nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dana Wakaf Dijadikan Modal Usaha Umat, Bagaimana Hukumnya?

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 15 November 2019 20:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 15 614 2130460 dana-wakaf-dijadikan-modal-usaha-umat-bagaimana-hukumnya-tZ4gWR9e8r.jpg Foto: Ilustrasi. dok.Okezone

PENGELOLAAN dana wakaf kini berkembang ke arah yang lebih produktif, contohnya dijadikan sebagai modal usaha yang hasil atau keuntungannya disalurkan untuk kepentingan umat.

Wakaf sendiri merupakan pemberian individu yang tujuannya digunakan untuk kepentingan umat. Sementara menurut Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2004:

“Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut Syariah.”

Lebih lanjut mewakafkan sebagian harta kekayaan merupakan amalan yang anjurannya datang langsung dari Allah SWT.

Seperti dalam firman Allah SWT:

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ.

Artinya: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya:(QS Ali Imran: 92).

Ilustrasi. Foto: Istimewa 

Lalu bagaimana dengan hukum wakaf produktif? Apakah boleh dilakukan menurut syariat Islam?

Pengurus Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Masjid Agung Sunda Kelapa Ustadz Agustin Amirudin, hukum tentang wakaf bagian dari fikih. Di mana aturan ini bisa menyesuaikan dengan keadaan zaman saat ini.

"Wakaf itu dasarnya adalah dari ilmu fikih. Mengeluarkan wakaf harus dari harta pribadi. Tentang wakaf produktif itu harus jelas asal usul dan akadnya," katanya kepada Okezone saat ditemui di Masjid Sunda Kelapa, Jumat (15/11/2019).

Aturan dasar wakaf, kata Ustadz Agus, jumlah atau bentuknya tidak boleh berbeda. Misal, tembok masjid yang telah diwakafkan ada yang rapuh, itu harus diganti dengan bahan baku yang sama untuk memperbaikinya.

Namun wakaf produktif bisa dilihat dari sisi kemaslahatannya. Yaitu dikelola secara baik dan hasilnya diberikan kepada yang seharusnya menerima.

Jika masih diragukan pengelolaannya, maka hukumnya adalah syubhat (antara halal dan haram). Tetapi apabila sudah ada akad yang jelas, hukumnya adalah mubah artinya boleh. "Kalau memang baik dan sudah jelas akadnya, hukumnya mubah," tegasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini