Anggota DPR Punya Tiga Istri, Bagaimana Aturannya dalam Islam?

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 02 Oktober 2019 19:33 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 02 330 2112110 anggota-dpr-punya-tiga-istri-bagaimana-aturannya-dalam-islam-pFxfDveAzZ.jpg Anggota DPR dengan tiga istrinya (Foto: Inst)

Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Timur III, Lora Achmad Fadil Muzakki Syah atau akrab disapa Lora Fadil mempunyai tiga istri. Ia memboyong ketiga istrinya ke Senayan untuk menghadiri pelantikannya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan.

 Anggota DPR dengan tiga istrinya

Dalam unggahan fotonya tersebut, tampak tiga istri Lora Fadil akur. Terlebih, semuanya mengenakan pakaian bernuansa biru yang serasi. Oleh karenanya, foto tersebut menjadi perbincangan netizen di sosial media.

Lalu bagaimana aturan membina istri lebih dari satu?

Ustadz Abdul Malik mengatakan, para istri ini nampak akur karena suami ini bisa berlaku adil. Dalam Islam pun diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu.

"Selama bisa adil dalam berbagai rasa dan nafkah lahir batin, dalam Islam dibolehkan. Tetapi diksi adil itu yang debatable, yakni nashnya membolehkan dengan syarat dan prasyarat yang tak ringan," katanya saat dihubungi Okezone, Rabu (2/10/2019).

Sedangkan menurut Dai Kondang Indonesia, Ustadz Abdurrohman Djaelani (Udjae), secara hukum Islam tidak ada masalah jika menikahi perempuan lebih dari satu orang.

Namun, terangnya Udjae, dalam pernikahan harus melihat sisi kebiasaan di suatu tempat atau daerah. Pro dan kontra tentunya selalu muncul, yakni ketika seorang pria akan berpoligami.

"Tinggal kita mengambil sikap yang mana. Kan jelas ada ayatnya," katanya.

Seperti terkandung dalam surat An-Nisa ayat 3, berbunyi:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

Wa in khiftum allā tuqsiṭụ fil-yatāmā fangkiḥụ mā ṭāba lakum minan-nisā`i maṡnā wa ṡulāṡa wa rubā', fa in khiftum allā ta'dilụ fa wāḥidatan au mā malakat aimānukum, żālika adnā allā ta'ụlụ

Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Sementara itu dilansir dari situs NU online, perihal poligamu para ulama berbeda pendapat. Termasuk madzhab-madzhab yang tentunya membahas tentang prktik ini, dan terbagi ke dalam dua

1. Imam Syafii dan Hambali

Keduanya cukup menutup pintu atau jalan adanya praktik poligami. Ini dikarenakan khawatir akan adanya ketidakadilan dalam berumahtangga, yaitu antara para istri. Serta, tidak sama sekali menganjurkan berpoligami.

2. Hanafi

Sementara dari kalangan Hanafi menyatakan, mubah atau diperbolehkan untuk berpoligami. Yakni dengan syarat, pelaku parktik ini (suami) dapat berbuat adil pada istri-istrinya.

ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ لاَ يَزِيدَ الرَّجُل فِي النِّكَاحِ عَلَى امْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ ظَاهِرَةٍ ، إِنْ حَصَل بِهَا الإِعْفَافُ لِمَا فِي الزِّيَادَةِ عَلَى الْوَاحِدَةِ مِنَ التَّعَرُّضِ لِلْمُحَرَّمِ ، قَال اللَّهُ تَعَالَى وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ، وَقَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ يَمِيل إِلَى إِحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَدُ شِقَّيْهِ مَائِلٌ"... وَيَرَى الْحَنَفِيَّةُ إِبَاحَةَ تَعَدُّدِ الزَّوْجَاتِ إِلَى أَرْبَعٍ إِذَا أَمِنَ عَدَمَ الْجَوْرِ بَيْنَهُنَّ فَإِنْ لَمْ يَأْمَنِ اقْتَصَرَ عَلَى مَا يُمْكِنُهُ الْعَدْل بَيْنَهُنَّ ، فَإِنْ لَمْ يَأمَنْ اقْتَصَرَ عَلَى وَاحِدَةٍ لِقَولِه تَعَالَى فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

Artinya: "Bagi kalangan Syafiiyah dan Hanbaliyah, seseorang tidak dianjurkan untuk berpoligami tanpa keperluan yang jelas (terlebih bila telah terjaga [dari zina] dengan seorang istri), karena praktik poligami berpotensi menjatuhkan seseorang pada yang haram (ketidakadilan). Allah berfirman, Kalian takkan mampu berbuat adil di antara para istrimu sekalipun kamu menginginkan sekali.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang memiliki dua istri, tetapi cenderung pada salah satunya, maka di hari Kiamat ia berjalan miring karena perutnya berat sebelah.’ ...Bagi kalangan Hanafiyah, praktik poligami hingga empat istri diperbolehkan dengan catatan aman dari kezaliman (ketidakadilan) terhadap salah satu dari istrinya. Kalau ia tidak dapat memastikan keadilannya, ia harus membatasi diri pada monogami berdasar firman Allah, ‘Jika kalian khawatir ketidakadilan, sebaiknya monogami,’” (Lihat Mausu’atul Fiqhiyyah, Kuwait, Wazaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, cetakan pertama, 2002 M/1423 H, juz 41, halaman 220).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya