nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menag Fachrul Razi Diminta Hati-Hati Soal Larangan Cadar

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Jum'at 01 November 2019 08:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 01 614 2124420 menag-fachrul-razi-diminta-hati-hati-soal-larangan-cadar-N1GNZAozsD.jpg Menteri Agama Fachrul Razi. Foto: Arif Julianto/Okezone

PEMERINTAH berencana menerapkan aturan larangan memakai cadar di instansi pemerintah. Wacana ini dihembuskan oleh Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi.

Ia mengatakan larangan memakai cadar tersebut sesuai dengan aturan pemerintah yang tak boleh masuk instansi pakai penutup kepala semisal helm. Ia berdalih kebijakan ini demi keamanan. Menag Fachrul Razi sendiri sedang fokus mengentaskan radikalisme di Indonesia. 

Menyikapi persoalan ini, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rumadi Ahmad mengatakan Menag Fachrul Razi perlu hati-hati.

"Tidak semua cadar identik dengan radikalisme, apalagi terorisme," kata Rumadi sebagaimana dilansir dari NU Online pada Jumat (1/11/2019).

Ilustrasi. Foto: Reuters

Pasalnya, lanjut dia, ada juga beberapa pesantren yang santriwatinya memakai cadar, seperti di Aceh Utara, Jember, dan sebagainya. Bagi mereka, sambung Rumadi, cadar dianggap lebih sebagai ekspresi budaya biasa. Sementara ideologinya tetap Pancasila dan NKRI.

Meskipun demikian, Rumadi mengetahui bahwa cadar juga ada yang menggunakannya sebagai bentuk keyakinan atas ideologi tertentu.

"Saya juga tidak bisa menutup mata bahwa ada perempuan memakai cadar sebagai ekspresi ideologi tertentu yang cenderung radikal," ucapnya.

Rumadi menekankan, sebetulnya penggunaan cadar hanya bagian permukaan saja dari radikalisme itu, bukan akar persoalannya. Karena itu, menurut dia, pelarangan bisa salah alamat.

"Jadi, melarang cadar dianggap sebagai memerangi radikalisme bisa salah alamat kalau tidak cermat," tandas pengajar di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Rumadi menambahkan, memang tidak ada pendapat tunggal soal hukum penggunaan cadar. Sebab pada awalnya, cadar lebih sebagai persoalan budaya. Namun seiring berkembangnya waktu, cadar kemudian diideologisasi sebagai ajaran iman.

"Diideologisasi bagi yang memahami kalau cadar itu sebagai kewajiban iman yang dia yakini," terangnya.

Menurut Rumadi, cadar jika dilihat semata sebagai ekspresi radikalisme bisa menjadi eksesif, melampaui kebiasaan. "Bisa eksesif kalau cadar semata dilihat sebagai ekspresi ideologi radikalisme. Maka pemahaman soal cadar juga perlu diperiksa," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini