Menentukan Hilal dari Sudut Pandang Ilmiah, Bagaimana Caranya?

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 23 April 2020 17:50 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 04 23 614 2203834 menentukan-hilal-dari-sudut-pandang-ilmiah-bagaimana-caranya-yhVxTC3ugJ.jpg Ilustrasi. (Okezone)

PENENTUAN awal Ramadhan di Indonesia mayoritas menggunakan Rukyatul Hilal atau pengamatan hilal, juga metode hisab (perhitungan bulan Hijriyah). Namun terkadang akhirnya terjadi perbedaan pendapat.

Dengan adanya penentuan puasa lebih awal, begitupun sebaliknya. Jika Rukyatul Hilal dan hisab hasilnya masih dipertanyakan, lalu cara apalagi yang bisa dilakukan agar hilal benar-benar terverifikasi ketepatannya.

hilal

Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Nahdlatul Ulama (LF PBNU), KH Sirril Wafa menuturkan, prediksi posisi hilal, baik ketinggian dari ufuk barat atau jarak bulan dan matahari saat terbenam, azimuth, elongasi, ketebalan hilal dan sebagainya itu diperoleh dari hisab permodelan. Serta sifatnya hipotesis verifikatif (hasil sebelumnya).

Sirril menjelaskan, dari sudut pandang ilmiah, keabsahan sebuah hipotesa harus terverifikasi/dibuktikan. Dalam hal ini, ya, melalui observasi lapangan atau dalam bahasa agama Rukyatul Hilal.

"Karena itu hisab sebagai langkah teoritisnya, rukyat mengujinya atau pembuktiannya. Makanya di kalangan NU rukyat dan hisab tidak boleh dipisahkan meskipun bisa dibedakan," katanya saat dihubungi Okezone, Kamis (23/4/2020).

Namun jika rukyatul hilal dan hisab belum bisa dibuktikan keabsahannya, maka satu-satunya langkah yang diambil adalah istikmal/menyempurnakan umur bulan sya'ban menjadi 30 hari.

"Dalam hal ini awal puasa bisa jatuh pada Sabtu, 25 April 2020. Tapi kalau ada yang berhasil, maka berarti hasil hisab terverifikasi, dan malam nanti (23/4/3030) mulai sholat tarawih," pungkasnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini