Saling Hujat Akibat Bencana Banjir Tak Sesuai Ajaran Islam, Ini Penjelasannya

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 06 Januari 2020 15:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 06 614 2149831 saling-hujat-akibat-bencana-banjir-tak-sesuai-ajaran-islam-ini-penjelasannya-ZRT3mDF1pT.jpg Bencana banjir Jakarta. (Foto: Okezone)

BENCANA banjir yang menerjang Jakarta dan sejumlah wilayah lain di Indonesia menjadi celah bagi masyarakat untuk saling menyalahkan, terutama kepada kepala daerah. Mereka menilai bencana banjir ini terjadi karena adanya kesalahan dalam pencegahan banjir.

Tapi, apakah sikap menyalahkan seperti itu sudah benar dilakukan dalam menyikapi bencana banjir Jakarta 2020? Dalam Islam, tindakan tersebut ternyata bukan hal yang patut dilakukan.

Seperti dijelaskan Ustadz Fariq Gasim Anuz, dalam kasus saling menyalahkan saat bencana banjir ini, ia memiliki beberapa contoh cerita yang bisa kita jadikan sebagai bahan introspeksi diri terkait kebiasaan menyalahkan ini. Juga dengan meminta pertanggungjawaban atas bencana banjir.

bencana banjir

Salah satu contoh yang diceritakan oleh Ustadz Fariq adalah mengenai sopir dan majikan. Suatu ketika ada seorang sopir di Jeddah pernah mengungkapkan kisah hidup pada dirinya.

Dia bercerita bahwa dirinya memiliki kiat untuk mengatasi majikan, yang sering menyalahkannya jika mereka terjebak macet di Jeddah. Sikap ini akhirnya dilakukan sopir karena dirinya selalu disalahkan.

Suatu ketika mereka terjebak dalam kemacetan dan si majikan berkata, “Mengapa kamu tidak memilih jalan lain?”.

Sejak saat itu, setiap ada pilihan jalan, sopir akan bertanya dahulu kepada majikannya, untuk memilih jalan mana yang akan ditempuh. Meskipun lewat jalan berbeda ternyata mobil pun terjebak macet. Majikannya pun diam saja, tidak menyalahkan dirinya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Cerita berlanjut, suatu hari majikan sopir tersebut mengajak istri dan anaknya pergi naik mobil. Sopir mulai menanyakan pilihan jalan yang perlu ditempuh, ketika melewati beberapa jalan alternatif.

Majikan laki-laki memutuskan satu jalan yang perlu dilalui. Ternyata tidak berapa lama, mobil mereka terjebak macet. Majikan laki-laki marah kepada sopirnya dengan mengatakan, “Mengapa kamu lewat jalan ini yang menyebabkan kemacetan?”.

Mendengar ayahnya marah pada sang sopir, anak perempuan majikan itu justru membela sopir. Sang anak juga mengingatkan ayahnya karena memilih jalan tersebut. Akhirnya majikan laki-laki tersebut diam dan malu kepada sopirnya.

Ustadz Fariq juga punya cerita lain terkait dengan kebiasaan suka menyalahkan ini. Ada seorang ibu rumah tangga menelepon suaminya untuk memberitahu anaknya sakit panas.

Istri berharap suaminya menenangkan hatinya yang sedang galau dan memberikan solusi terbaik. Namun, yang ia dapat justru suaminya menyalahkannya. "Kamu beri makan apa anak kita sehingga dia sakit?" Karena disalahkan, ia bertambah sedih dan hatinya semakin galau.

"Dari dua cerita itu kita bisa belajar. Apabila selama ini kita sering menyalahkan orang lain, maka mulai dari sekarang, tinggalkan kebiasaan buruk tersebut. Carilah solusi dari permasalahan yang timbul akibat kesalahan tersebut," kata Ustadz Fariq pada Okezone, beberapa waktu lalu.

Ustadz Fariq melanjutkan, tidak ada salahnya juga untuk kita memberi pelajaran dari kesalahan yang terjadi jika kesalahan tersebut tidak pantas untuk terjadi. Namun, jika kesalahan itu bukan sesuatu yang besar, seharusnya kita sebagai umat memakluminya. "Apabila itu adalah kesalahan berupa dosa dan kemungkaran, maka harus diingkari dengan bijaksana," sambungnya.

Ustad Fariq lantas mengutip sebuah hadits,"Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, beliau pernah tinggal dan membantu Rasulullah selama 10 tahun, baik ketika di rumah mau pun dalam perjalanan.

Anas menceritakan bahwa selama 10 tahun Rasulullah tidak pernah mengatakan "Uh” kepadanya. Beliau juga tidak pernah menyalahkan Anas atas apa yang dilakukannya ataupun yang tidak dilakukannya. Misalnya, dengan mengatakan, “Kenapa engkau melakukan ini?” atau “Kenapa engkau tidak melakukan hal itu?”." (HR Bukhari dan Muslim)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya