 

“Jadi gini yang tidak boleh dikasih zakat, adalah orang yang menjadi tanggungan. Misalnya saya punya istri dan anak, itu kan tanggungan saya. Tapi kalau misaknya, adik istri saya nih yang mau diberi, dia itu kan sehari-hari enggak saya tanggung makannya, tapi kasarnya dia miskin ya bisa. Intinya boleh, asal yang diberi itu yang sehari-harinya bukan tanggungan kita. Itu ukurannya boleh tidaknya, ukurannya keluarga yang masih tanggungan kita enggak boleh dikasih zakat,” papar Ustadz Cecep Maulana, saat ditemui belum lama ini di bilangan Blok M, Jakarta Selatan.

Lalu bagaimana dengan bentuknya? Ternyata dari zaman Nabi pun, dikisahkan Nabi membiasakan memberikan berbentuk pekerjaan, bukan langsung berbentuk uang. Dengan mencontohkan memberi tali, kepada sahabatnya yang miskin kemudian Nabi menganjurkan sang sahabat untuk mengumpulkan kayu, sampai akhirnya sang sahabat tersebut bisa memiliki penghasilan sendiri dengan menjadi pengusaha kayu bakar.

Senada dengan kisah Nabi Muhammad SAW di atas, lebih lanjut Ustadz Cecep Maulana menerangkan, zakat yang diberikan pada dasarnya idealnya berbentuk makanan.

“Sebaiknya zakat beras atau uang? Jadi begini, aturan dasarya adalah harus berbentuk makanan, makanya ada beda pendapat. Ulama pertama mahzab syafii, membolehkan uang. Tapi ada mahzab lain yang berpendapat engggak boleh bentuk uang,. Harus berbentuk makanan, tp terserah mau pilih yang mana saja. Boleh saja mau uang atau berbentuk makanan. Namun sebaiknya memang berbentuk makanan,” pungkasnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya