Share

Mengubur Mimpi Lebaran Bersama Keluarga di Tengah Pandemi Corona

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 18 Mei 2020 15:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 18 614 2215946 mengubur-mimpi-lebaran-bersama-keluarga-di-tengah-pandemi-corona-Hxalq0a66s.JPG Dokter Arbusa bersama rekannya sesama tenaga medis yang bertugas di RS Darurat Wisma Atlet, Jakarta (Foto: Dokumentasi Pribadi)

TENAGA medis jadi garda terdepan dalam menangani para pasien yang terjangkit virus corona (Covid-19). Bahkan mereka rela kehilangan momentum lebaran berkumpul bersama keluarga. Namun, di sisi lain, wacana pemerintah untuk melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terus mengemuka.

"Jangankan lebaran, berpikir untuk bulan puasa bersama keluarga saja kami sudah tidak berani memikirkannya. Yang kami tahu masyarakat kan sekarang ingin mudik. Kami juga. Kami cuma ingin pulang," keluh salah satu tenaga medis Indonesia, Hartati B. Bangsa, melansir BBC News Indonesia, Senin (18/5/2020).

Hartati adalah salah satu dokter yang pertama kali ditempatkan di rumah sakit darurat Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat yang notabene masuk zona merah, di mana tempat seluruh pasien terkonfirmasi Covid-19 dirawat.

Setiap hari ia menangani ratusan pasien terpapar corona. Tahun lalu, Hartati masih bisa mengambil cuti, merayakan lebaran bersama keluarga besar di Ternate, Maluku Utara. Tapi tahun ini, keadaan memaksanya melayani pasien Covid-19, meski kerinduan akan kue lebaran buatan ibunda tercinta akan selalu membayanginya selama bekerja.

"Apalagi nanti tidak bisa pulang, tentu rindu, sedih dan semuanya pasti bercampur. Itu enggak bisa dipungkiri ya, itu manusiawi," tuturnya.

Selain tak bisa pulang kampung karena pembatasan mudik, ada yang paling membuat dirinya sulit meninggalkan 'benteng terakhir' penyebaran virus corona. Ya, karena jumlah pasien setiap harinya terus bertambah.

Dokter Arbusa

"Melihat eskalasi semakin tinggi dan kebutuhan semakin tinggi, tidak mungkin kita bisa duduk diam di rumah, atau kita pulang untuk ritual lebaran," katanya.

Sejak awal RS Wisma Atlet dibuka, Hartati bersama tim kesehatan merawat pasien Covid-19 hingga sembuh. Banyak yang pulang dengan hasil negatif, tapi tak sedikit pula yang terus berdatangan.

Sebagai gambaran, dalam satu tim terdapat 18 dokter. Pada awal di Wisma Atlet dibuka, setiap dokter jaga melayani sedikitnya 100 pasien dalam satu shift. Tapi saat ini jumlah pasien terus membengkak. Satu dokter dapat melayani hingga 300 pasien.

"Jadi memang dengan 18 orang, itu kita masih ngos-ngosan, karena hampir satu dokter itu meng-cover 4-5 lantai. Artinya 200-300 (pasien) dalam satu kali shift. Itu juga masih luar biasa berat kita pikirkan," jelas dia.

Tim dokter kata dia, sulit mengambil cuti lebaran meninggalkan teman-teman yang bekerja di RS Wisma Atlet. "Karena semakin sedikit (dokter), semakin tinggi, artinya beratnya. Risiko kelelahan bagi tim yang ada kan," sebut Hartati.

"Kita bahkan jauh-jauh hari sudah tidak pernah berpikir untuk bulan puasa sama keluarga, apalagi Idul Fitri atau lebaran. Mimpi itu sudah jauh kita simpan di dalam lemari," kata dia.

"Kami juga was-was dengan ritual-ritual bulan puasa dan ritual mudik yang terjadi akan merata di seluruh Indonesia. Kalau merata, saya sendiri agak takut membayangkan," timpalnya mengomentari pelonggaran kebijakan larangan mudik oleh pemerintah.

Dokter Arbusa

Rindu masakan Ibu

Selain Hartati, dokter yang akan mengubur mimpi untuk berlebaran bersama keluarga adalah Arbusa. Dokter asal Lampung ini berjaga saban hari di RS Wisma Atlet hingga lebaran selesai. "Itu jelas orangtua yang sangat dirindukan," katanya.

Rencana waktu lebaran akan dihabiskan bersama tim medis lain di Wisma Atlet. Itu pun dengan segala keterbatasan. "Kalau di sini ya, teman sekamar saja. Teman-teman yang jaga (sudah) jadi saudara-saudara kita. Lagi pula di sini juga kita social distancing, jadi enggak mungkin sampai ngumpul-ngumpul gitu," ucapnya.

Arbusa harus legawa karena lebaran tahun ini bersama keluarga harus ia lewatkan lantaran harus berjuang di benteng terakhir Covid-19. Dirinya berharap masa pandemi di Indonesia segera berakhir, agar ia bisa menikmati masakan orangtua saat lebaran yang tak sempat dicicipinya tahun ini.

"Opor, Seruit makanan khas Lampung. Di sini enggak akan dapat rasanya. Euforia lebarannya ditunda dulu, kelar Covid nanti langsung pulang. Langsung minta masakin kemarin (masakan) lebarannya apa," katanya sambil tertawa kecil.

Bekerja sampai waktu tidak ditentukan

Sementara, Fahrul Aulia Nandana mengaku sudah lebih dari dua bulan tidak pulang ke rumah. Ia bekerja 'sampai waktu yang tidak ditentukan' sebagai perawat di Puskesmas Cipayung, Jakarta Timur.

"Saya harus benar-benar sampai tuntas dulu ini Covid-nya. Baru tenang," ucap Fahrul.

Sebagai tenaga medis di fasilitas kesehatan pertama yang merujuk pasien Covid-19 ke rumah sakit, Fahrul mengaku was-was untuk pulang ke rumah. Sebab, puskesmas tak punya fasilitas ruang khusus untuk menekan partikel virus.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ia juga was-was karena menangani pasien yang belum jelas positif atau negatif virus corona.

"Karena kita tidak tahu pasien itu Covid atau enggak, kalau di puskesmas. Kalau di RS bisa ketahuan, kalau itu benar-benar Covid," kata dia.

Sama halnya dengan Hartati dan Arbusa, Fahrul akan melewati momentum lebaran. Rasa rindu berkumpul dengan keluarga harus disimpan sementara waktu, sampai pandemi selesai.

Fahrul berharap masyarakat disiplin dalam penerapan pembatasan sosial, agar pandemi cepat selesai. "Yang kita tahu kan sekarang masyarakat ingin mudik ke kampung. Kami juga. Kami cuma ingin pulang," tukasnya.

Sebelumnya, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo menegaskan tentang larangan mudik. Tapi perjalanan luar kota tetap diizinkan bagi tiga kelompok masyarakat. Mereka adalah aparatur sipil negara (ASN), karyawan BUMN, masyarakat dengan alasan mendesak, dan WNI yang kembali dari luar negeri.

Kelompok masyarakat ini boleh bepergian ke luar kota dengan sejumlah syarat, termasuk membawa surat tugas dan dokumentasi yang diperlukan. Selain itu, pemerintah memberi izin bagi warga berusia di bawah 45 tahun untuk kembali bekerja meski PSBB masih berlangsung.

Izin bekerja tersebut diberikan untuk 11 sektor usaha yakni kesehatan, bahan pangan atau makanan/minuman, energi, komunikasi dan teknologi informasi, keuangan, logistik, perhotelan, konstruksi, industri, pelayanan dasar pada obyek vital, serta kebutuhan sehari-hari.

Dokter Fahrul

Selain itu, Menteri Agama, Fachrul Razi juga sempat melontarkan opsi untuk melonggarkan pembatasan sosial di tempat ibadah. Hal itu disampaikannya dalam rapat kerja secara virtual dengan Komisi VIII DPR, Senin, 11 Mei 2020 lalu.

Sementara di sisi lain, Juru Bicara Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Halik Malik meminta pemerintah konsisten menerapkan kebijakan pembatasan sosial. "Berharap kebijakan itu tetap konsisten tidak kendur, tidak ada pelonggaran, kemudian tenaga medis, fasilitas kesehatan sistem kesehatan bekerja seoptimal mungkin," kata Halik.

Jika kebijakan pembatasan sosial dilonggarkan, ia khawatir tenaga kesehatan sebagai garda terakhir justru akan kewalahan menangani pasien yang terus berdatangan. "Kalau penularannya dibiarkan terus meluas, episentrumnya kan terus bertambah, akhirnya semakin sulit untuk diatasi," kata Halik.

Senada, Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhillah menyatakan, pemerintah perlu meninjau ulang segala kebijakan yang berkaitan dengan PSBB. Sebab, sampai saat ini kurva orang yang terjangkit Covid-19 masih belum kelihatan pada sampai puncaknya.

"Tiap hari (pemerintah) memberikan penjelasan PSBB, di sisi lain, mulai ada transportasi yang memungkinkan orang bisa berkumpul, dan lain sebagainya," ujar Harif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini