Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Generasi Muda Muslim Jerman Tak Nyaman dengan Imam Asing, Kok Bisa?

Ibrahim Al Kholil , Jurnalis-Jum'at, 20 Desember 2019 |14:03 WIB
Generasi Muda Muslim Jerman Tak Nyaman dengan Imam Asing, Kok Bisa?
Ilustrasi. Foto: Istimewa
A
A
A

Bulan lalu, pemerintah mengumumkan rencana untuk memperkenalkan persyaratan bahasa Jerman untuk personel agama termasuk imam yang datang dari luar negeri.

Akan tetapi alasan itu dikritik habis - habisan. "Itu benar-benar tidak ada sasaran," kata ujar Rauf Ceylan, seorang profesor studi Islam di Universitas Osnabrück.

Generasi Baru

Abdulsamet Demir berpikir tuntutan pemerintah berbahasa Jerman bukanlah ide yang buruk. Mungkin terdengar radikal, katanya, tetapi bahasa Jerman yang fasih sangat penting bagi seorang imam. "Masalahnya adalah generasi baru," katanya.

Sementara banyak imigran generasi pertama dan kedua sering lebih nyaman dengan bahasa Turki, akan tetapi tidak nyaman bagi orang yang lebih muda.

“Berbicara bahasa Jerman lebih baik daripada bahasa Turki. Mereka lebih suka bahasa Jerman. Dan mereka tidak akan ke masjid lagi karena para imam tidak berbicara bahasa Jerman," ucap Demir.

Demir telah mencoba menemukan keseimbangan, khotbah Jumat diadakan di Jerman, selama seminggu, ketika sebagian besar anggota yang lebih tua hadir, dia memimpin doa dalam bahasa Turki. Demir, dengan sikap santai dan tawa merasa siap, memiliki pendekatan yang berbeda.

(Abu Sahma Pane)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement