nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Sahabat Nabi yang Buruk Rupa tapi Jadi Rebutan Bidadari

Gurais Alhaddad, Jurnalis · Sabtu 01 Juni 2019 01:59 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 01 614 2062758 kisah-sahabat-nabi-yang-buruk-rupa-tapi-jadi-rebutan-bidadari-4LwsZnvkdt.jpg Ilustrasi Sahabat Nabi

BANYAK orang di zaman sekarang memilih pasangan melihat dari tampilan fisik dan harta semata. Padahal dalam Islam tidak diperbolehkan seperti itu, kita harus menerima apa adanya tanpa melihat dari buruk rupa maupun harta, sebab di mata Allah semua sama.

"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian," (HR Muslim).

Seperti kisah sahabat Nabi yang buruk rupa yang dijodohkan dengan wanita cantik, berikut adalah kisahnya dikutip dari berbagai sumber.

Dahulu ada seorang sahabat Nabi bernama Julaibib RA. Dia lahir didunia tanpa mengetahui siapa kedua orangtuanya dan dia tidak mengetahui nasabnya. Bagi masyarakat di zaman itu orang yang tidak memiliki nasab jelas merupakan suatu aib. Julaibib memiliki tampilan fisik bisa dibilang buruk rupa, sehingga karena buruk rupanya jarang ada orang mau mendekatinya.

Julaibib adalah orang yang sangat bertaqwa kepada Allah dan Rasulnya, dia juga adalah salah satu prajurit perangnya nabi Muhammad. Walaupun banyak orang mengucilkan dia tapi tidak dengan Nabi Muhammad. Suatu ketika selesai menjalankan salat Nabi sempat memanggilnya. "Julaibib, tidakah engkau ingin menikah?,"tanya Rasul dengan lembut sambil tersenyum kepadanya. "Siapakah orang yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini Ya Rasulullah?," jawab Julaibib sambil tersenyum. Lalu Rasulullah menjawabnya dengan senyuman.

Julibib menyadari dirinya tidak mempunyai apa-apa dan menurut dia tidak ada seorangpun yang mau menikahkan anaknya untuk dia. Keesokan harinya Nabi Muhammad bertemu lagi dengan Julaibib, Lalu Rasulullah kembali bertanya kepada julaibib "Julaibib, tidakkah engkau menikah?" dengan jawaban yang sama Julaibib menjawab pertanyaan Rasulullah. Sampai pada akhirnya nabi Muhammad menarik tangan Julaibib dan mengajaknya ke suatu rumah pemimpin Anshar yang dikenal mempunyai anak yang sangat cantik.

Setibanya di rumah pemimpin Anshar, Nabi Muhmmad bertemu dengan ayah dari wanita yang cantik itu dan Rasulullah mengatakan."Aku ingin menikahkan putri kalian," kata Rasulullah pada si pemilik rumah. Melihat perkataan Rasulullah yang ingin menikahi anaknya sang pemimpin Anshar itu pun senang "Betapa indahnya dan betapa berkahnya," Jawaban pemimpin Anshar dengan wajah yang senang, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. "Ya Rasulullah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami." 

"Tetapi bukan untukku, Melainkan untuk Julaibib," ujar Rasulullah. Sang pemimpin Anshar itupun kaget mengetahui bahwa anaknya akan dinikahi oleh laki-laki buruk rupa yang tidak diketahui nashabnya dan langsung mengatakan bahwa dia harus mempertimbangkan dengan istrinya. "Ya Rasulullah. Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini," kata pemimpin Anshar.

"Dengan Julaibib?", istrinya menjawab, "Bagaimana bisa? Julaibib berwajah jelek, tidak bernasab, tidak berkabilah, tidak berpangkat, dan tidak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib".

Mendengar perdebatan itu sang perempuan yang cantik anak dari pemimpin Anshar itupun keluar. dan mengatakan "Siapa yang meminta?" lalu Sang ayah dan sang ibunya pun menjelaskan. Perempuan yang cantik ini memang dikenal salehah yang sangat mengerti dengan agama.

"Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan membawa kehancuran dan kerugian bagiku". Perempuan salehah itu lalu membaca ayat (yang artinya): "Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata". (QS. Al-Ahzab: 36)

Mendengar jawaban dari perempuan cantik nan soleha itu nabi Muhammad pun tertunduk lalu mendoakan sang perempuan itu. “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Jangan kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah,"

Maka benarlah doa Nabi Muhammad. Tak lama kemudian Allah karuniakan jalan keluar baginya. Kebersamaan di dunia ternyata tidak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri salehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukan Julaibib di Surga. Julaibib, sahabat Nabi yang buruk muka, lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang tidak bersahabat padanya.

Setelah pernikahan dengan perempuan cantik Julaibib ikut perang dengan Rasulullah. dan Julaibib pun menjadi salah satu korban yang meninggal dalam peperangan itu. Saat syahid di medan perang, Rasulullah begitu kehilangan sosok Julaibib. Pada akhir pertempuran, Nabi Muhammad bertanya "Apakah kalian kehilangan seseorang?"

"Tidak Ya Rasulallah" serempak sahabat menjawab. Sepertinya Julaibib memang tidak berarti di kalangan mereka.

"Apakah kalian kehilangan seseorang?," tanya Rasulullah kembali. Nabi SAW bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu. "Tidak Ya Rasulallah". Kali ini sebagian menjawab dengan was-was, beberapa orang menengok ke kanan dan ke kiri. 

Rasulullah menghela nafasnya. "Tetapi aku kehilangan Julaibib," kata beliau. Para sahabat tersadar, "Carilah Julaibib!"

Maka Julaibib yang mulia pun ditemukan. Ia terbunuh dengan luka-luka di sekujur tubuh dan wajahnya. Di sekitar jasadnya, ada tujuh jasad musuh telah ia bunuh. Rasulullah dengan tangannya sendiri mengkafani Julaibib. Beliau mensalatkannya dan berdoa, "Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya," kata Rasulullah.

Saat Julaibib selesai dimakamkan, terjadilah peristiwa yang menakjubkan. Rasulullah menangis air matanya menetes sembari memandang ke langit dan tersenyum. Lalu membuang pandangannya ke samping seraya menutup mata dengan telapak tangannya.

Para sahabat yang melihat kejadian itu terheran-heran lantas bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis di pusara Julaibib?”

“Aku menangis karena mengingat Julaibib, hari ini dia memintaku merestuinya untuk menikah. Semestinya hari ini dia tengah bahagia bersama istrinya. Namun, hari ini juga ia telah tiada,” jawab Rasulullah.

“Lantas tadi kenapa engkau tersenyum?” tanya salah seorang sahabat.

“Saat memandang langit, aku melihat para bidadari turun untuk menjemput Julaibib,” jawab Rasulullah. “Tapi mengapa lantas engkau membuang pandangan ke samping? Apa yang engkau lihat ya Rasulullah?”

“Bidadari yang menjemput Julaibib begitu banyak. Mereka saling berebut. Ada yang meraih tangannya dan ada pula yang meraih kakinya, sehingga salah satu dari bidadari itu tersingkap kainnya dan terlihat betisnya,” kata Nabi Muhammad SAW. Wallahu a'lam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini