nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mana yang Benar, Silaturahmi atau Silaturahim? Ini Penjelasan Gus Baha

Novie Fauziah, Jurnalis · Senin 16 September 2019 13:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 16 330 2105371 mana-yang-benar-silaturahmi-atau-silaturahim-ini-penjelasan-gus-baha-T1QNd6kBSX.jpg Gus Baha. Foto: dok.NU

DALAM kehidupan sehari-hari sering ditemukan ucapan silaturahmi. Untuk maksud yang sama, sebagian orang menyebutkan sebagai silaturahim. Lalu muncul pertanyaan, pengucapan mana yang benar di antara silaturahmi dan silaturahim? Ulama NU, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskannya dalam video ketika dia tengah memberikan kajian kepada para Tenaga Keraja Indonesia (TKI) di Korea Selatan.

Gus Baha menjelaskan pengucapan silaturahmi dalam bahasa Arab dan Jawa itu berbeda, namun maknanya sama. "Kalau bahasa Arab itu bisa berbeda dengan bahasa Jawa. Tapi kalau tasrifan tetap sama. Silaturahim itu dari isim fail (artinya) menyambung kepada orang yang kamu sambungkan. Pokoknya bahasa itu benar semua," ujar Gus Baha.

Menurutnya, itu adalah suatu hal yang ringan karena silaturahmi dan silaturahim secara bahasa sama. Kada dia, yang terpenting makna sebenarnya, yaitu menyambung unsur pada rahim.

Rasulullah SAW membagi silaturahmi kepada tiga bagian yang berhak. Yaitu hak saudara, hak tetangga, hak orang yang seagama atau seiman.

"Makannya, kata Nabi silaturahmi itu ada tiga. Ada orang yang punya tiga hak, yaitu dia keluarga kamu, dia tetanggamu, dia seagama denganmu," kata Gus Baha.

Dilansir dari laman NU Online, Silaturahmi secara syariat merupakan amalan utama karena dapat menyambungkan semua yang telah terputus. Kemudian terdapat juga keutamannya, yaitu memperpanjang umur dan memperluas rezeki.

Rasulullah SAW bersabda:

Laysa al-muwashil bil mukafi’ wa lakin al-muwwashil ‘an tashil man qatha’ak.

Artinya:

"Bukanlah bersilaturrahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturrahim adalah yang menyambung apa yang putus.” (HR Bukhari).

Hadist di atas menjelaskan, bahwa silaturahmi/silaturahim dapat menyambung apa-apa yang telah terputus. Khususnya dalam hubungan antar manusia (hablum minannas), karena manusia tidak akan terlepas dari dosa dan kesalahan lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini