nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Hukum Perempuan Dibonceng Laki-Laki yang Bukan Mahram

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 11 Oktober 2019 10:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 11 330 2115584 ini-hukum-perempuan-dibonceng-laki-laki-yang-bukan-mahram-y0ppAX6NpQ.jpg Ilustrasi. Foto: Screenshoot dari akun Youtube

PADA masa ini sangat mudah ditemukan perempuan naik motor dibonceng laki-laki yang bukan mahram. Contohnya driver ojek yang membawa penumpang berjenis kelamin wanita, atau muda-mudi naik motor jalan-jalan keliling kota.

Dai kondang Ustadz Abdurrohman Djaelani (Udjae) mengatakan ada kemungkinan terjadi sentuhan antara penumpang perempuan dengan laki-laki pembonceng yang bukan mahram tersebut. Apalagi jika pemotor itu mengajak penumpangnya mengobrol sambil merekamnya lewat Hp (nge-vlog), untuk kemudian diunggah ke media sosial.

"Apalagi sekarang banyak ojek-ojek yang mereka itu bikin video lah, segala macam. Terus disimpan di youtube. Diajak ngobrol penumpangya, ya dengan bahasa, kalimat-kalimat rayuan. Walau tujuannya bercanda, tapi kan itu bisa jadi fitnah juga," tuturnya, Jumat (11/10/2019).

Lebih lanjut, bagaimana sebenarnya hukum membonceng wanita yang bukan mahram?

Udjae mengatakan apabila laki-laki dan perempuan bersentuhan maka akan berakibat dosa. Oleh karena itu ia meminta pemotor laki-laki atau perempuan yang hendak dibonceng berhati-hati.

"Bagi orang yang berhati-hati dan menjaga agama maka tidak akan pernah mereka mau melakukan itu karena yang dikhawatirkan tadi, bahwa bukan mahram akan bersentuhan. Ini bisa berakibat dengan dosa juga,” ucapnya.

Sementara itu sentuhan perempuan dan lak-laki tidak hanya terjadi ketika naik motor, tetap sering dilihat ketika muda-mudi bersalaman.

Nah dalam pandangan Islam sebagaimana dikutip dari laman NU Online, mayoritas ulama kecuali madzhab Syafi‘i membolehkan jabat tangan atau salaman (mushafahah) dengan perempuan tua yang bukan mahram sebagaimana keterangan berikut ini:

وتحرم مصافحة المرأة، لقوله صلّى الله عليه وسلم: «إني لا أصافح النساء». لكن الجمهور غير الشافعية أجازوا مصافحة العجوز التي لا تشتهى، ومس يدها، لانعدام خوف الفتنة، قال الحنابلة: كره أحمد مصافحة النساء، وشدد أيضاً حتى لمحرم، وجوزه لوالد، وأخذ يد عجوز شوهاء

Artinya, “Jabat tangan dengan perempuan haram berdasarkan sabda Rasulullah SAW, ‘Aku tidak berjabat tangan dengan perempuan,’ (HR Al-Muwaththa’, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i). Tetapi mayoritas ulama selain madzhab Syafi’I membolehkan jabat tangan dan sentuh tangan perempuan tua yang tidak bersyahwat karena tidak khawatir fitnah. Hanya saja Madzhab Hanbali memakruhkan jabat tangan dengan perempuan dan melarang keras termasuk dengan mahram. Tetapi Madzhab Hanbali membolehkan jabat tangan bagi seorang bapak dengan anaknya dan membolehkan jabat tangan perempuan tua–maaf–buruk rupa,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 3, halaman 567).

Sedangkan Madzhab Syafi’i mengharamkan jabat tangan dan memandang perempuan, sekalipun hanya perempuan tua. Hanya saja Madzhab Syafi’i membolehkan jabat tangan antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya dengan dihalangi semisal sarung tangan sebagaimana keterangan berikut ini:

وحرم الشافعية المس والنظر للمرأة مطلقاً، ولو كانت المرأة عجوزاً. وتجوز المصافحة بحائل يمنع المس المباشر

Artinya, “Madzhab Syafi’i mengharamkan bersentuhan dan memandang perempuan secara mutlak, meskipun hanya perempuan tua. Tetapi boleh jabat tangan dengan alas (sejenis sarung tangan atau kain) yang mencegah sentuhan langsung,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 3, halaman 567).

Lalu bagaimana dengan jabat tangan seorang laki-laki dan perempuan muda yang bukan mahramnya?

Ulama dari empat madzhab dan juga Ibnu Taymiyah mengharamkan praktik tersebut. Tetapi ulama dari Madzhab Hanafi memberikan catatan bahwa keharaman itu berlaku sejauh perempuan muda tersebut dapat menimbulkan syahwat sebagaimana keterangan berikut ini:

وَأَمَّا مُصَافَحَةُ الرَّجُل لِلْمَرْأَةِ الأجْنَبِيَّةِ الشَّابَّةِ فَقَدْ ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ فِي الرِّوَايَةِ الْمُخْتَارَةِ، وَابْنُ تَيْمِيَّةَ إِلَى تَحْرِيمِهَا، وَقَيَّدَ الْحَنَفِيَّةُ التَّحْرِيمَ بِأَنْ تَكُونَ الشَّابَّةُ مُشْتَهَاةً، وَقَال الْحَنَابِلَةُ : وَسَوَاءٌ أَكَانَتْ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ كَثَوْبٍ وَنَحْوِهِ أَمْ لاَ

Artinya, “Perihal jabat tangan seorang laki-laki dengan perempuan muda bukan mahram, ulama Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali dalam riwayat pilihan, serta Ibnu Taimiyah memandang keharamannya. Tetapi Ulama Madzhab Hanafi memberikan catatan keharaman itu bila perempuan muda tersebut dapat menimbulkan syahwat. Sedangkan Madzhab Hanbali mengatakan, keharaman itu sama saja apakah jabat tangan dilakukan dengan alas seperti pakaian, sejenisnya, atau tanpa alas,” (Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz 37, halaman 359).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini