Hukum Menggabung Puasa Syawal dengan Ayyamul Bidh

Hantoro, Jurnalis · Minggu 07 Juni 2020 13:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 07 330 2225737 hukum-menggabung-puasa-syawal-dengan-ayyamul-bidh-hKBYTOC4mP.jpg Ilustrasi puasa. (Foto: Shutterstock)

PUASA sunah enam hari di bulan Syawal merupakan amalan yang memiliki keutamaan sangat besar. Jikalau melaksanakan puasa Syawal usai menunaikan puasa bulan Ramadhan bakal memeroleh pahala berpuasa selama satu tahun penuh.

Hal ini berdasarkan berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam:

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

Artinya: "Barang siapa berpuasa Ramadan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala puasa setahun penuh." (HR Muslim Nomor 1164). 

Sedangkan puasa ayyaumul bidh dijalankan pada hari ke-13, 14, dan 15 bulan hijriah (qomariyah). Puasa ini juga bersifat sunah. Puasa ayyamul bidh disebut juga "hari putih" karena pada malam-malam tersebut bersinar bulan purnama dengan sinar rembulannya yang putih.

Dalam sebuah hadis, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

Artinya: "Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun." (HR Bukhari Nomor 1979)

Dari Abu Dzar, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

Artinya: "Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan hijriah)." (HR Tirmidzi Nomor 761 dan An Nasai Nomor 2425. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadisnya hasan).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata:

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

Artinya: "Kekasihku (yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam) mewasiatkan kepadaku tiga nasihat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: (1) Berpuasa tiga hari setiap bulannya, (2) Mengerjakan Sholat Dhuha, (3) Mengerjakan Sholat Witir sebelum tidur." (HR Bukhari Nomor 1178) 

Lalu bagaimana hukumnya menggabung puasa Syawal dengan ayyaumul bidh?

Mengutip dari Muslim.or.id, Sabtu (6/6/2020), hukumnya boleh dan sah, karena puasa ayyamul bidh adalah ibadah yang ghayru maqshudah bidzatiha atau tidak diperintahkan secara langsung. 

Ketika seseorang melaksanakan puasa tiga hari dalam satu bulan, kapan pun harinya dan apa pun jenis puasa yang dilakukan (yang disyariatkan) maka sudah mendapatkan keutamaan puasa ayyamul bidh.

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin menyatakan:

إذا صام ست أيام من شوال سقطت عنه البيض ، سواء صامها عند البيض أو قبل أو بعد لأنه يصدق عليه أنه صام ثلاثة أيام من الشهر ، وقالت عائشة رضي الله عنها : ” كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم ثلاثة أيام من كل شهر لا يبالي أصامها من أول الشهر أو وسطه أو آخره ” ، و هي من جنس سقوط تحية المسجد بالراتبة فلو دخل المسجد

Artinya: "Jika seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal, gugur darinya tuntutan puasa ayyamul bidh. Baik ia puasa Syawal ketika al-bidh (ketika bulan purnama sempurna), sebelumnya atau setelahnya, karena ia telah berpuasa tiga hari dalam satu bulan. Aisyah Radhiyallahu anha berkata, 'Nabi Shallallahu alaihi wasallam biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, tanpa peduli apakah itu awal bulan atau tengah bulan atau akhirnya.' Ini sejenis dengan gugurnya tuntutan sholat tahiyatul masjid dengan mengerjakan salat rawatib jika seseorang masuk masjid." (Sumber: https://islamqa.info/ar/4015). 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini