nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perang Sabil, Bentuk Nasionalisme Pangeran Diponegoro

Jum'at 26 Juli 2019 18:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 26 614 2083843 perang-sabil-bentuk-nasionalisme-pangeran-diponegoro-StVTJ5cKuw.jpg Pangeran Diponegoro (Foto: Ist)

Mengenal Pangeran Diponegoro tidak bisa lepas dari peristiwa bersejarah, yakni Perang Sabil atau yang juga dikenal sebagai Perang Jawa (De Java Oorlog van 1825-1830). Peristiwa itu banyak disebut menjadi tonggak sejarah perang di bawah panji syariat Islam di Tanah Jawa.

  Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi

Seperti dilansir NU Online, Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi mengatakan, Diponegoro merupakan seorang yang masuk kategori radikal kritis dan bukan radikal fundamentalis. Sebab Dipongoro saat Perang Sabil menggunakan simbol-simbol agama dan ayat-ayat Alquran untuk menuntut keadilan kepada penjajah yang zalim.

Namun, terang Zastrouw, tidak dibenarkan kalau ada kelompok yang ingin menegakkan negara Islam atau khilafah dengan memakai spirit Diponegoro.

"Ini kalau kita salah menjelaskan, ini bisa menjadi inspirasi kaum Wahabi bahwasanya 'iki kudu diberontak iki', padahal dulu yang diberontak (oleh Diponegoro) itu Londo (Belanda), bukan pemerintahan yang sah (seperti Indonesia), yang beragama Islam," kata Zastrouw.

Hal tersebut diungkapkan pada peluncuran buku Jejaring Ulama Diponegoro: Kolaborasi Santri dan Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Awal Abad ke-19 karya Zainul Milal Bizawie di Auditorium 2 Gedung Perpusnas RI, Jakarta Pusat, Kamis (25/7).

Dalam kesempatan itu, Zastrouw menjelaskan ciri-ciri radikal kritis. Pertama, menjadikan ayat dan simbol agama untuk melakukan perlawanan menuntut keadilan. "Jadi tujuannya bukan untuk fundamentalis, mendirikan khilafah, dan menegakkan syariat, bukan itu."

Kedua, tokohnya berasal dari lokal dan mengadopsi tradisi dan kebudayaan yang ada. Ketiga, merajut kekuatan-kekuatan lokal ini bukan dari bagian gerakan transnasional.

"Ini yang membedakan Diponegoro dengan gerakan fundamentalis. Meskipun sama-sama pakai agama, sama-sama pakai simbol ayat, tetapi spirit yang ada di dalamnya bukan untuk fundamentalisme agama, tetapi kritisisme agama, sehingga dia menjadi 'Bapak Nasionalisme Indonesia' sebelum gerakan nasionalisme yang dipelopori oleh para ex pendidikan Eropa itu," ucapnya.

Menurut pria yang suka memakai blangkon tersebut, Perang Sabil merupakan bentuk nasionalisme Diponegoro. Nasionalisme itu terbentuk atas bacaannya yang luas dan menggabungkan antara khazanah Arab dan kenusantaraan.

Seperti dilansir NU Online, Diponegoro disebut mempelajari kitab-kitab kuning klasik, seperti Al-Ghayah wat Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja, Nasihatul Mulk karya Imam Ghazali, Muharrar karya Imam Al-Fara'i, dan Lubabul Fiqih karya Al-Mahalli, dan Tajus Salatin.

Selain itu, Diponegoro juga mengkaji kitab-kitab kejawaan, yakni Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa, Joyo Lengkoro Wulang, dan Bongo Suwiryo. "Sehingga dia bisa mempertautkan antara khazanah klasik kitab-kitab kuning warisan kebudayaan Arab, pemokiran Timur Tengah dengan khazanah kenusantaraan Indonesia, dan dia rajut menjadi suatu spirit perjuangan nasionalisme," bebernya.

Diponegoro, lanjutnya, menyatukan ulama, ksatria, pendeta, dan seluruh lapisan masyarakat karena beliau mempunyai kapasitas untuk itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini