Ketika Rasulullah Membatalkan Pernikahan ala Siti Nurbaya

Novie Fauziah, Jurnalis · Sabtu 20 Juni 2020 18:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 20 614 2233515 ketika-rasulullah-membatalkan-pernikahan-ala-siti-nurbaya-1jgRd1AjYz.jpg Ilustrasi (Shutterstock)

JIKA mendengar nama Siti Nurbaya, maka akan teringat kisah perjodohan yang dipaksakan. Ternyata cerita serupa juga pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW. Rasulullah membatalkan pernikahan antara perempuan yatim dan seorang pria kaya raya.

Dikutip dari buku dari buku ‘Fiqih Cinta’ karya Abdul Aziz Ahmad. Di dalam shahifah ‘Amr bin Syu‘aib dari ayahnya dari kakeknya: Ada seorang pria di masa Rasulullah yang mengawinkan putrinya. Padahal sebelumnya ia sudah dilamar lebih dulu oleh (mantan) saudara iparnya.

Kemudian kasus ini sampai kepada Nabi. Beliau tahu bahwa perempuan itu tidak suka dengan pria pilihan ayahnya. Tapi ia ingin dinikahkan dengan saudara iparnya.

Mendengar itu semua, kemudian secara tiba-tiba Nabi Muhammad pun membatalkan pernikahan perempuan itu dengan pria pilihan ayahnya, dan menikahkannya dengan saudara iparnya.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibn Majah. Telah disebutkan sebelumnya hadist Amr bin Dinar dari Thawus dari lbn Abbas r.a. bahwa ada seorang pria yang berkata:

“Wahai Rasulullah di rumahku ada seorang gadis yatim. Ia telah dilamar oleh seorang pria kaya dan seorang pria miskin. Kami lebih suka kepada yang kaya, sedangkan dia lebih suka kepada yang miskin."

Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada yang diinginkan oleh dua orang yang saling mencinta selain menikah.”

Tindakan yang dilakukan oleh Rasulullah tersebut mencerminkan, jika pernikahan dilakukan bukan karena paksaan. Melainkan adanya keinginan dan cinta yang tumbuh dari kedua belah pihak, serta tidak memandang status sosial seseorang.

 

Sementara itu Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani) Ustadz Ainul Yaqin menjelaskan secara rinci, mengenai hal tersebut menuturkan seorang perempuan menolak lamaran laki-laki harus diketahui alasannya.

"Pertama, yang harus dilihat adalah alasan perempuan itu tidak menginginkan pernikahan, apakah ada udzur syari yang mengakibatkan berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan jiwanya. Atau juga karena alasan akan jauh dari ajaran agama ketika dia menikah dengan lelaki tersebut. Beda agama, atau lelaki tersebut dikhawatirkan menjadi pendangkalan keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT," katanya pada Okezone beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Masjid-Masjid di Makkah Akan Dibuka Kembali pada Hari Minggu

Rasulullah SAW pernah bersabda, menjelaskan tentang pasangan yang baik agamanya adalah paling diridhai Allah SWT. Dari Abu Hurairah, beliau mengatakan:

"Apabila ada orang yang kalian ridai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk melamar, maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak lakukan, akan terjadi cobaan di bumi dan kerusakan yang besar.” Di dalam bab ini ada riwayat dari Abu Hatim Al-Muzani dan ‘Aisyah. Tentang hadis Abu Hurairah, ‘Abdul Hamid bin Sulaiman diperselisihkan dalam hadis ini. Al-Laits bin Sa’d meriwayatkannya dari Ibnu ‘Ajlan, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mursal. Muhammad berkata: Dan hadis Al-Laits lebih menyerupai dan beliau tidak menilai hadis ‘Abdul Hamid sebagai mahfuzh,"

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini