Ketika Ilmu Mbah Moen Bikin Ulama Timur Tengah Takjub

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Senin 25 November 2019 15:36 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 25 614 2134176 ketika-ilmu-mbah-moen-bikin-ulama-timur-tengah-takjub-T72z2rITtd.jpg Foto: Diambil dari Muslim Moderat.

NAMA KH Maimun Zubair (Mbah Moen) tak hanya harum di Indonesia, namun juga di kancah internasional. Di berbagai pengajian di luar negeri, jamaah dibuat takjub oleh pengalaman hidupnya.

Pengalaman hidup Mbah Moen membuatnya sangat kaya akan ibrah yang ia ambil usai rihlah di berbagai negara. Oleh karena itu tak heran jika jamaah betah mendengarkan ceramahnya.

Faktor usia yang kian bertambah justru menjadikan Mbah Moen semakin dikenal oleh khalayak. Dari kalangan ulama dan kaum terpelajar kawasan Afrika seperti Maroko, Sudan, Libya pun banyak yang mengenal sosok ulama kharismatik ini

Pria yang semasa hidupnya mengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, itu merupakan salah satu ulama berpengaruh terhadap perkembangan keilmuan Nusantara dalam dunia pesantren salaf abad ini. Bahkan di negara kawasan Timur Tengah sendiri nama Mbah Moen sangat tidak asing, khususnya bagi para pelajar dan ulama-ulama setempat.

Mbah Moen (kanan). Foto: Istimewa

Hal ini tentu tidak lepas dari kunjungan-kunjungan Mbah Moen sewaktu masih muda dulu. Hal ini pula yang membuat para putra-putri, dzurriyah dan santrinya tersebar di berbagai belahan bumi untuk melanjutkan studi.

Dari situlah, sudah maklum kiranya bahwa hampir setiap bulan pasti ada ulama Timur Tengah seperti Mesir, Yaman, Suriah, Makkah, Lebanon, yang berkunjung ke rumah Mbah Moen.

Di negeri Syam (Suriah) sendiri, menurut santri senior, Mbah Moen tercatat setidaknya dua kali atau bahkan lebih telah berkunjung. Salah satunya ialah pada penghujung 2003.

Usai kunjungan itu tak terbilang betapa banyak kunjungan ulama-ulama negeri Syam ke rumah Mbah Moen dalam rangka menyambung tali silaturahim dan keilmuan.

Berikut adalah ulasan dari penggalan pandangan ataupun penilaian ulama negeri Syam terhadap Mbah Moen yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber dan pengajian. Sebagain besar di antaranya merupakan ungkapan rasa takjub.

“Jadilah seperti Syaikh Maimoen, beliau benar-benar mampu mengubah dan memberikan banyak dampak positif. Bukan hanya satu kota, tapi puluhan kota yang merasakan dampak positifnya. Tak hanya itu, bahkan dampak ini bisa mengalir sampai putra-putrinya. Seperti salah satu putranya (Syaikh Taj Yasin Maimoen) yang sekarang menjadi wakil gubernur Jawa tengah. Semua ini tak lain sebab kesungguhannya dalam berkhidmah tanpa mengharapkan balasan apapun.” (Syaikh Dr. Taufiq Ramadhan Al-Buthi)

"Syaikh Maimoen merupakan sosok yang mampu menjadi suri tauladan bangsa Indonesia. Di umurnya yang sudah kesekian, beliau tetap ikhlas niat berkhidmat kepada umat. Salah satunya ialah dengan mendirikan pesantren. Sebagaimana yang kalian tahu, berapa santrinya sekarang? Berdasarkan kunjungan saya waktu itu sangat banyak sekali. Untuk itu saya sama sekali tidak ragu dan berani mengatakan bahwa beliau merupakan salah satu "Ka'batul Qusshod" pusatnya orang-orang belajar, yang menjadi contoh tokoh perjuangan Islam".

"Syaikh Maimoen, merupakan salah satu ulama yang Alim, faqih, muhaddis, berkebangsaan Indonesia tapi kemampuan berbicara bahasa arabnya melebihi kebanyakan orang-orang Arab. Beliau juga sangat mencintai negeri Syam, masyarakatnya, ulama-ulamanya, seperti Syaikh Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthi dan Syaikh Ahmad Kaftaru." (Syaikh Dr. Muhammad Syarif Adnan As-Sawaf)

"Syaikh Maimoen merupakan Salah dari sekian ulama dunia yang sangat-sangat alim." (Syaikh Dr. Muhammad Yasir Al-Qadmani)

“Wahai santri sekalian, tahukah kalian? Aku melihat cahaya-cahaya bersinar-sinar dari wajah Kiai Maimoen Zubair. Lihatlah dan perhatikanlah wajah kiai kalian ini, dari setiap lubang-lubang kulit tubuhnya, lubang-pori wajahnya, memancarkan cahaya… maka sungguh tak salah bila pesantren ini dinamakan Al-Anwar (Cahaya-cahaya). Aku bersaksi bahwa Kiai Maimoen Zubair ini waliyullah, dia alim dalam keilmuan dhohir dan alim dalam keilmuan bathin. Jika di Indonesia jumlah Walisongo ada sembilan, maka aku berpendapat bahwa Kiai Maimoen Zubair yang ke-10.” (Syaikh Dr. Rajab Dieb Allah Yarhamuh)

“Beliau mempunyai lembaga pendidikan yang menerapkan banyak sistem hafalan. Seperti hafalan Alfiah. Jadi, santrinya yang tersebar hampir hafal alfiah semua.” (Syaikh Dr. Muhammad Rajab Dieb, putra Syaikh Rajab Dieb)

Demikian dilansir dari laman Muslim moderat sebagaimana ditulis Iqbaldi Damaskus pada 14 November 2019, dalam rangka memperingati 100 hari wafatnya Mbah Moen.

Redaksi Okezone menerima foto atau tulisan pembaca berupa artikel tausyiah, kajian Islam, kisah Islam, cerita hijrah, kisah mualaf, event Islam, pengalaman pribadi seputar Islam, dan lain-lain yang berkaitan dengan Muslim. Dengan catatan foto atau artikel tersebut tidak pernah dimuat media lain. Jika berminat, kirim ke redaksi.okezone@mncgroup.com, cc okezone.lifestyle2017@gmail.com.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini