SEBAGAI seorang muslim, sudah sepatutnya kita mensyukuri segala nikmat pemberian Allah Subhanahu wata'ala. Bersyukur atas pemberian-Nya akan membuat jiwa kita menjadi tenang.
Namun, dalam hidup seringkali nikmat itu hilang seketika dan berganti menjadi musibah yang secara tiba-tiba. Lantas bagaimana kita menghadapi kondisi demikian?
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk senantiasa berdoa agar terhindar dari hilangnya nikmat dan bencana atau musibah yang datang tiba-tiba. Karena hanya dengan doa lah, muslim dapat membentengi dirinya dalam mengarungi kehidupan fana ini. Berikut doa warisan Rasulullah SAW yang bisa diamalkan kita sebagaimana dikutip dari laman muslim.or.id:
Dari Ibnu Umar Radiyallahu’anhuma ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam biasa membaca doa: ‘Allahumma inni a’udzu bika min zawali ni’matika, wa tahawwuli “afiyatika, wa fuja’ati niqmatika, wa jami’i sakhathika’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dari berpindah nya keselamatan-Mu, dari datangannya azab-Mu yang tiba-tiba, dan dari segala murka-Mu),” (HR.Muslim).
Berikut doanya:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ, وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ, وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ, وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
Artinya: Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu, dari beralihnya keselamatan (yang merupakan anugerah)-Mu; dari datangnya siksa-Mu (bencana) secara mendadak, dan dari semua kemurkaan-Mu. (HR. Muslim).
Baca juga: New Normal, Menag Larang Anak-Anak dan Lansia ke Masjid
Maksud dari kata-kata (فَجْأَةِ نِقْمَتِكَ) ialah 'siksa yang tiba-tiba" yaitu berupa bencana dan musibah yang datang mendadak. Syaikh Abdul Mushin Az-Zamili menjelaskan:
ﻓﺠﺄﺓ ﺍﻟﻨﻘﻤﺔ ﺃﻭ ﻓﺠﺎﺀﺓ ﺍﻟﻨﻘﻤﺔ ﻣﻦ ﺑﻼﺀ ﺃﻭ ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻳﺄﺗﻲ ﻋﻠﻰ ﻓﺠﺄﺓ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺳﺒﻘﻪ ﺷﻲﺀ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﺠﺄﺓ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺧﻒ
“Siksa yang tiba-tiba yaitu berupa bencana atau musibah yang datang secara mendadak.Tentunya berbeda dengan musibah yang didahului oleh sesuatu (sebagai awalnya semisal penyakit) dan tidak mendadak, hal ini lebih ringan perkaranya,” (Syarh Bulughul Maram).
Bencana seperti gempa, banjir dan musibah lainnya yang dapat menghilangkan nikmat dan bisa jadi merupakan murka Allah akibat seorang hamba yang banyak lalai menjalankan perintah-Nya.

Oleh karenanya, untuk menghindari terjadinya musibah tiba-tiba sejatinya kita melakukan muhasabah dan segera kembali ke jalan yang diridhoi Allah dan terhindar dari murka-Nya. Sebagaimana Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalahdisebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu),” (Qs. Asy-Syura: 30).
Baca juga: Usai Lockdown, Ini Suasana Sholat Shubuh Berjamaah Perdana di Masjid Nabawi
Bencana atau musibah yang diturunkan kepada manusia bisa jadi tujuannya agar manusia takut kepada Allah dan kembali ke jalan kebenaran. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 59 yang berbunyi:
وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
Artinya: “Tidaklah Kami mengirim tanda-tanda kekuasaan Kami kecuali untuk menakut-nakuti“. (QS. Al-Isra’: 59).