Mata Pelajaran Madrasah Ramadhan

Selasa 12 Mei 2020 00:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 11 330 2212405 mata-pelajaran-madrasah-ramadhan-ni1ds37O04.jpg Madrasah Ramadhan (Foto: Shutterstock)

Ramadhan merupakan madrasah kehidupan. Di dalamnya ada banyak sajian mata pelajaran keutamaan. Penuntun bersikap, berpikir, beramal dan jalan spiritual menuju Tuhan. Ibadah ekslusif, karena langsung berkaitan dengan Allah Yang Maha Rahman. Ujiannya pun begitu banyak, sebanyak keagungan madrasah Ramadhan.

Dalam kondisi prihatin seperti saat ini, di mana corona sedang mewabah dan meluluhlantakan sendi kehidupan, mata pelajaran ibadah ramadhan dapat menjadi kekuatan. Mata pelajaran itu antara lain ikhlas, jujur, sabar, tawakal, syukur dan saling tolong menolong (ta’awun).

Ramadhan mengajarkan ikhlas karena ibadah shaum tidak diketahui oleh orang lain. Apakah shaum atau pura-pura, hanya kita dan Allah Yang Maha Tahu yang tahu. Dalam ikhlasnya shaum membutuhkan kejujuran. Memberi oleh tangan kanan, tak diketahui tangan kiri. Jujur artinya hati nurani sebagai penuntun diri. Jujur pada diri sendiri, sehingga tak ada yang dibohongi.

Ihlas dan jujur merupakan dua sikap yang langka di negeri ini. Ketika banyak di antara kita, khususnya pejabat publik yang lebih suka pencitraan dan kongkalingkong. Pada saat kondisi memprihatinkan dan butuh langkah cepat bantuan kemanusiaan, masih saja terjadi rebutan panggung pencitraan. Padahal di setiap jeritan umat, ada tumpukan tagihan dosa di hari pembalasan.

Shaum mengajarkan sikap sabar dan tawakal. Sabar untuk menjalani letih dan lapar dari imsak hingga waktu berbuka tiba. Sabar pada saat berbuka shaum, agar tidak buru-buru makan, atau nanti akan cepat kekenyangan. Akhirnya bukannya mengisi malam shaum dengan ibadah, yang ada kita pulas ketiduran.

Sabar merupakan salah satu modal internal yang dimiliki manusia. Sabar dimaknai sebagai upaya menahan jiwa dari hal-hal yang tidak dapat dibenarkan oleh logika dan wahyu. Bentuknya antara lain berupa ketabahan menghadapi musibah, menghadapi godaan hidup, dalam peperangan, menahan marah dan dalam menghadapi bencana yang mencekam.

Setelah berproses mengikuti tahapan madrasah Ramadhan, hasilnya seperti apa, mari serahkan kepada Tuhan. Berserah diri kepada Allah Swt setelah usaha maksimal. Tawakal diharuskan ketika manusia sudah tidak mampu lagi mengendalikan keadaan. Namun, terkadang banyak Muslim yang keliru dalam memaknai tawakal. Mereka menyerahkan segalanya kepada Allah Swt tanpa ada usaha sedikit pun. Padahal, tawakal diwajibkan ketika keadaan di luar kemampuan manusia untuk mengubahnya dan tidak diharuskan tawakal ketika masih ada kemungkinan dan kemampuan untuk mengubahnya.

Apapun hasilnya, selalulah menerimanya dengan bahagia karena Tuhan tahu yang terbaik untuk hambanya. Syukur adalah kekuatan penerimaan dan rasa terimakasih yang membahagiakan. Jika segala puji milik yang Maha Rahman dan Rahim, maka syukur adalah bagian dari peneguhan atas segala puji itu.

Merasa cukup bukan berarti cukup, namun tak ada batasan saat manusia itu hidup, selalu ada kurang. Dengan sikap qanaah, tak perlu iri dengan pencapaian orang lain, malahan ikut bahagia di hati. Belajarlah pada perut kita saat berbuka, hanya sanggup menerima sepiring nasi, segelas air minum dan sepiring kecil cemilan, tak lebih dari itu. Ketika berlebihan, badan akan bereaksi, rasa sakit membebani diri. Tengoklah ke bawah, sangat banyak saudara seiman yang susah.

Oleh karena itu, jadikan sikap saling tolong menolong (ta’awun) sebagai kebiasaan. Perbedaan kaya dan miskin hendaknya dibingkai dengan sikap ta’awun. Berat memang, karena berbagi itu butuh kekuatan hati. Diilustrasikan Alquran seperti mendaki, melelahkan dan belum tentu semua orang mau mengikuti. Namun Allah Swt mengingatkan, kita harus terbagi walau dalam kondisi sempit, atau bahkan tengah kelaparan.

Teruslah belajar dan mengasah kemampuan, agar sebagian kecil mata pelajaran dari madrasah Ramadhan benar-benar dikuasai, dipahami dan dapat diamalkan. Menjadi kekuatan, agar tangguh melewati gelombang besar corona yang tengah menjadi ujian kemanusiaan. Wallaahu’alam

Oleh : Iu Rusliana

Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya