Menjemput Cinta Allah SWT

Sabtu 30 Mei 2020 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 30 330 2221825 menjemput-cinta-allah-swt-UbAL1gZlN6.jpg Menjemput Cinta Allah (Foto: Shutterstock)

Ada berbagai macam pendapat bagaimana seseorang bisa meraih kesuksesan dalam hidup, baik yang disampaikan oleh para pemikir, praktisi maupun para guru kita. Jika kita pahami dari sekian pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kunci untuk meraih kesukesan adalah kompetensi atau kapasitas diri dan relasi yang baik dengan orang lain.

Kompetensi diri yang dimaksud adalah penguasaan kita akan suatu hal tertentu atau yang biasa disebut spesialisasi, kemampuan untuk berinovasi, kesanggupan berpikir kritis, dan keahlian menyelesaikan berbagai macam masalah yang kompleks.

Adapun relasi dan koneksi yang baik biasanya terbangun secara terus menerus dan akan menghasilkan trust (kepercayaan) serta mutual understanding (saling kesepahaman yang menguntungkan)

Dua hal tersebut di atas haruslah ada dan saling melengkapi. Kompetensi yang unggul tanpa dibarengi dengan relasi yang baik kuat, maka seolah segala hal yang dikuasai hanyalah akan terpasung dalam dirinya sendiri. Sedangkan relasi tanpa kompetensi diri, maka seolah orang tersebut akan ‘menghamba’ kepada selain Tuhan dengan berusaha menggantungkan kesuksesannya kepada orang lain.

(Baca Juga : Tradisi Sungkem Lebaran Selebritis, Sesuai Syariat Islam?)

Dua prinsip tersebut bisa kita lihat dari perspektif agama kita, Imam Qurtubi dalam tafsirnya, pada saat menjelaskan ayat ke 152 dari Surah Albaqarah yang artinya “Berdzikirlah (ingatlah) kalian semua kepadaKu maka Aku (Allah) mengingat kalian dan bersyukurlah kalian kepadaKu dan jangan kufur.”

Mengutip Sa’id bin Jabir bahwa yang dimaksud dengan dzikir (ingat) kepada Allah SWT adalah selalu taat kepada-Nya. Barang siapa yang tidak ingat kepada Allah SWT, maka Allah SWT juga tidak akan mengingatnya, walaupun orang tersebut banyak mengucapkan tasbih, tahlil maupun membaca Alquran.

Imam Qurthubi juga menulis bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda “Siapa yang taat kepada Allah maka sungguh dia telah ingat kepada Allah walaupun orang tersebut sangat sedikit sholatnya, puasanya, dan amal salehnya. Adapun orang yang maksiat kepada Allah SWT maka sungguh orang tersebut lupa kepada-Nya meskipun banyak sholatnya, puasanya dan amal salehnya”.

(Baca Juga : Viral Video Imam Sholat Idul Fitri Lari Tinggalkan Jamaah karena Didatangi Polisi)

Dari apa yang disampaikan Qurthubi, kita bisa memahami bahwa mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah (baik) seperti tasbih, tahlil dan tahmid serta melakukan ibadah-ibadah wajib dan sunnah seperi sholat, puasa, zakat, infaq dan sedekah hanyalah merupakan sarana kita menempa kompetensi diri kita dalam beragama. Yang paling penting dari itu semua adalah membangun relasi yang baik dan kuat dengan Allah SWT. Seseorang yang senantiasa yakin hanya ingat kepada-Nya, pada saat yang bersamaan Allah SWT juga akan mengingat orang itu.

Seseorang yang hanya menjalankan ibadah yang diperintahkan oleh-Nya namun tidak dibarengi dengan mengingat-Nya maka dirinya hanya memperoleh kepayahan fisik. Selain itu, orang itu hanya akan mendapatkan kebanggaan diri dengan merasa bahwa dirinya telah banyak beribadah dan merasa mempunyai kompetensi yang cukup dalam beragama.

Adapun pada saat kita berhasil membangun relasi yang kuat dengan Allah SWT dengan selalu berusaha mendekat dan mengingat-Nya di setiap waktu hingga kedipan mata maka Allah SWT akan memberikan cinta-Nya secara total. Seperti yang disampaikan oleh Imam Ghazali bahwa Allah SWT akan mencintai kita dengan cinta yang tulus dan total.

(Baca Juga : 4 Nabi yang Dipercayai Masih Hidup Sampai saat Ini)

Dalam Hadits Qudsi yang dikutip Imam Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah yang artinya bahwa “…apabila Aku mencintai hamba-Ku maka diri-Ku akan menjadi telinga yang dipakainya untuk mendengar, mata yang dipakainya untuk melihat, mulut yang dipakainya untuk berucap, tangan yang dipakainya untuk memegang, dan kaki yang dipakainya untuk berjalan..”

Apa yang disampaikan dalam Hadits Qudsi tersebut hanyalah sebuah perumpamaan kedekatan Allah SWT dengan hamba-hamba-Nya yang berhasil membangun relasi kuat dengan-Nya, sehingga muncul adanya trust (kepercayaan) dan cinta dari-Nya.

Maka dari itu, sudah selayaknya kita sebagai seorang yang beriman menjalani kehidupan dengan satu tujuan yakni hanya mengharapkan cinta Allah SWT semata. Saat kita berdagang, kita menjalankan aktivitas akad jual beli semata untuk mencari rejeki yang halal, saat kita menjadi pemimpin (Presiden, Menteri, Gubernur, walikota bahkan ketua RT) menjalankan amanah dengan senantiasa mengharap Ridho Allah SWT.

Pemimpin yang mencintai Allah SWT akan terus bekerja keras untuk menghilangkan kemiskinan dan ketidak adilan. Mereka tidak akan bisa tidur jika ruang amanahnya tidak dijalankan secara maksimal.

Lelahnya saat menjadi pemimpin terasa hilang, karena mengilhami bahwa Allah telah memerintahkan setiap pemimpin harus memanfaatkan otoritasnya untuk mensejahterakan rakyat, membumi hanguskan segala masalah masyarakat seperti kelaparan, pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan masalah kehidupan bernegara lainnya.

Saat kita menjadi pendidik, (dosen, guru sekolah, guru ngaji) hanya diniatkan semata-mata merawat ilmu-NYA. Dampak dari ilmu yang kita berikan kemudian membuat setiap murid kita dapat memahami bahwa apa yang diberikan gurunya dan kemudian menjadi sebuah gerakan pengetahuan yang semat-mata untuk meyakini segala kebesaran dan keluasan Ilmu Allah.

Saat kita menjadi kader partai politik misalnya, senatiasa setia menjalankan mandat rakyat yang merupakan ciptaan-Nya. Menjadi kader partai tidak hanya sekadar berburu citra lalu mendapatkan kursi kekuasaan, tetapi dengan penuh keimanan mengekspresikan segala titah Allah SWT dengan berusaha menebar manfaat seluas-luasnya untuk manusia lain sebangsa setanah air. Menjemput cinta Allah dengan bermanfaat untuk seluruh umat, tanpa melihat agama, ras, golongan dan strata sosialnya.

Sungguh mulia sebagian besar dari kita, apabila saat beribadah di dunia dengan suka cita kecintaan pada Allah SWT Tuhan Yang Agung, memberikan persembahan total hanya pada-NYA. Ibarat orang yang sangat percaya dan cinta kepada orang lain, maka orang tersebut akan memberi apa saja yang diminta oleh orang yang dicintainya itu. Begitulah gambaran perlakuan Allah SWT kepada kita pada saat Dia sangat mencintai kita.

(Baca Juga: Ketika Kening Bertakwa, Lidah Memfitnah)

Walhasil, kunci kesuksesan hidup seseorang bukan hanya didasarkan pada kompetensi diri yang bersifat rasional-duniawiyah. Seluruh umat Islam harus mengilhami bahwa kompetensi diri yang bersifat ibadah-ukhrowiyah sangatlah utama.

Seorang mukmin (orang beriman) tidak akan hanya bergantung pada relasi yang baik dan kuat dengan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seorang muslim senantiasa meyakini bahwa yang terpenting dalam hidup adalah bergantung pada keberhasilan membangun relasi baik dan kuat dengan Sang Pengatur Alam yakni Allah SWT. Wallahu'alam bishowab.

Ustadz nuha garda

Oleh : Hadiqun Nuha

(Ketua Bidang Keagamaan dan Pluralisme DKN Garda Bangsa/Pengurus PP Ikatan Sarjana Nahlatul Ulama)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini