Momentum Merawat Rasa Malu

Sabtu 02 Mei 2020 03:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 01 330 2207858

Sebagai orang (beragama) Islam tentunya kita akan terus berusaha untuk selalu memelihara, menjaga, merawat rasa malu. Pasalnya, malu itu sebagian daripada iman dan menjadi petanda atas tegaknya risalah Islam.

Saking pentingnya memelihara malu, Rasulullah bersabda, “Di antara perkataan para Nabi terdahulu yang masih diketahui banyak orang pada saat ini adalah jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR. Bukhari) dan “rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan.” (HR. Bukhari Muslim).

Namun, memasuki bulan Ramadhan, ternyata masih banyak dari sebagian kita yang tidak melakukan ibadah shaum dengan cara membuka warung di siang hari.

Rasa Malu

Bila kita masih memiliki setitik rasa malu dalam sanubari niscaya tidak ada perdagangan itu karena urusan rezeki Tuhan telah mengaturnya dan manusia hanya bisa berikhtiar. Kita tidak perlu khawatir akan kehilangan rezeki bila menutup warung di siang hari. Boleh jadi dengan cara tidak berjualan di siang hari sebagai wujud menghormati yang berpuasa dan buka saat malam tiba kita meyakininya rezeki yang didapat akan semakin bertambah dan berkah.

Untuk yang menjalankan puasa pun tidak akan melakukan aksi tak terpuji dalam bentuk sweeping, pengrusakan terhadap mereka yang menjajakan hidangan (umat Islam) karena mereka terbentengi keimanannya untuk tetap menjaga kesucian dan berusaha menahan diri supaya berprasangka baik dan menabar kebaikan terhadap seluruh manusia.

Memang puasa di siang hari itu lebih utama daripada malam hari dan lebih berat tantangan dan godaannya. Dalam hadis Nabi menjelaskan ibadah-ibadah yang paling utama ialah yang paling ahmaz (menggigit, berat) dan sebaik-baik amalan yang paling menggigit itu puasa.

Ihwal membudayakan rasa malu ini, dalam kamus bahasa Indonesia malu itu bermakna; merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah) karena berbuat sesuatu yang kurang baik; segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut; kurang senang (rendah, hina).

Menurut Ali Ahmadil Jurjawi, pemikir Mesir menguraikan puasa adalah sebagian dari sepenting-penting syari (manifestasi religiusitas) dan seangung-agung qurbah (amalan mendekatkan diri kepada Tuhan). Bagaimana tidak, pahala puasa itu adalah rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya, yang tidak termasuki oleh sikap pamrih.

Seseorang yang berpuasa menahan dirinya dari syahwatnya dan kesenangannya sebulan penuh, yang dibalik itu ia tidak mengharapkan apa-apa kecuali Wajah Allah Taala. Tidak ada pengawas atas dirinya selain Dia. Maka hamba itu mengetahui bahwa Allah mengawasinya dalam kerahasiaannya (privacy) dan dalam keterbukaanya (publicity).

(Baca Juga : Begini Cara Mendidik Anak di Zaman Modern Menurut Abdul Somad)

Maka ia pun merasa malu kepada Tuhan yang Maha Agung itu untuk melanggar larangan-larangannya, dengan mengakui dosa, kezaliman dan pelarangan-pelarangan yang pernah ia lakukan. Ia merasa malu kepada Allah jika nampak olehnya, bahwa ia mengenakan baju kecurangan, penipuan dan kebohongan. Karena itu ia tidak berpura-pura, tidak mencari muka dan tidak pula bersikap mendua (munafik). Ia tidak menyambunyikan persaksian kebenaran karena takut kekuasaan seoarang pemimpin (pembesar).

Ibadah puasa di siang hari ini erat kaitanya dengan riyadlah (latihan keruhanian), untuk semakin baik dan utama karena akan kuat membekas pada jiwa dan raga orang yang melakukan puasa ini. (Nurcholish Madjid, 2000: 6 & 9)

Rasa Cinta

Bagi Bambang Q-Anees, Ketua Prodi Religious Studies, puasa itu rahmat. Semua orang harus merasakan manisnya rahmat itu. Maka warung-warung diserukan untuk ditutup agar semua orang merasakan manisnya ibadah puasa Ramadhan. Mereka seharusnya melarang bukan membenci, merusak.

Bila kita bertanya pada relung hatinya terdalamnya, apa alasan mereka melarang warung makanan? Pasti mereka akan menjawabnya, cintaku yang mendorong untuk melarang aktivitas mereka. Kami ingin semua orang tidak ketinggalan pada pesta Ramadhan ini. Momen ini hanya setahun sekali, belum tentu tahun depan mereka dapat merasakannya. Memang setiap larangan ini tampak keras, tapi ketahuilah setiap larang agama adalah bentuk ekspresi dari rasa cinta yang menginginkan semua kekasihnya tidak terjebak pada kenikmatan sesaat seraya memilih kenikmatan tiada tara.

(Baca Juga : Jawaban Gus Miftah Atas Isu Kiamat 15 Ramadhan)

Puasa itu tidak sekedar tidak makan minum dan berhubungan intim pada siang hari. Puasa harus bisa menahan prasangka buruk. Jangan biarkan pikiran kita terlalu menghakimi perilaku orang lain. Berpuasa berarti masuk ke dalam dirimu dan memperbaikinya. Memang ada pendapat Ramadhan tak seharusnya menutup semua warung makanan karena saudara kita yang muslim sedang dalam perjalanan (safar), para muslimah yang menstruasi, hamil, menyusui itu membutuhkan warung makanan.

Bila kita menjalankan puasa dengan penuh rasa cinta, maka semua orang (non muslim) akan merasakan kebahagiaan, bukannya ketakutan makan minum di muka umum. Akan tetapi para ulama itu memikirkan pendidikan bagi belia. Mereka ingin lingkungan ini kondusif untuk mendidik generasi muda agar bisa berpuasa dengan baik tanpa peluang sedikit pun untuk ingkar.

Kalau puasa lahir dan batin dengan pikiran yang tidak iri ketika melihat orang yang tidak berpuasa. Dengan tindakan yang penuh cinta, bahkan pada saat memberikan larangan, kenapa tidak dibiarkan saja warung-warung itu dibuka?

Menutup warung secara paksa demi pendidikan anak-anak dan belia sama saja dengan memberikan kepalsuan. Wajarlah warung-warung itu dibuka agar anak-anak mulai belajar berpuasa sepenuh hati dengan ujian terberatnya.

(Baca Juga : Putuskan Hijrah, Begini Gaya Hijab Artis-Artis Mualaf)

Bukankah puasa itu innerwordly ascetisme, pengandalian diri dengan tetap berada dalam kehidupan nyata, tetap beraktivitas seperti biasa?. Bukankah inti puasa itu pelatihan agar kita tetap beriman dan bertakwa, bahkan di tengah lingkungan yang paling rusak sekalipun. Jadi membersihkan ruang pulik dari mereka yang tak berpuasa akan membelokkan tujuan mulia dari puasa.

Puasa ternyata bukan sekedar tidak makan minum dan jima itu baru pintunya. Begitu kita lapar dan haus seharian, seraya nafsu untuk marah, ingin diperhatikan dan dihormati, merasa paling ada di jalan lurus memuncak. Bila kita sanggup mengendalikannya maka puasa itu menjadi shaum sebenar-benarnya. Namun sungguh susah betul dalam melakukan dan memperaktikannya. (Radea Juli A Hambali dan Dede Syarif [ed], 2010:25-26)

Sejatinya momentum puasa di bulan Ramadhan ini harus menjadi kawah candradimuka (madrasah ruhaniyah) yang dapat melahirkan peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh dan tidak menciderai kemanusiaan dengan tidak melakukan perbuatan tak terpuji, kotor, lalim dan berdosa.

(Baca Juga : Gaya Hijab Penyanyi Tere, Mualaf yang Kini Gencar Berdakwah)

Dengan demikian, kehadiran puasa Ramadhan harus dijadikan momentum awal sebagai wahana pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka, nafsu, keinginan untuk membuka (menertibkan) warung karena merasa malu atas perbuatan ini.

Mudah-mudahan dengan cara merawat rasa malu ini kita mendapatkan kebahagiaan dalam menjalankan puasa. Petuah Rasulullah tentang pentingnya menjaga (mengendalikan, menahan) diri saat shaum perlu kita renungkan secara bersama-sama, sehingga kita tidak sia-sia dalam melakukan ibadah puasa ini.

“Barang siapa tidak mampu meninggalkan dengki (perkataan kotor) dan mengerjakannya, maka sesungguhnya Allah Swt tidak memiliki kepentingan baginya untuk meninggalkan makanan dan minumannya; Banyak orang berpuasa, tetapi dari puasanya ia tidak mendapatkan sesuatu, kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Oleh : Ibn Ghifarie

Penulis bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini