Memiliki pasangan yang baik dan berjodoh dunia akhirat adalah impian setiap umat Islam. Istilah pentingnya memilih jodoh dilihat dari bibit, bebet dan bobotnya itu ternyata sangat dianjurkan di dalam agama.
Bahkan Rasulullah SAW pun meminta agar melihat asal usul dalam mencari jodoh supaya mereka tak kecewa.

Dikutip dari buku Fiqih Cinta karya Abdul Aziz Ahmad halaman 223, dijelaskan, jika sepasang kekasih memiliki derajat yang sama, maka akan menjadi keseimbangan dan keselarasan di rumah tangga.
Sebaliknya, perbedaan derajat akan menimbulkan ketimpangan dan kesenjangan, seperti yang terjadi antara Zaid dan Zainab. Derajat yang dimaksud adalah:
1. Pemahaman agama dan ketakwaan
2. Tingkat intelektual
3. Derajat kemuliaan keluanga atau kebangsawanan.
4. Harta
5. Pasangan sifat yaitu sifat saling mengisi dan menyeimbangkan
Masih ada beberapa hal lain, tapi jarang menimbulkan masalah, seperti usia yang terpaut terlalu jauh, juga kecantikan wajah, kepada seorang suami tampan yang mendapatkan istri yang buruk rupa. Tapi tidak sebaliknya.
Jika derajat pria lebih tinggi, biasanya tidak terlalu menimbulkan masalah. Apalagi jika wanitanya memiliki sifat penurut dan patuh. Sedangkan suaminya bersifat penyantun dan selalu membimbing.
Tapi jika sang istri bersifat emosional dan pembangkang, sedangkan suami bersifat egois dan sombong, niscaya sayap-sayap rumah tangga akan segera patah, dan pernikahan akan segera menemui kehancurannya.
Sebaliknya,jika derajat wanita yang lebih tinggi, kebanyakan tidak dapat bertahan lama. Hal ini disebabkan karena umumnya pria bersifat memimpin dan mendominasi.
Sedangkan perbedaan derajat membuatnya tidak mampu menjalankannya. Akibatnya, terjadi pertarungan batin serius kepada dirinya. Jarang ada pria yang mampu bertahan dalam kondisi ini. Apalagi, biasanya wanita yang lebih tinggi derajatnya akan memiliki sifat arogan dan mendominasi.
Dia tidak akan ridha dipimpin oleh suami yang lebih rendah derajatya. Inilah penyebab utama kehancuran rumah tangga.
Rasulullah SAW telah mewanti-wanti pasangan suami istri untuk memperhatikan kesetaraan derajat, di dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, Daruquthni, dan Hakim dari Aisyah RA. secara marfu’:
“Pilihlah tempat air mani kalian, dan nikahilah wanita yang sederajat.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Kejarlah yang sederajat untuk tempat air mani kalian, karena seorang pria biasanya serupa dengan pamannya."
Telah disebutkan pada bab satu: tentang cinta, mengenai jodoh, bahwa Allah SWT menjamin bahwa pria baik-baik cenderung akan berjodoh dengan wanita baik-baik, demikian juga sebaliknya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: Wanita-wanita yang keji adalah untuh laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik: adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula),... (QS an Nur:26).
Inilah jaminan Allah SWT untuk kesetaraan imam dan akhlak. Meski demikian, terkadang ada juga wanita baik-baik yang menikah dengan pria durjana. Sebaliknya, ada juga pria baik-baik yang menikahi wanita durjana. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, di antaranya:
1. Pria atau wanita baik-baik tergila-gila oleh kelebihan yang dimiliki oleh pria atau wanita durjana.
2. Pria atau wanita baik-baik tertipu oleh penampilan dan tutur kata pria atau wanita durjana. Sehingga mereka menganggap mereka adalah orang baik-baik.
3. Pria atau wanita durjana menggunakan cara-cara sedemikian rupa, sehingga mampu memiliki pria atau wanita baik-baik, misalnya; dengan jeratan hutang pada orang tuanya, menggunakan sihir, merayu dengan daya tarik seks yang terlalu kuat, dan sebagainya.
4. Ketika menikah, kondisi iman pria atau wanita baik-baik sedang menurun, sehingga agak mendekati derajat pria atau wanita durjana.