nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

4 Jenis Jiwa dalam Diri Manusia, Kamu Masuk yang Mana?

Mayang Rizquita Octovianka, Jurnalis · Selasa 20 Agustus 2019 00:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 19 616 2093997 4-jenis-jiwa-dalam-diri-manusia-kamu-masuk-yang-mana-GnMHIxdFq4.jpg Terdapat 4 jenis jiwa dalam diri manusia (Foto: Helltruth)

Setiap manusia pasti memiliki jiwa. Dalam Bahasa Arab, jiwa dikenal dengan istilah nafs. Nafs sendiri memiliki banyak arti, sehingga kita harus benar-benar paham untuk dapat menggunakan kata tersebut secara benar. Dalam Alquran dijelaskan terdapat 4 jenis jiwa dalam diri manusia dan kata nafs sendiri disebutkan sebanyak 160 kali.

Dikutip dari buku Fenomena Kejiwaan Manusia Dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sains yang diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, kata nafs terkadang bermakna spesies manusia (berarti bersifat fisik), kadang bersifat rohani saja, dan kadang dikesankan bahwa jiwa itu kekal.

Dzikir untuk menenangkan jiwa

Kata nafs dalam Alquran juga terkadang berarti dorongan jiwa atau syahwat. Di dalam Alquran juga dijelaskan beberapa jenis dorongan jiwa sesuai kecenderungannya, yaitu :

1. An-nafs al-ammarah bi as-su' (dorongan jiwa untuk berbuat buruk), seperti yang sudah disebutkan dalam Alquran melalui surat Yusuf ayat 53 yang bunyinya :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya : Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Menurut az-Zamakhsyariy, kata an-nafs pada ayat ini bermakna jenis kelamin, yaitu bahwa jenis kelamin laki-laki dan perempuan itu menimbulkan syahwat yang dapat membawa kepada keburukan.

Oleh karena itu perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim tidak dianjurkan untuk berduaan, karena hal tersebut dapat mengundang nafsu (jiwa)untuk melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan.

2. An-nafs al-lawwamah (jiwa yang menyesal karena melakukan maksiat)

Untuk menjelaskan An-nafs al-lawwamah, Allah SWT berfirman dalam surat al-Qiyamah ayat 1-2 yang bunyinya : لا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ (١) وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (٢)

Artinya : Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).

Menurut az-Zamakhsyariy, jiwa-jiwa manusia akan menyesali diri pada hari kiamat karena sedikitnya takwa mereka kepada Allah saat di dunia.

Sementara itu, M. Quraish Shihab (2002, 9:167) menjelaskan semua orang akan menyesal pada hari kiamat karena tidak menggunakan seluruh kesempatan hidup di dunia untuk berbuat baik. Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa an-nafs al-lawwamah berposisi di antara an-nafs al-mutma'innah dan an-nafs al-ammarah bi as-su'.

Sebagai manusia, kita dianjurkan agar selalu berbuat kebaikan dan menghindari segala prilaku buruk agar terhindar dari jiwa yang menyesal karena telah melakukan maksiat.

3. An-nafs al-mutma'innah

Allah berfirman dalam surat al-Fajr ayat 27-28 yang bunyinya :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾

Artinya : Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.

Menurut az-Zamakhsyariy, seruan irji'i berarti ketika seseorang menemui kematiannya,atau ketika dibangkitkan dari kubur, atau ketika roh seseorang tersebut akan masuk surga.

Sedikit berbeda dengan az-Zamakhsyariy, M.Quraish Shihab mengatakan kata irji'i pada ayat tersebut merujuk pada waktu ketika jiwa akan meninggalkan jasadnya, atau ketika seseorang meninggal dunia, atau ketika dibangkitkan dari alam kubur.

4. An-nafs al-mulhamah (jiwa yang diilhami)

Seperti yang disebutkan dalam firman Allah SWT pada surat asy-Syams ayat 8 yang bunyinya: فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Artinya : Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.

Menurut M.Quraish Shihab (2002: 15: 297-299) bahwa ilham berbeda dari wahyu. Menurut Shihab, ilham adalah semacam intuisi, pemberitahuan langsung dari Allah SWT bahwa suatu perbuatan itu baik atau buruk.

Selain az-Zamakhsyariy dan M. Quraish Shihab, Al-Gazally juga memberikan pemahamannya mengenai jiwa atau nafs. Selain seorang rohaniawan, Al-Gazally juga menghabiskan hidupnya sebagai seorang sufi terkemuka.

Menurut Al-Gazally, jiwa (nafs) itu terdapat tiga macam. Pertama, an-nafs al-ammarah, yaitu nafs yang selalu menyuruh pada kejahatan dan nafs semacam ini berada pada tingkat paling bawah.

Kedua, an-nafs al-lawwamah, yaitu nafs yang sudah meningkat ke arah yang lebih baik dan tunduk kepada hati nurani yang selalu membisikkan kebenaran. Ketiga, an-nafs al-mutma'innah, yaitu nafs yang tenang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini