Meniti Jalan Rohani, Meraih Cahaya Ilahi

Sabtu 02 Mei 2020 05:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 01 330 2207863 meniti-jalan-rohani-meraih-cahaya-ilahi-KQHINS1tku.jpg

Sungguh tidak pelak lagi, gemerlap modernitas dan globalisasi acapkali menyempitkan ruang spiritual dan mengubur rohani manusia.

Tentunya, terkubur bersama dahsyatnya kosombongan dan keangkuhan. Alhasil, manusia mudah terseret pada wajah nihilitas di hadapan yang Maha Agung. Tak ada yang lain yang tampak kecuali hanya semburan keserakahan yang meniupkan banyak mafsadah (kerusakan) pada kehidupan.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia seperti sangkakala Allah yang ditiupkan untuk manusia. Suatu seruan untuk mencahayakan kembali rohani yang tengah tertutup debu kemungkaran.

Sesungguhnya, pandemi ini telah menghadirkan ruang ilahiyah (furshoh) kepada kita agar senantiasa bermuhasabah dan memetik hikmah dari setiap peristiwa yang muncul. Bahkan, karena pandemi ini, kita tahu ‘jalan pulang’ ke rumah yang selama ini seolah hanya menjadi tempat singgah atas nama kesibukan di luar.

(Baca Juga : Gaya Hijab Penyanyi Tere, Mualaf yang Kini Gencar Berdakwah)

Dalam Al-Qur’an, surat Al-Mulk, ayat (1 & 2) patut kita renungi, “Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, lagi Maha Pengampun”. Pandemi adalah ujian sekaligus alarm Allah yang nyata agar kita senantiasa beristigfar dan memperbanyak amal sholeh.

Jauh sebelum pandemi Covid-19, keangkuhan modernitas dan globalisasi tidak hanya menenggelamkan rohani manusia tapi juga melenyapkan keseimbangan alam semesta. Manusia seperti mati rasa terhadap parahnya polusi dan pemanasan global yang terus meningkat. Keangkuhan telah mengubur rasa peduli terhadap hilangnya keseimbangan alam.

Daratan, lautan, dan udara menjadi kotor karena keangkuhan yang diumbar. Pemanasan global meningkat karena mesin-mesin industri dan transportasi yang tidak pernah berhenti. Bumi mencapai situasi hyperaktif dan terus bekerja dengan berbagai keserakahan manusia.

(Baca Juga : Putuskan Hijrah, Begini Gaya Hijab Artis-Artis Mualaf)

Dibalik pandemi Covid-19 tersimpan hikmah penting dari yang Maha Agung untuk perbaikan alam semesta yang terkoyak karena ulah manusia. Bumi sedang bergerak menata diri karenanya. Air dan udara juga jadi lebih bersih. Laut lebih tenang dan makhluk-makhluk Tuhan menemukan kembali kehidupannya. Itulah sebagian hikmah dibalik pandemi Covid-19 yang sepatutnya kita renungi bersama.

Pada saat alam semesta tengah bergerak memperbaiki diri, tentu situasi ini juga menjadi momentum untuk me-lockdown nafsu-nafsu basyariah kita. Bulan suci ini adalah waktu yang tepat untuk menancapkan fondasi-fondasi spiritual dalam rangka menghidupkan kembali rohani kita. Segala aktivitas ibadah perlu ditautkan dengan hati dan tercermin dalam tindak tanduk kita. Bersama alam semesta, kita mesti bergerak seiring untuk mengurangi nafsu yang menghijabi ruang ozon spiritual agar mampu dan siap menangkap cahaya ilahi.

Singkatnya, pandemi Covid-19 dan apa yang mengiringinya, kita terima dengan penuh kesabaran dan keikhlasan dengan senantiasa mengharap ridlo dari Allah Swt. Kita yakini, ini cara yang Maha Kuasa memelihara langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya (QS, Al Dukhan ayat 7). Dalam surat yang lain Allah menegaskan, “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS, Al Baqarah ayat 155). Sikap sabar akan menjadi kunci kita untuk memutus mata rantai Covid-19 sekaligus kesiapan kita meraih cahaya ilahi.

(Baca Juga : Jawaban Gus Miftah Atas Isu Kiamat 15 Ramadhan)

Ujian pandemi Covid-19 di bulan suci ini akan menjadi jalan syahid yang sangat bernilai bagi yang bersabar. Tidak ada yang patut menjadi sandaran kita kecuali Allah Swt. Hanya kepada-Nya kita minta pertolongan dan perlindungan. Itulah pentingnya memperbanyak zikir dan senantiasa bersyukur atas kenikmatan yang diberikan Allah (QS, Al Baqorah, 152-153). Semoga jalan rohani menuju cahaya ilahi ini senantiasa Allah lapangkan untuk umat manusia.

Kepatuhan kita kepada seruan, himbauan atau bahkan larangan pemerintah adalah juga bagian dari jalan syahid dalam melawan pandemi Covid-19. Pastikan stay at home tetap kita jalani dengan penuh kesabaran dan bermunajat kepada Allah Swt. Diam dan beraktivitas di rumah adalah salah satu bentuk bantuan yang besar, terutama bagi tenaga medis yang saat ini berada digarda terdepan dalam membasmi pandemi Covid-19.

(Baca Juga : Begini Cara Mendidik Anak di Zaman Modern Menurut Abdul Somad)

Kepatuhan kita kepada pemerintah adalah cermin ketaatan kita kepada ajaran Nabi Muhammad SAW. Nabi bersabda, "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu," (HR: Bukhari dan Muslim). Itulah perintah Nabi untuk mengisolasi mandiri (karantina) di saat wabah melanda kita.

Patut diingat, dalam suasana yang penuh keprihatinan karena Covid-19 ini, kita tidak boleh megurangi kesyukuran dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah-ibadah di bulan Ramadlan. Peristiwa ini menjadi rahasia Allah yang akan mengembalikan kehidupan keluarga kita kepada cahaya rohani ilahi yang kerapkali terkoyak karena ‘wabah’ modernitas dan globalisasi. Sabarlah, mari jadikan rumah kita sebagai pusat taman surga yang memancarkan cahaya ilahi ke seantero negeri.

Dalam surat Al-Tahriim (6), Allah berfirman, “wahai orang-orang beriman. lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”

Pandemi Covid-19 mestinya tidak hanya menjadi pemantik untuk merestorasi diri tapi juga penting untuk kembali menginjeksi nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupan keluarga. Oleh karena itu, merenungi hikmah di balik pandemi Covid-19 dengan penuh kesabaran dan keikhlasan adalah ikhtiar kita untuk meniti jalan rohani menuju cahaya Allah SWT.

Oleh : Wardi Taufiq, S.Ag., M.Si.

Sekretaris Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya