nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sains dalam Alquran, Keistimewaan Air sebagai Sumber Kehidupan

Fadhil Khatamy, Jurnalis · Jum'at 03 Januari 2020 09:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 03 614 2148776 sains-dalam-alquran-keistimewaan-air-sebagai-sumber-kehidupan-sFhKE4ivCu.jpg Ilustrasi. Foto: SMR English

MAHA besar Allah SWT yang telah menciptakan air, sebab ini adalah zat yang menjadi sumber kehidupan. Tanpa air tak ada satu pun makhluk yang bisa hidup di dunia maupun di langit.

Allah berfirman, “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan bahwa Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (Al-Anbiya’: 30).

Dikutip dari buku Pintar Sains Dalam Alquran Halaman 513-518 karya Dr.Nadiah Thayyarah, ayat ini dianggap sebagai salah satu mukjizat ilmiah terbesar dalam Alquran. Sebab, ayat ini menegaskan bahwa semua makhluk hidup tersusun dari air. Jadi, sendi kehidupan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan adalah air.

Air adalah satu-satunya perantara yang mengandung mineral-mineral dan zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh makhluk hidup. Kalau bukan karena air, niscaya tak ada kehidupan di permukaan bumi.

Allah menyebut kata ma’ (air) dalam Alquran sebanyak 33 kali dalam bentuk nakirah dan 16 kali dalam bentuk ma’rifah.

Allah memberikan anugerah kepada orang-orang yang beriman dengan menurunkan kepada mereka air yang menjadi sendi kehidupan mereka. Dia berfirman, “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu; sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, dan padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” (An-Nahl: 10-11).

Allah pun menyematkan pada air sifat mubarak, banyak memberi berkah. Dia berfirman, “Dan, dari langit Kami turunkan air yang banyak memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen.” (Qaf: 9).

Allah menyebutkan bahwa penurunan air dari langit dan penghidupan bumi setelah sebelumnya tanpa kehidupan adalah suatu bukti dan tanda atas eksistensi Allah dan keesaan-Nya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya, pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (Al-Baqarah: 164).

Allah pun berfirman, “Dan, di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti.” (Ar-Rum: 24).

Allah menyebut-nyebut dan meminta pertanggungjawaban kepada orang-orang kafir atas nikmat yang telah Dia berikan kepada mereka, yaitu bahwa Dia telah menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air.

Dia berfirman, “Dan, apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan bahwa Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (Al-Anbiya’: 30).

Allah pun menjelaskan bahwa air merupakan salah satu kenikmatan yang disediakan di surga dan bahwa para penghuni neraka di hukum dengan embargo air.

Dia telah berfirman, “Para penghuni neraka berseru kepada para penghuni surga, ‘Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezeki apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepadamu.’ Para penghuni surga menjawab, ‘Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir,’ (yaitu) orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini (Kiamat), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini, dan sebagaimana pula mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 50-51).

Allah pun menyebutkan bahwa air merupakan sebagian di antara tentara-tentara-Nya dan perantara untuk mengahancurkan orang-orang kafir.

Allah berfirman, “Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman, ‘Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang jantan dan betina), dan (juga) keluargamu kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman.’ Ternyata, orang-orang beriman yang bersama dengan Nuh hanya sedikit. Dan, dia berkata, ‘Naiklah kamu semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya, Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Dan, kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan, Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Wahai Anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.’ Dia (anaknya) menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!’ (Nuh) berkata, ‘Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang.’ Dan, gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan. Dan difirmankan, “Wahai Bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.’ Dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, kapal itu pun berlabuh di atas Gunung Judi, dan dikatakan, ‘Binasalah orang-orang zalim.’” (Hud: 40-44).

Allah menyebutkan bahwa salah satu fungsi air ialah menyucikan. Dia berfirman, “(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketetntraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian).” (Al-Anfal: 11).

Dia pun berfirman, “Dan, Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih.” (Al-Furqan: 48).

Allah telah memerintahkan manusia untuk berwudu setiap kali akan menunaikan halat dan mandi junub. Dia berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan, jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.” (Al-Ma’idah: 6).

Rasulullah pun telah memerintahkan kita untuk berhemat dan tidak melakukan pemborosan dalam menggunakan air. Dikisahkan bahwa Nabi berpapasan dengan Sa’ad, “Mengapa berlebihan seperti ini?” “Apakah dalam wudu juga ada istilah berlebihan?” tanya Sa’ad.

“Ya. Bahkan meskipun engkau berwudu di sungai yang mengalir,” jawab Nabi. (Hadis hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

Sesungguhnya, air adalah salah satu unsur di permukaan bumi yang paling penting. Buktinya, hujanlah yang menumbuhkan tetumbuhan dan segala hal yang dimakan oleh manusia. Kalau bukan karena air, niscaya tidak pernah ada kehidupan di permukaan bumi.

Jumlah debit air hujan yang mengguyur permukaan bumi rata-rata mencapai 16 juta ton air per detik. Fakta ini tentu sangat mengagumkan. Allah telah berfirman, “Sesungguhnya, Kamilah yang telah mencurahkan air dengan melimpah (dari langit).” (‘Abasa: 25).

Dengan asma-Nya yang al-Lathif (Maha lembut), Allah menjadikan jumlah air yang sangat besar itu berjatuhan ke bumi dalam bentuk rintik-rintik kecil. Seandainya jumlah air tersebut turun dalam satuan yang lebih besar dan secara terus-menerus, tentu air hujan akan menghancurkan segala sesuatu yang ada di permukaan bumi.

Sungguh, Allah telah menjadikan air memiliki suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh unsur-unsur lain yang ada di permukaan bumi. Hal itu dalam rangka kelangsungan kehidupan di permukaan bumi.

Semua unsur di permukaan bumi, baik yang berupa benda padat, cair, maupun gas (uap), tunduk pada hukum “memuai karena panas dan mengerut karena dingin “, kecuali air. Jumlah air malah menjadi banyak karena dingin. Hal itu bisa kita lihat ketika kita meletakkan air dalam suatu wadah ke dalam kulkas. Jumlah air akan bertambah, dan bahkan hal itu kadang menyebabkan wadahnya pecah.

Seandainya air mengerut apabila membeku artinya, ukurannya mengecil dan kepadatannya bertambah-tentu air telah surut ke laut dan hal itu menyebabkan dasar samudra membeku. Dengan membekunya dasar samudra hewan-hewan dan ikan-ikan yang hidup di samudra pun mati. Namun, Allah menjadikan air bersifat istimewa, ukurannya membesar ketika terkena dingin.

Sebagai contoh, turunnya suhu panas di Kutub Utara menyebabkan air membeku sehingga ukuran air bertambah banyak dan kepadatannya menurun. Dengan demikian, air yang membeku bisa mengambang di atas permukaan air yang tidak membeku, sementara air yang berada di atas dasar laut tetap mengalir seperti sediakala sehingga ikan-ikan dan makhluk-makhluk hidup di dalamnya tetap bisa melangsungkan kehidupan.

Demikian pengetahuan ini dikutip dari buku Pintar Sains Dalam Alquran Halaman 513-518 karya Dr.Nadiah Thayyarah.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini