Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya mengajak para pemimpin agama untuk melakukan refleksi sejujur-jujurnya tentang posisi teologis agama masing-masing dalam upaya perdamaian.
“Harus diakui, ada norma-norma ortodoksi yang memang masih mendorong segregasi, diskriminasi, dan konflik," kata Gus Yahya dalam siaran persnya, Sabtu (18/1/2020).

Saat mengikuti forum Abrahamic Faiths Initiative (Inisiatif Agama-agama Ibrahimiyah) di Vatikan belum lama ini, Gus Yahya terus mendorong toleransi dan upaya perdamaian antar umat beragama di dunia.
Menurut Gus Yahya, norma-norma itu harus dihadapkan dengan konteks realitas globalisasi abad ke-21 ini, yaitu konflik antaragama tidak mungkin lagi dilokalisir sehingga akan memicu benturan universal yang menimbulkan kekacauan dan ujungnya akan meruntuhkan seluruh peradaban dunia.
Gus Yahya kemudian memaparkan upaya-upaya rekontekstualisasi fikih yang telah dilakukan di lingkungan Nahdlatul Ulama sejak 1984, yaitu ketika Rais Aam KH Achmad Shiddiq meletakkan kerangka teologis bagi 'Ukhuwwah Basyariyyah'.
“Pada bulan Februari 2019 yang lalu, Musyawarah Nasional alim ulama NU menetapkan bahwa kategori kafir tidak lagi relevan untuk di ruang publik dalam konteks negara-bangsa modern. Dimensi sosial-politik dari kategori kafir sebenarnya terkait konteks keberadaan satu teokrasi tunggal yang universal, yang sekarang sudah tidak ada lagi," ujar Gus Yahya.
Dalam kesempatan itu, Monsignor Khaled Akasheh, Uskup Katholik asal Yordania mengaku amat terharu mendengar semua paparan itu.
“Ini adalah perwujudan mimpi saya selama 25 tahun,” katanya.
Monsignor Khaled mengatakan, bukan hanya Islam yang perlu melakukan rekontekstualisasi semacam itu. Semua agama-agama dari keluarga Ibrahimiyah harus melakukannya.