nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gus Muwafiq Ingatkan, Jangan Jadikan Harta sebagai Sandaran Pernikahan!

Intan Afika, Jurnalis · Minggu 04 Agustus 2019 14:37 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 04 614 2087472 gus-muwafiq-ingatkan-jangan-jadikan-harta-sebagai-sandaran-pernikahan-pxDNZxYSl3.jpg Jangan jadikan kekayaan sebagai sandaran pernikahan (Foto: Words)

Dua orang insan dalam sebuah pernikahan adalah perkara yang sangat diperhatikan dalam syariat Islam. Bahkan telah dianjurkan untuk serius dalam permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan candaan atau main-main. Soal nikah merupakan masalah yang serius dalam Islam.

Sandaran pernikahan adalah Allah SWT

Bahkan Rasulullah bersabda, “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan rujuk.” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali An Nasa’i. Dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah)

Dalam hadist tentang memilih jodoh dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata, “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung."

Berdasarkan hadist di atas, pada umumnya seorang perempuan dinikahi oleh pria karena empat alasan, jika tidak karena hartanya, pasti karena kedudukannya, atau karena kecantikannya, atau karena agamanya. Demikianlah pada umumnya, seseorang tidak terlepas dari keempat hal ini ketika hendak menikahi wanita. Walaupun begitu, bukan berarti keempat hal tersebut bisa dijadikan sandaran dalam pernikahan.

Dalam sebuah video, salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Sleman, K.H. Ahmad Muwafiq atau yang lebih dikenal dengan Gus Muwafiq mengatakan, cantik, ganteng, pangkat dan kaya tidak bisa dijadikan sandaran pernikahan. Sebab jika menyandarkan pernikahan kepada hal-hal duniawi tersebut, tentu pernikahan tidak akan berlangsung dengan langgeng.

"Cantik apa bisa menjadi sandaran keindahan pernikahan? Tidak. Kalau cantik bisa menjadi sandaran pernikahan, tidak mungkin Ayu Ting-ting cerai. Cantiknya tidak umum dia. Tidak mungkin Tamara Blezinski sama Rafli cerai. Cantik dan ganteng itu. Artis-artis, kalau cantik menjadi sandaran pernikahan, tidak ada artis cerai," ujar Gus Muwafiq dalam sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @ulama.nusantara beberapa waktu lalu.

Sementara orang-orang yang menikah hanya karena memandang harta calonnya dengan harapan harta itu kelak menjadi miliknya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang sangat merugi. Sebagaimana dikatakan bahwa “Siapa saja yang menikahi seorang wanita karena melihat harta bendanya, maka Allah SWT akan menambahkan baginya kemelaratan.”

"Harta. Apakah harta bisa dijadikan sandaran pernikahan yang kuat? Tidak bisa. Kalau harta bisa jadi sandaran pernikahan yang kuat, tidak mungkin Bambang Triatmojo sama Halimah anaknya Pak Harto cerai," ujar Gus Muwafiq.

Selain itu seorang Muslim yang menikah bukan karena memandang akhlak atau agama calon pasangannya, melainkan karena tingginya kedudukan pangkat dan derajat yang mulia dalam pandangan sesama manusia maka ia akan mendapatkan kebalikannya dari Allah SWT yaitu sebuah kerendahan.

Dalam hadis riwayat At-Thabrani Rasulullah SAW mewanti-wanti umatnya agar meluruskan niat dalam mengarungi pernikahan. Bahkan mencela orang yang menikahi wanita karena melihat kekayaannya. Sabda beliau: “Barang siapa menikahi wanita karena memandang kedudukan, maka Allah tidak akan menambah padanya kecuali kehinaan. Dan barang siapa menikahi wanita karena hartanya, maka Allah akan menjadikannya melarat.” (HR. Thabrani)

"Jabatan? Apa bisa jadi sandaran pernikahan? Tidak bisa. Kalau kekayaan dan jabatan bisa jadi sandaran pernikahan, tidak mungkin Lady Diana dulu cerai dengan Pangeran Charles," ujar Gus Muwafiq.

Maka dari itu Gus Muwafiq menegaskan bahwa ikatan suatu pernikahan harus disandarkan kembali kepada Allah. Pernikahan juga harus diniatkan untuk mencari ridha Allah agar mendapatkan keberkahan dan usia pernikahan yang langgeng serta terus berkesinambungan.

"Jadi sandarkan kembali kepada Allah. Kalau sandarkan kembali kepada Allah, maka kamu ketemu namanya Wahdatul Maqsud. Apa-apa punya maksud yang sama ke Gusti Allah. Kalau kamu sandarkan, kalian berdua ya, Nak, ke Gusti Allah. Sewaktu-waktu ada perkara kembalikan ke Gusti Allah. Insya Allah kuat," lanjutnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini