2. An-nafs al-lawwamah (jiwa yang menyesal karena melakukan maksiat)
Untuk menjelaskan An-nafs al-lawwamah, Allah SWT berfirman dalam surat al-Qiyamah ayat 1-2 yang bunyinya : لا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ (١) وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (٢)
Artinya : Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).
Menurut az-Zamakhsyariy, jiwa-jiwa manusia akan menyesali diri pada hari kiamat karena sedikitnya takwa mereka kepada Allah saat di dunia.
Sementara itu, M. Quraish Shihab (2002, 9:167) menjelaskan semua orang akan menyesal pada hari kiamat karena tidak menggunakan seluruh kesempatan hidup di dunia untuk berbuat baik. Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa an-nafs al-lawwamah berposisi di antara an-nafs al-mutma'innah dan an-nafs al-ammarah bi as-su'.
Sebagai manusia, kita dianjurkan agar selalu berbuat kebaikan dan menghindari segala prilaku buruk agar terhindar dari jiwa yang menyesal karena telah melakukan maksiat.
3. An-nafs al-mutma'innah
Allah berfirman dalam surat al-Fajr ayat 27-28 yang bunyinya :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾
Artinya : Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.
Menurut az-Zamakhsyariy, seruan irji'i berarti ketika seseorang menemui kematiannya,atau ketika dibangkitkan dari kubur, atau ketika roh seseorang tersebut akan masuk surga.
Sedikit berbeda dengan az-Zamakhsyariy, M.Quraish Shihab mengatakan kata irji'i pada ayat tersebut merujuk pada waktu ketika jiwa akan meninggalkan jasadnya, atau ketika seseorang meninggal dunia, atau ketika dibangkitkan dari alam kubur.