Generasi Muda Muslim Jerman Tak Nyaman dengan Imam Asing, Kok Bisa?

Ibrahim Al Kholil, Jurnalis · Jum'at 20 Desember 2019 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 20 614 2144212 generasi-muda-muslim-jerman-tak-nyaman-dengan-imam-asing-kok-bisa-mHVONJURc8.jpg Ilustrasi. Foto: Istimewa

HAMBURG – Generasi Muda Muslim di Jerman tidak begitu nyaman dengan imam-imam masjid di sana sekarang. Kenapa bisa begitu?

Dilansir dari politico pada Jumat (20/12/2019), sebagian besar imam masjid di Jerman ternyata berasal dari negara asing seperti Turki, dan mereka sering khutbah dengan bahasa Turki. Sedangkan Muslim Jerman butuh imam yang mengisi sebagian kegiatan masjid dengan bahasa Jerman.

Di antara para imam di masjid Jerman, Abdulsamet Demir merupakan suatu penampakan baru dan berbeda dengan para imam lainnya di Jerman. Hal tersebut karena ia adalah salah satu imam yang tumbuh, belajar dan dilatih menjadi imam di sana.

Demir yang berusia 28 tahun merupakan imam Masjid Sultan Eyüp di kota Hamburg. Ia mengatakan negaranya masih membutuhkan banyak imam lokal. "Saya pikir Jerman membutuhkan imam Jerman," katanya.

Ilustrasi. Foto: Istimewa

"Maksudnya berpendidikan universitas dan lahir atau dibesarkan secara ideal di sini, dengan pengetahuan tentang adat dan tradisi negara ini," tambah Demir.

Partai-partai politik besar dan sebagian besar asosiasi Islam di Jerman sepakat, mereka khawatir bahwa imam asing akan menghambat integrasi dan memungkinkan negara-negara seperti Turki untuk melakukan pengaruh yang tidak semestinya terhadap hampir 5 juta Muslim Jerman.

Sebagian besar orang-orang di dalam komunitas Islam, termasuk Demir, juga khawatir bahwa para imam masjid yang tidak bisa berbahasa Jerman tidak dapat terhubung dengan generasi muda.

Bulan lalu, Universitas Osnabrück di barat laut Jerman menyatakan akan mengadakan kursus imam selama dua tahun mulai musim panas mendatang, kemungkinan dengan dukungan anggaran dari Pemerintah Jerman. Perguruan tinggi imam itu akan dijalankan oleh suatu asosiasi independen dari universitas, namun tetap diawasi oleh para akademisi, dan melibatkan berbagai organisasi Islam Jerman.

Namun dua kelompok Islam terbesar di Jerman, Uni Islam Turki untuk Urusan Agama (DITIB) dan Komunitas Islam Millî Görüş (IGMG), bersama-sama mewakili hampir setengah dari 2.500 masjid di Jerman yang diperkirakan menolak untuk berpartisipasi, dengan alasan kekhawatiran akan gangguan negara yang potensial.

Mereka memiliki metode sendiri untuk melatih imam, dengan DITIB meluncurkan programnya sendiri pada awal Januari 2020.

“Kami berada di tengah-tengah perubahan sosial. Remaja saat ini lebih tahu bahasa Jerman daripada Turki,” kata Eyüp Kalyon, seorang imam sekaligus koordinator kursus yang direncanakan DITIB. "Kami sadar, dan kami tahu kami tidak punya pilihan selain ikut serta dalam reorientasi ini," tambahnya.

Ketakutan Akan Pengaruh Asing

Selama dekade terakhir, Berlin secara bertahap mulai memperhatikan siapa yang memimpin masjid-masjid Jerman. Kementerian Dalam Negeri Jerman mengadakan Konferensi Islam pada 2006, dan fokus mereka saat ini adalah pada personel dan pelatihan imam masjid. Gelar studi Islam pertama di negara itu diluncurkan dengan dukungan negara pada 2010.

Jerman bukan satu-satunya negara yang bergulat dengan masalah ini. Beberapa negara Eropa juga berusaha mengembangkan kursus pelatihan lokal, dengan keberhasilan yang beragam.

Di Belanda, kursus teologi dan pelatihan Islam kandas. Swedia meluncurkan kursus imam yang didanai negara pertama pada tahun 2016. Perancis yang membawa sebagian besar imam dari Maghreb dan negara-negara Arab, telah berjuang untuk merumuskan tanggapan pemisahan antara agama dan negara.

Di Jerman, masalah imam asing telah menjadi topik utama pada debat publik dalam beberapa bulan terakhir yang sebagian karena perkembangan di Turki, di mana Presiden Recep Tayyip Erdoğan telah membuat negaranya menjadi lebih otoriter dan konservatif.

DITIB, asosiasi Islam terbesar di Jerman dengan anggota 960 masjid. DITIB memiliki hubungan dekat dengan negara Turki, khususnya dengan Diyanet yang merupakan direktorat urusan agama negara itu. Diyanet mengirimkan para imam Turki, yang gajinya dibayar oleh Ankara dan yang cenderung menjadi pegawai negeri Turki, ke masjid-masjid yang dikelola DITIB Jerman untuk jangka waktu yang terbatas.

Organisasi itu juga mengirim lulusan-lulusan sekolah Jerman yang ingin bekerja di masjid untuk belajar teologi ke Turki.

DITIB menggambarkan dirinya netral secara politik. Tetapi sejumlah kontroversi baru-baru ini termasuk tuduhan bahwa organisasi itu menyerukan umat Islam untuk berdoa bagi keberhasilan serangan militer Turki ke Suriah.

Partai-partai besar dan kelompok-kelompok oposisi seperti Green dan Free Democrats, menginginkan kursus pelatihan imam lokal, seperti yang disampaikan Kanselir Angela Merkel, ia mengatakan, “Kami membutuhkan pelatihan imam di Jerman.”

Bulan lalu, pemerintah mengumumkan rencana untuk memperkenalkan persyaratan bahasa Jerman untuk personel agama termasuk imam yang datang dari luar negeri.

Akan tetapi alasan itu dikritik habis - habisan. "Itu benar-benar tidak ada sasaran," kata ujar Rauf Ceylan, seorang profesor studi Islam di Universitas Osnabrück.

Generasi Baru

Abdulsamet Demir berpikir tuntutan pemerintah berbahasa Jerman bukanlah ide yang buruk. Mungkin terdengar radikal, katanya, tetapi bahasa Jerman yang fasih sangat penting bagi seorang imam. "Masalahnya adalah generasi baru," katanya.

Sementara banyak imigran generasi pertama dan kedua sering lebih nyaman dengan bahasa Turki, akan tetapi tidak nyaman bagi orang yang lebih muda.

“Berbicara bahasa Jerman lebih baik daripada bahasa Turki. Mereka lebih suka bahasa Jerman. Dan mereka tidak akan ke masjid lagi karena para imam tidak berbicara bahasa Jerman," ucap Demir.

Demir telah mencoba menemukan keseimbangan, khotbah Jumat diadakan di Jerman, selama seminggu, ketika sebagian besar anggota yang lebih tua hadir, dia memimpin doa dalam bahasa Turki. Demir, dengan sikap santai dan tawa merasa siap, memiliki pendekatan yang berbeda.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini