nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Soal Penolakan Jenazah Korban Corona, MUI Jateng Ingatkan Hukum Fardu Kifayah

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Senin 06 April 2020 10:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 04 06 330 2194719 soal-penolakan-jenazah-korban-corona-mui-jateng-ingatkan-hukum-fardu-kifayah-mNOCPRicQC.jpg Ilustrasi. Foto: Shafaaq

Penolakan oleh warga terhadap jenazah korban virus corona (COVID-10) yang hendak dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) terjadi di berbagai daerah, contohnya di Sawangan-Depok serta di Kota Sorong.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Darodji mengingatkan penolakan tersebut hukumnya dosa. Oleh karena itu ia mengimbau agar Muslim menjauhi dosa menolak enazah korban corona.

Ahmad Darodji sendiri sudah mengunjungi RSUP dr Kariadi, Semarang, tempat pasien positif corona dirawat. Setelah bertemu ahli forensik Uva Utomo, diketahui penanganan jenazah korban penyakit tersebut sudah sesuai standar kesehatan dan syariat sehingga tidak akan menular ke warga.

Lebih lanjut ia menilai orang yang khawatir sebenarnya itu karena kurang edukasi dan sosialisasi. “Penolakan masyarakat bisa saja karena mereka mengalami ketakutan berlebih dan edukasi yang kurang. Sebetulnya apa yang sudah dilakukan pihak rumah sakit saat memandikannya atau mencucikan sampai masuk peti sudah sesuai syar’i,” kata Ahmad Darodji pada Jumat lalu sebagaimana dikutip dari Solopos pada Senin (6/4/2020).

Sementara Sekretaris Komisi Fatwa MUI Jateng Ahmad Fadlolan Musaffa mengingatkan, kewajiban umat Islam terhadap orang yang sudah meninggal. Jika yang meninggal itu Muslim maka berlaku hukum fardu kifayah atau sebagian Muslim wajib memakamkannya sesuai syariah. Jika tidak ada yang memakamkannya maka semua Muslim berdosa.

Perlu diketahui memakamkan jenazah Muslim harus mengikuti tahapan syariah, yaitu memandikan, mengafani, mensholatkan, lalu menguburnya.

Sedangkan kewajiban Muslim terhadap jenazah non-Muslim adalah mengangkat dan menguburkannya. “Yang punya kewajiban bukan mayatnya. Mayat tidak punya kewajiban, tetapi yang punya kewajiban adalah yang hidup,” ucap Fadlolan.

“Menolak dosa hukumnya, dan dengan melihat seluruh tahapan dari rumah sakit, tidak mungkin ada penularan. Sehingga tidak ada alasan untuk menolak jenazah. Para tenaga medis sudah melakukan dengan baik dan sesuai syar’i,” tambahnya.

Di sisi lain Ahli foreksik RSUP dr. Kariadi Semarang Uva Utomo menjelaskan pihaknya telah mengikuti pedoman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam menangani jenazah pasien korban corona.

Tata cara yang diterapkan sudah melewati penelitian sehingga penyakit di jenazah tersebut tidak akan menular kepada orang lain.

Pada tahap awal, lanjut Uva, jenazah diamankan dengan klorin. Tahap selanjutnya memandikan sekaligus mewudukannya dengan air suci lagi menyucikan. Kemudian diproses lagi membersihkannya pakai klorin.

Setelah suci dan bersih secara syarat kesehatan, barulah kemudian jenazah ditutup dengan bahan kedap air atau plastik. Baru setelahnya dikafani jika jenazah tersebut Muslim. Sedangkan jika non-Muslim maka pakaiannya ditempelkan di atas jenazah.

Setelah itu, lanjut Uva, jenazah kembali dilapisi dengan plastik dan kembali disiram dengan Klorin. Setelah itu, jenazah ditutup dengan plastik untuk yang ketiga kalinya dan disiram Klorin lagi.

Lalu jenazah dimasukkan ke peti, dan diangkut mobil jenazah yang juga telah disiram Klorin. “Jadi saat mobil jenazah lewat, tidak ada yang tercemari. Pemakaman aman dan virus ini akan mati saat inangnya mati. Jadi aman. Harapannya ini bisa mengubah stigma masyarakat terhadap jenazah Covid-19,” kata Uva.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini