Pandemi COVID-19, Sahkah Bayar Zakat Fitrah Tanpa Bersalaman?

Jum'at 24 April 2020 10:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 04 24 616 2204110 pandemi-covid-19-sahkah-bayar-zakat-fitrah-tanpa-bersalaman-kAE8A1ZJZZ.jpg Foto: Okezone

PANDEMI virus corona COVID-19 memiliki dampak besar bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Wabah ini juga mendorong otoritas agama untuk menyesuaikan ketentuan pembayaran dan penyaluran zakat.

Menunaikan zakat fitrah merupakan salah satu kewajiban di bulan Ramadhan sebagai bentuk penyucian jiwa yang diberikan kepada kelompok rentan seperti fakir miskin. Zakat fitrah biasanya diberikan di akhir Ramadhan agar Muslim yang masuk dalam kelompok rentan bisa ikut merayakan Idul Fitri. Di tengah pandemi COVID-19, pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan lebih cepat. .

"Sebelum Ramadan, bulan Syaban itu tidak boleh. Tapi kalau sudah bulan Ramadan, dia boleh keluarkan. Itu tidak ada fatwanya, tapi ulama sudah banyak berpendapat seperti itu," kata Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, dikutip BBC News Indonesia, Jumat (24/4/2020).

Dia juga meminta para pengelola zakat mengatur secara hati-hati distribusi zakat fitrah karena masa pandemi virus corona tak bisa diprediksi. "Oleh karena itu, bagi saya terpikir kalau orang berlomba-lomba mengeluarkan hari ini lalu tidak ada yang tercadangkan untuk bulan depan, ngeri juga," kata Anwar.

Sebagian ulama berpendapat, zakat fitrah baru sah ketika terjadi pertemuan antara pemberi dan penerima dengan membaca doa niat dan bersalaman. Pandangan ini diikuti sebagian besar Muslim di Indonesia. Tiap tahun, antara pemberi, pengelola atau penerima zakat bertemu langsung dengan membaca doa niat dan bersalaman. Biasanya dilakukan di masjid atau temu muka dengan penerima zakat.

Kendati demikian kata Anwar, ketentuan tersebut tidak wajib, apalagi di masa pandemi. Anwar berpandangan, umat Islam sebaiknya meninggalkan sesuatu yang baik, seperti bersalaman demi menghindari penularan virus corona.

"Bersalaman itu tak wajib. Sementara menghindari diri dari penyakit kan wajib. Berbentur antara yang sunah dan yang wajib mana yang didahulukan? Yang wajib yang didahulukan," ungkapnya.

Selain zakat fitrah yang wajib dikeluarkan tiap Ramadhan, umat Muslim juga punya kewajiban untuk membayar zakat maal (harta). Bedanya, zakat maal tak mesti dikeluarkan pada bulan Ramadan.

Zakat maal wajib dibayar seorang Muslim yang telah memenuhi syarat kepemilikan harta benda sedikitnya senilai 85 gram emas (nisab) dan telah memiliki harta tersebut selama satu tahun (haul). Harta ini harus dikeluarkan pemiliknya sebesar 2,5 persen sebagai zakat maal.

Anwar mengatakan, kebanyakan muslim di Indonesia membayar zakat maal di bulan puasa karena pahalanya besar. Namun kebiasaan membayar zakat maal di bulan Ramadan ini bisa disesuaikan tergantung kondisi.

Lebih lanjut dia mengatakan, pembayaran zakat maal di masa pandemi virus corona dapat dikeluarkan meski belum mencapai waktu satu tahun kepemilikan. "Kalau harta sudah lebih satu nisab, dibayar saja sekarang, nanti dihitung (ketika jatuh tempo)," katanya.

Dia mencontohkan, jika seorang Muslim telah memenuhi syarat untuk membayar zakat maal, punya jatuh tempo membayar pada tanggal 20 Ramadhan, maka ia bisa mengeluarkan sebelumnya. Pengeluaran zakat maal sebelum waktunya ini kemudian dihitung menjelang tanggal 20 Ramadhan.

"Tapi karena orang butuh, masyarakat butuh dia bayar sekarang belum bulan Ramadan, itu nanti tanggal 20 dia hitung. Sudah berapa zakat dia keluarkan. (Misalnya) ternyata sudah 60 persen yang sudah dikeluarkan, ya tinggal 40 persen lagi (dibayar)," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini