nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tingkatkan Upaya Perdamaian, Gus Yahya Dorong Rekontekstualisasi Agama-Agama Ibrahimiyah

Novie Fauziah, Jurnalis · Sabtu 18 Januari 2020 00:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 17 614 2154416 tingkatkan-upaya-perdamaian-gus-yahya-dorong-rekontektualisasi-agama-agama-ibrahimiyah-w6IiZrwXcl.jpg Toleransi antar umat beragama (Foto: Pixabay)

Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya mengajak para pemimpin agama untuk melakukan refleksi sejujur-jujurnya tentang posisi teologis agama masing-masing dalam upaya perdamaian.

“Harus diakui, ada norma-norma ortodoksi yang memang masih mendorong segregasi, diskriminasi, dan konflik," kata Gus Yahya dalam siaran persnya, Sabtu (18/1/2020).

 Toleransi antar umat beragama agar dunia damai

Saat mengikuti forum Abrahamic Faiths Initiative (Inisiatif Agama-agama Ibrahimiyah) di Vatikan belum lama ini, Gus Yahya terus mendorong toleransi dan upaya perdamaian antar umat beragama di dunia.

Menurut Gus Yahya, norma-norma itu harus dihadapkan dengan konteks realitas globalisasi abad ke-21 ini, yaitu konflik antaragama tidak mungkin lagi dilokalisir sehingga akan memicu benturan universal yang menimbulkan kekacauan dan ujungnya akan meruntuhkan seluruh peradaban dunia.

Gus Yahya kemudian memaparkan upaya-upaya rekontekstualisasi fikih yang telah dilakukan di lingkungan Nahdlatul Ulama sejak 1984, yaitu ketika Rais Aam KH Achmad Shiddiq meletakkan kerangka teologis bagi 'Ukhuwwah Basyariyyah'.

“Pada bulan Februari 2019 yang lalu, Musyawarah Nasional alim ulama NU menetapkan bahwa kategori kafir tidak lagi relevan untuk di ruang publik dalam konteks negara-bangsa modern. Dimensi sosial-politik dari kategori kafir sebenarnya terkait konteks keberadaan satu teokrasi tunggal yang universal, yang sekarang sudah tidak ada lagi," ujar Gus Yahya.

Dalam kesempatan itu, Monsignor Khaled Akasheh, Uskup Katholik asal Yordania mengaku amat terharu mendengar semua paparan itu.

“Ini adalah perwujudan mimpi saya selama 25 tahun,” katanya.

Monsignor Khaled mengatakan, bukan hanya Islam yang perlu melakukan rekontekstualisasi semacam itu. Semua agama-agama dari keluarga Ibrahimiyah harus melakukannya.

Monsignor Khaled menjelaskan, Gereja Katholik telah memulai upaya tersebut sejak didirikannya Dewan Ekumenikal Vatikan Kedua pada masa Paus Johanes XXIII pada 1962.

“Agama-agama Ibrahimiyyah harus merenungkan kembali hakikat kehadiran dan perannya dalam konteks realitas abad ke-21 ini," tegas Monsignor Khaled.

Wakil dari kalangan Yahudi ultra-ortodoks Israel menyambut ajakan itu dengan antusias. Rabinat Adina Bar-Shalom, puteri mendiang Rabi Ovadia Yosef yang dulu adalah Rabbi Kepala (Chief Rabbi) Sephardi yang paling berpengaruh di kalangan Yahudi ultra-ortodoks di Israel, mengajak untuk menciptakan momentum bersama. Misalnya dengan menggalang pertemuan pemimpin-pemimpin agama Ibrahimiyah untuk mendialogkan topik tersebut.

Ia bertekat untuk memobilisasi seluruh komunitas Yahudi ortodoks di Israel untuk ikut serta dan sungguh-sungguh terlibat dalam pergulatan rekontekstualisasi itu.

“Segala kekerasan dan pembunuhan ini harus dihentikan! Seluruh hamparan tanah di muka bumi ini tak sebanding nilainya dengan satu nyawa manusia!” ucapnya sedikit emosional.

Di akhir forum disepakati bahwa dalam 45 hari ke depan akan diumumkan negara mana yang akan menjadi tujuan kiprah Abramic Faiths Initiative setelah mendapatkan persetujuan dari otoritas setempat. (DRM) 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini