10 Amalan Batin di Tengah Pandemi Covid-19

Selasa 19 Mei 2020 04:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 18 330 2216158 10-amalan-batin-di-tengah-pandemi-covid-19-NrGcaBAukE.jpg

Di tengah pandemi Covid-19, ibadah puasa tahun ini berasa istimewa. Dikatakan istimewa karena beberapa ritual keagamaan yang lazimnya dilaksanakan di masjid, seperti sholat tarawih, sholat Jumat, dan tadarusan ditiadakan atas anjuran pemerintah untuk mencegah penyebaran virus mematikan tersebut.

Pemerintah melalui berbagai perangkatnya meminta agar seluruh warga masyarakat yang masuk dalam zona merah untuk tinggal di rumah (stay at home). Perintah ini tentu tidak mudah bagi sebagian kalangan, namun karena untuk kebaikan bersama, maka seyogyanya dilaksanakan dengan baik.

Ada banyak hikmah yang bisa diambil dari stay at home, di antaranya memungkinkan untuk menjalankan ibadah puasa tanpa dibayang-bayangi rasa stres karena harus berkejaran dengan jadwal kereta di pagi hari untuk bisa datang tepat waktu di kantor. Stay at home yang juga diikuti work from home (bekerja dari rumah), yang juga memberi peluang untuk bisa berbuka puasa bersama keluarga sebulan penuh.

Kesempatan seperti itu, bagi kebanyakan para pekerja kantoran di Jakarta, adalah kesempatan langka, mengingat antara jarak rumah dan kantor yang tidak dekat. Belum lagi suasana macet menjelang berbuka puasa, semakin memperlama sampai di rumah. Luangnya waktu tersebut tentu bisa digunakan untuk semakin ber-takarrub kepada Allah SWT dengan memperbanyak sholat malam, dzikir, dan amalan-amalan ibadah lainnya, seperti membaca Alquran.

(Baca Juga : Kisah Nabi Musa Mencari Obat Sakit Perut dan Teguran Allah)

Untuk amalan yang terakhir tersebut, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghazali memberi nasehat sepuluh “amalan batin” dalam membaca Alquran, sebagai berikut.

Pertama, Fahmu Ashl al-Kalam, yaitu memahami akan keagungan Kalam Allah. Seorang hamba yang sedang membaca Alquran hendaknya paham akan keagungan dan ketinggian kalam, anugerah, dan taufiq Allah terhadap hambanya, terutama pada saat Alquran diturunkan dari arsy-Nya yang begitu tinggi sampai pada derajat bisa difahami hamba-Nya.

Kedua, At-Ta’dhim Lil Mutakallim, yaitu pengagungan Yang Berkalam (Mutakallim). Pada saat kita membaca Alquran, seyogyanya menghadirkan dalam hati kita akan keagungan dan kebesaran Allah dan mengetahui bahwa yang kita baca bukanlah dari perkataan manusia.

(Baca Juga : 4 Nabi yang Dipercayai Masih Hidup Sampai saat Ini)

Oleh karenanya, sebelum membacanya, disarankan dalam keadaan suci. Menurut Imam Ghazali, pengangungan Kalam adalah pengangungan Mutakallim, maka tidak akan pernah timbul pengangungan Mutakallim selama tidak bertafakkur tentang sifat-sifat dan keagungan Allah SWT.

Ketiga, Hudhuur Al Qalb, yaitu menghadirkan hati dan meninggalkan bisikan nafsu. Pada saat membaca Alquran, seharusnya hati dan pikiran kita, hanya tertuju kepada Alquran, tidak ke yang lain. Karena orang yang mengagungkan Kalam yang dibacanya itu, merasa gembira dan bersuka hati dengan bacaannya dan tidak berlengah hati darinya. Orang yang sedang riang gembira dengan yang sedang dibaca, niscaya hatinya tidak kemana-mana selain kepada yang sedang dibacanya.

Keempat, At-Tadabbur, yaitu merenungkan dan meresapi setiap bacaan dalam Alquran. Kadang kala kita hanya konsen membaca saja tanpa berusaha untuk meresapi apa yang kita baca. Oleh karenanya, kita disunnahkan untuk membaca Al-Quran secara tartil agar memungkinkan untuk tada’bbur dengan batin.

(Baca Juga : 11 Macam Pahala untuk Orang yang Membayar Zakat Fitrah)

Kelima, At-Tafahhum, yaitu memahami dan menafsiri setiap ayatnya dengan tafsir yang benar. Hal ini diperlukan karena karena Al-Quran itu menyebut sifat-sifat Allah, menyebut af’al-Nya, menyebut hal ikhwal Nabi-Nabi, dan menyebut berbagai hal orang-orang yang mendustakan, serta bagaimana mereka itu binasa. Selain itu, juga menyebut segala perintah dan larangan-Nya, serta menyebut tentang surga dan neraka. Hal demikian menjadi penting untuk memahaminya dengan tafsir yang benar.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Keenam, At-Takholli ‘An Mawani al-Fahm, yaitu menjauhi dari hal-hal yang bisa menghalangi pemahaman terhadap Alquran. Menurut Imam Ghazali, ada empat hal yang bisa menghalangi seseorang mamahami maksud dari Al-Quran, yaitu: hanya terpaku pada pengucapan huruf sehingga lupa untuk memaknainya, mengikuti satu madzhab dengan kaku dan fanatik, selalu berbuat dosa (sombong dan hatinya penuh cinta harta), serta membaca tafsir secara tekstual dan manafsir dengan akalnya sendiri.

Ketujuh, At-Takhshis, yaitu pengkhususan dalam arti bahwa dia mengumpamakan dialah yang dimaksud dengan tiap-tiap kata yang ditujukan dalam Alquran. Saat ia membaca ayat perintah dan larangan, maka niscaya dia merasa dialah yang dilarang dan yang disuruh.

Kedelapan, At-Ta’atsur, pembekasan yaitu hendaknya seorang hamba memiliki hati yang peka dan mudah tersentuh pada saat menerima pesan dari ayat Alquran yang sedang ia baca. Karena ia menghayati dari yang dibacanya itu, maka timbul bekas dalam hatinya dengan berbagai bekas sesuai dengan bermacam-macam ayat yang dibacanya.

Kesembilan, At-Taraqqi, peninggian yaitu selalu meningkat hingga seakan-akan dia mendengar ucapan dari Allah secara langsung, dan bukan mendengarnya dari dirinya sendiri. Menurut Imam Ghazali, ada tiga tingkat dalam membaca Alquran, yaitu:

(1) seorang hampa mampu membayangkan bahwa seolah-olah dia membaca Alquran langsung di hadapan Allah, dan Allah sedang melihat serta mendengar bacaannya tersebut. (2) hatinya yakin bahwa Allah sedang melihatnya, bertutur kata pada dengan penuh kelembutan, dan membisikinya dengan penuh kenikmatan dan kebaikan. (3) Di setiap ucapan ia melihat orang yang berucap dan dalam kata-kata itu, ia mengetahui sifat-sifat-Nya.

Kesepuluh, At-Tabarri, pelepasan yaitu seorang hamba mampu melepaskan diri dari daya dan kekuatannya sendiri, serta melepaskan diri dari cara pandang bahwa dirinya adalah suci. Karenanya, apabila membaca ayat-ayat yang mengandung janji kesenangan dan pujian bagi orang-orang baik (shalihin), maka tidaklah memandang dirinya yang demikian.

Tetapi memandang bahwa orang-orang yang shiddiq, yang dimaskud oleh dalam ayat-ayat tersebut, dan berharap kiranya dia dihubungkan oleh Allah dengan orang-orang itu. Dan, apabila membaca ayat-ayat yang mengandung cacian dan celaan terhadap orang-orang yang durhaka dan lalai, maka ia mengganggap dirinya berada di situ, dan berharap semoga Allah mengampuninya.

Demikianlah sepuluh “amalan batin” yang dinasehatkan oleh Imam Ghazali. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa melakukan apa yang dinasehatkan tersebut dalam menata hati pada saat kita membaca Alquran, sehingga hati kita menjadi tentram, tenang, dan damai meski di tengah pandemi Covid 19.

Semoga dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, Allah SWT mengampuni segala kesalahan kita dan menerima segala amalan yang pernah kita lakukan, termasuk amalan membaca Alquran. Amin ya Robbal Alamin.

Abdul Ghoffar Husnan

Sekretaris Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP-ISNU) 2018-2023.

Alumni Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Dukun, Gresik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya