Suatu ketika ada seorang hamba Allah bernama Bisyr bin Haris. Ia lebih dikenal dengan julukan Bisyr al-Hâfy artinya orang yang bertelanjang kaki.
Saat sedang berjalan-jalan, Bisyr bin Haris mendapatkan secarik kertas tergeletak di atas tanah. Lalu ia pun mengambil kertas tersebut, rupanya di kertas itu tertulis lafal basmalah.
Tanpa berpikir, Bisyr langsung mengambil kertas itu. Lalu ia mengusap dan membersihkan kertas tersebut, dan menyimpannya di dalam jubahnya.
Kemudian ia bergegas pergi menuju sebuah toko. Hari itu Bisyr sejatinya hanya punya uang dua dirham. Tak ada sepeserpun uang lain yang beliau pegang kala itu.
Namun uang terakhirnya malah ia belikan minyak wangi. Kertas bertuliskan basmalah yang ia temukan tadi diusapi dengan minyak wangi itu.

Tiba-tiba pada malam harinya ketika ia tidur, ia bermimpi, seperti ada yang berkata memanggil, “Wahai Bisyr bin Haris, kau angkat ‘nama-Ku’ dari tengah jalan, dan kau harumkan. Maka Aku harumkan namamu di dunia dan akhirat.”
Demikian suara tersebut menggugah malam Bisyr. Rupanya mimpi itu semacam isyarat akan datangnya masa depan, mimpi-mimpi yang dialami orang-orang terdekat-Nya.
Kisah pertobatan Bisyr ini bermula dari minyak wangi, hingga ia suatu ketika menggelar pesta. Para sahabat dan kawan karib turut diundang memeriahkan pesta tersebut. Semua larut dalam hiruk pikuk.
Tepat saat itu juga seorang lelaki saleh melewati kediaman Bisyr. Suara gegap gempita dan gelak tawa menunjukkan meriahnya pesta.
Lelaki saleh itu menyempatkan mampir dan mengetuk pintu. Seorang budak wanita pelayan Bisyr datang membukakan pintu, tanpa basa-basi, lelaki saleh tersebut langsung berkata, “Pemilik rumah ini apakah merdeka atau budak?”
“Tentu saja ia orang merdeka,” kata sang budak.
Lelaki saleh tersebut lantas menimpali, “Kau memang benar, andaikan saja dia budak, pastinya dia akan menjalankan etika seorang ‘hamba’. Lalu meninggalkan bermain-main dan bersenang-senang.”
Setelah ia si lelaki saleh langsung pamit.
Tak sengaja percakapan kedua orang tersebut sempat diketahui samar-samar oleh Bisyr. Lalu ia mengejar lelaki saleh itu.
Beruntung, Bisyr berhasil menemuinya. “Tuanku! Engkaukah yang tadi berdiri di depan pintu dan berbicara dengan budakku?” tanya Bisyr.
“Ia,” jawab lelaki saleh itu. “Ulangilah kata-katamu tadi untukku.” Lalu lelaki tersebut mengulanginya.
Seperti dilansir dari website Lirboyo, Bisyr tersungkur mendengar kalimat tersebut. Kata-kata itu seperti telah menusuk-nusuk perasaannya. Beliau mendapati makna mendalam di balik kalimat tersebut.
Telah dilupakan kehambaannya dan dilalaikan kehidupan kelak. Sadar, jika setiap insan sejatinya hanyalah seorang hamba.
“Bukan! Aku seorang hamba! Aku seorang hamba!” Kata Bisyr. Dan sejak hari itu beliau bertobat dan menjadi orang saleh. Semua berawal dari sebuah kertas basmallah yang diberi minyak wangi di tengah jalan.
(Dyah Ratna Meta Novia)