nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Awalnya Merasa Jadi Perempuan Kotor, Akhirnya Aku Hijrah karena Teman Tinder

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 06 Juli 2019 00:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 05 614 2075220 awalnya-merasa-jadi-perempuan-kotor-tapi-akhirnya-aku-hijrah-karena-teman-tinder-oIHpD2fNpo.jpg Ilustrasi pernikahan (Foto : Muslimgirl)

RENCANA Allah SWT tidak akan pernah buruk. Apa yang telah dituliskan-Nya, akan menjadi keputusan terbaik. Begitu juga masalah kehidupan.

Nini (bukan nama asli) sadar betul apa yang sekarang dia jalani adalah ketetapan Allah dan tak ada yang bisa membantahnya. Melihat kembali ke masa lalu yang bisa dikatakan tak begitu baik, memnbuat Nini pun semakin bersyukur dengan hidupnya sekarang yang telah hijrah.

Pada Okezone, Nini menceritakan bagian dari hidupnya yang tak pernah bisa tergantikan; proses hijrah dan menikah dengan teman Tinder-nya. Dua hal ini dia dapatkan lewat satu sosok pria yang sekarang menjadi suaminya dan berikut kisahnya

Dulu Aku Perempuan "Kotor"

Istilah itu mungkin terlalu kasar didengar, tapi jika dimaknai secara luas, akan tepat diberikan padaku. Bagaimana tidak, pasca menjalin hubungan pacaran selama 4 tahun, aku download Tinder dan berpetualang.

Ya, bertemu dengan pria baru menjadi salah satu hal yang asyik untukku. Terlebih, aku ini bosanan, jadi ketika datang seorang pria dengan kisah hidupnya yang baru, aku akan sangat senang mendengar dan mengetahuinya.

infografis aplikasi

Aplikasi pencarian teman itu aku manfaatkan juga untuk jejaring sosial. Teman bule harus didapatkan dan benar saja. Ada beberapa teman bule yang kecantol dengan profil Tinderku yang masih menampilkan foto seksi.

Teman bule pertamaku asal Ekuador. Dia seniman dan menetap di Bandung, Jawa Barat. Komunikasi kita berjalan baik, sampai suatu momen aku memberanikan diri bertemu dia di Bandung. Ya, senekat itu.

Pertemanan berlanjut pasca aku kembali ke Jakarta. Namun, memang ada yang berubah setelah itu. Aku tak anggap serius, toh masih ada pria lain yang bisa aku dapatkan di Tinder. Dan benar saja, aku bertemu dengan seorang model bule di Tinder.

kencan online yuk

Senang sekaligus penasaran menjadi satu. Banyak hal yang ada di otakku setelah 'match' dengan model yang satu ini. Masalah ranjang pun menjadi bagian dalam hal yang aku pikirkan.

Komunikasi berjalan baik. Sampai suatu ketika aku diajak main ke apartemennya. Otak liarku muncul dan benar saja hal tersebut terjadi. 

Setelah itu, kembali, komunikasi aku dan bule Tinder berjalan baik. Sampai akhirnya aku tahu dia sudah punya pacar yang juga seorang model, bikin aku drop. Tapi, aku ditenangkan dengan pernyataan dia, "Hidup hanya sekali, do what makes you fun," katanya. Mendengar kalimat itu bukannya membuat aku sedih, malah senang. Ini waktunya aku bebas!

Aku pun melebarkan jaring pertemanan di Tinder. Banyak teman pria yang aku dekati dan akhirnya ada yang jadi pacar. Tapi sayang, hubungan itu tak bertahan lama. Sampai akhirnya, di Juli 2018, aku 'match' dengan seorang pria dewasa yang bekerja di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Tidak tahu bagaimana, aku merasa si pria ini punya sesuatu yang berbeda. Ada hal besar yang dia miliki dan itu adalah agama. Ya, aku bertemu pria religius di aplikasi Tinder yang membuatku berpikir untuk hijrah, percaya?

Awal Perkenalanku dengan Pria Religius

Banyak dari Anda pasti tak percaya kalau aku benar-benar bertemu pria religius di Tinder? Tapi, satu yang bisa aku sampaikan, masih ada pria baik di Tinder.

Image Tinder yang selama ini dipercaya masyarakat runtuh setelah aku mengenal sosok pria ini. Dia sedari awal sudah bilang ingin mencari istri dan itu kenapa cara dia nge-treat sangat berbeda dari pria Tinder lainnya yang pernah aku temui.

Di awal-awal kenal, sosok ini selalu mengingatkan aku untuk jagan lupa Salat. Selain itu, kehidupan aku yang selama ini terbilang "bebas" mulai diperhatikan dan diperbaiki dia.

Risih adalah respon pertama aku kala itu. Dia adalah orang asing dan sudah berani mengatur hidupku. Aku yang keras kepala ini pun sempat kesal dibuatnya dan pertengkaran pun sering muncul karena hal tersebut.

Perlu Anda tahu, tak butuh waktu lama sampai akhirnya pria ini mengajakku ketemu langsung. Ajakan itu aku iyakan karena aku juga lebih menyukai pria yang langsung minta ketemu dibanding mengobrol terlalu panjang tapi tak ada pergerakan untuk bertemu langsung.

cincin pernikahan

Kita bertemu saat itu di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Obrolan kopi darat pertama seperti sangat template memang. Tapi, menariknya, aku merasa dia benar-benar serius menjalani hubungan ini. Dia benar-benar ingin aku menjadi istrinya.

Berjalan beberapa hari, akhirnya kejelasan status itu aku dapat. Kita berkomitmen bersama. Bahkan, aku tak menyangka kalau di hari ulang tahun, aku diberikan hadiah cincin. Aku sendiri yang memilih cincinnya.

Hubungan semakin dalam. Aku diperlihatkan bagaimana kehidupan sosok pria ini dan bagaimana ke-religiusan-nya itu tak main-main. Sampai suatu ketika aku diajaknya untuk ikut kajian di kawasan Blok M.

Kajian pertamaku membahas poligami. Bukannya bahagia, aku malah kesal. Aku marahi pria itu karena, 'apa maksudnya ngajak aku ke kajian yang isinya kayak gini?'. Aku datang ke kajian itu bersama dia dan ibunya. Aku cerita juga kekesalanku ke ibunya dan calon mertuaku ada di pihakku.

Namun, lagi-lagi, cara pria itu menenangkanku membuat aku luluh. Aku dijelaskan makna poligami itu sendiri dan aku memahaminya.

Titik Aku Hijrah dan Dinikahi

Hubungan aku dan pria ini semakin serius dan obrolan masalah menikah sudah biasa kita bicarakan. Namun, terlepas dari itu aku juga mendapatkan hal baru dalam dirinya.

Aku merasa Allah telah mengetuk hati aku melalui pria ini. Tak lama setelah kajian pertama, aku mulai introspeksi diri. Aku memutar kembali memoriku selama ini. Begitu jauh dari Allah SWT.

Namun, keyakinan aku mengenakan hijab belum muncul. Sampai suatu momen di mana aku diberikan pemahaman mengenai makna aurat bagi seorang perempuan, aku merasa memang ini waktunya. Aku hijrah saat itu!

Aku coba pergi kerja mengenakan hijab. Cibiran datang, tapi aku tahu itu maksudnya bercanda. Aku sikapi dengan santai dan aku tetap yakin dengan pilihan ini.

perempuan muslim hijab

Aku pun langsung menceritakan momen pertamaku berhijab ke priaku. Dia tanya, "Apakah ini benar kehendak kamu? Aku nggak mau kamu hijrah karena aku. Kamu hijrah harus karena kehendak kamu dan karena Allah," katanya. Aku jawab iya, aku hijrah karena Allah.

Setelah dari itu, banyak hal luar biasa yang aku alami, termasuk perubahan karakter diri. Ya, selama aku tidak mengenakan hijab, sikap aku ke orangtua cukup kasar, lalu pakaian aku terlalu seksi, dan aku terlalu mementingkan mendapatkan perhatian dari orang lain. Hal itu mulai berkurang saat aku berhijab.

pasangan menikah

Aku bersyukur dengan hal itu. Terlebih, pria ini kemudian mengajak aku menikah. Tunangan pun dilakukan dan berselang 3 bulan setelah diikat, aku menikah dengannya.

Kini, aku semakin sadar kalau Allah SWT benar-benar baik padaku. Dia tak membiarkan aku terlena dengan dunia dan aku dipertemukan dengan sosok pria ini. Pria yang bisa membawa aku ke arah yang lebih baik dan aku bersyukur dengan semua itu.

Aku sadar masih belum menjadi istri yang terbaik untuk suamiku. Tapi setidaknya dia melihat aku berubah ke arah baik dan itu salah satunya berkat dia. Aku mensyukuri Allah memberikan jalan hidup seperti ini. (hel)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini