Kisah Wanita Pejuang Feminisme hingga Akhirnya Memeluk Islam

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Rabu 01 Juli 2020 18:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 01 614 2239663 kisah-wanita-pejuang-feminisme-hingga-akhirnya-memeluk-islam-EEp2VpfX4L.JPG Laura, pejuang feminisme yang memilih masuk Islam (Foto: About Islam)

PADA dasarnya, gerakan feminisme ialah sebuah gerakan emansipasi wanita yang mendukung adanya kesetaraan dengan kaum laki-laki. Feminisme bukan membenci kaum laki-laki, namun lebih kepada berperang melawan patriarki yang masih membudaya di tengah masyarakat.

Adanya stigma yang masih melekat bahwa perempuan itu lemah dan tak berdaya membuat tak sedikit perempuan yang turut serta melibatkan dirinya dalam gerakan feminisme.

Kisah menarik datang dari seorang feminis asal Amerika Serikat, Laura El Alam. Ia mengisahkan perjalanannya sebagai seorang pejuang feminisme garis keras yang akhirnya memutuskan memeluk Islam saat berusia 25 tahun.

Sebagaimana dilansir dari Aboutislam.net, Rabu (1/7/2020), Laura menceritakan dirinya yang dulu, yang mengakui sebagai seorang feminis sejati. Pemberian label sebagai feminis ini diperkuat dengan kondisi lingkungan pertemanannya, dimana kebanyakan wanita muda di sekelilingnya adalah seorang pejuang feminisme.

Ia menceritakan, latar belakang dari menjadi seorang feminis ialah lantaran seringkali ia menyaksikan bagaimana seorang gadis atau wanita-wanita dewasa tak dihargai oleh pria dilingkungannya, seperti maraknya pelecehan seksual, hingga ditolak di berbagai kesempatan hanya karena mereka seorang wanita.

Baca juga: Moderasi Beragama, Beda Pendapat Jangan Dianggap Lawan

Bahkan, tak sedikit dari acara sinetron genre komedi, film hingga iklan yang tayang mengandung lelucon seks dan menggambarkan karakter perempuan yang hanya dianggap seolah sebagai makhluk tak berdaya dan pantas ditertawakan, seakan seperti benda penarik seksual dengan pengharusan berpakaian minim untuk menarik daya jual sebuah barang, seperti sampo, bir atau mobil.

Tak hanya itu, di sektor bisnis, pria selalu mendapatkan lebih banyak uang dibandingkan rekan kerja wanita. Padahal, pekerjaan yang dilakukan adalah sama persis. Budaya patriarki juga terlihat di lingkungan sekolah, di mana kebanyakan anak perempuan tidak memiliki kesempatan pendidikan yang sama dengan anak laki-laki, dan kemampuan mereka dalam mata pelajaran tertentu, seperti misalnya matematika dan sains juga kerap diremehkan.

Laura mengatakan, saat dirinya masih muda, pelecehan seksual belum terdefinisikan dengan sedemikian rupa, namun faktanya memang sudah mengakar seakan budaya dalam masyarakat seolah-olah itu adalah hal normal. Dicontohkan, misalnya yang dilakukan oleh seorang bos perusahaan yang memberikan komentar sugestif mengarah ke seksual pada sekretarisnya.

Hal ini seakan tak mengejutkan, di mana laki-laki seringkali membuat lelucon dan komentar vulgar mengenai perempuan, melakukan catcalling, hingga pada penggunaan kekuatan fisik untuk memaksa perempuan melakukan sesuatu yang tak dikehendakinya.

Laura mengaku bahwa sebagai perempuan yang berada di kondisi mengerikan tersebut terbilang sangat sulit, dimana sebagai seorang perempuan seperti terdapat batasan, antara ingin berpenampilan cantik namun juga dinilai terlalu menggoda, yang tak jarang disalahkan terhadap reaksi para pria atas penampilan mereka.

“Kami selalu untuk tak pergi ke toilet umum seorang diri, biasanya selalu ada yang menemani atau bahkan berkelompok. Membawa semprotan merica di malam hari, dan menghindari jalanan gelap atau tempat parkir yang sepi. Kami seakan didefinisikan bahwa menjadi seorang wanita itu selalu merasa takut, atau merasa tidak aman, setiap harinya,” katanya.

Munculah pertanyaan, mengapa tidak seorang wanita lebih menghargai dirinya sendiri di Amerika, dengan mendambakan suatu sistem yang seharusnya mampu membuatnya merasa aman, dihormati dan diberdayakan?

Karenanya, munculah gerakan feminisme. Bagi Laura, feminisme tak diartikan sebagai gerakan membenci pria atau ingin membalikkan keadaan dengan menindas mereka. Namun, ia menekankan bahwa ini adalah lebih mengarah pada tuntutan keadilan dan pengakuan umum bahwa wanita itu pantas dihormati, layak mendapat upah yang setara, lingkungan yang aman, peluang pendidikan dan karir yang sama tingginya dengan kaum pria.

Di titik inilah kemudian Laura mulai mencaritahu tentang Islam. Ia mengaku bahwa rasa penasarannya bermula dari perempuan-perempuan yang diwajibkan berjilbab, namun pria nampaknya tak diwajibkan memakai suatu pakaian tertentu.

“Saya bertanya-tanya, mengapa wanita muslim diharuskan menutupi tubuh dan rambut mereka, sementara pria muslim nampaknya diperbolehkan untuk berpakaian sesukanya? Apakah ini bukti atas penindasan bahwa seorang wanita memiliki batasan terhadap busana apa yang boleh dikenakannya? Lalu, bagaimana mereka dapat dengan bebas melakukan aktivitas yang disukai? Apakah pakaian itu menjadi simbol dari misoginis yang dimaksudkan untuk mengekang wanita dan melarangnya untuk menjalani hidup dengan bebas dan menarik?”, Laura bertanya secara bertubi-tubi.

Belum lagi ditambah bagaimana muslim digambarkan dalam media arus utama yang semakin menegaskan keyakinan Laura bahwa wanita muslim jauh lebih tak berdaya dibandingkan wanita Barat.

Seraya bersyukur, Laura justru mencari tahu lebih banyak mengenai Islam. Beruntung, ia melihat kebenaran dalam proses belajarnya itu, terutama tentang bagaimana status seorang perempuan yang sebenarnya dalam Islam.

“Saya terkejut mengetahui banyak hak atau otoritas bagi wanita dalam sejarah Islam, seperti memiliki dan mewarisi tanah dan properti, memilih dan memiliki bisnis, mengejar pendidikan, mempertahankan upahnya dan membelanjakannya sesuai keinginannya. Hal ini telah terjadi sejak 1400 tahun yang lalu, berabad-abad sebelum wanita Barat memiliki kebebasan yang sama,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menceritakan kekagumannya saat melihat pakaian muslimah, yang ia nilai sebuah pakaian yang sangat sederhana dengan jilbabnya, yang ternyata merupakan sebuah cara untuk taat kepada Sang Pencipta dengan melindungi harga diri dengan berpakaian menutup aurat.

Mempelajari Islam lebih dalam, Laura mengaku tergugah dengan fakta bahwa Allah akan menghakimi seseorang bukan berdasarkan jenis kelamin, namun berdasarkan perbuatan mereka.

“Dalam Islam, saya tak menemukan adanya budaya patriarki atau matriarki. Pria dan wanita dipandang sama dan diharuskan untuk sama-sama taat kepada perintah-Nya, Keduanya diberikan hak dan tanggung jawab yang sama oleh Allah. Meski adanya peran tertentu yang dibatasi untuk pria, seperti sebagai imam atau qawwam (wali) keluarga, seperti menjadi seorang kepala rumah tangga,” jelasnya.

Qawwam diartikan sebagai pelindung, bukan diktator. Laura belajar bahwa seorang suami Muslim sejati harus memperlakukan istirnya layaknya seorang sahabat terkasih, bukan sebagai seorang pelayan yang inferior.

Laura mengatakan bahwa kisah Nabi Muhammad adalah kisah yang paling menginspirasinya. Ia terkesan dengan bagaimana Baginda Rasulullah berinteraksi dengan istrinya dengan penuh cinta, kebaikan, empati dan saling menghormati.

Sebuah kalimat yang ia ingat, “yang terbaik darimu adalah yang terbaik untuk istri-istrimu” yang diucapkan oleh Nabi Muhammad kepada orang beriman. Lantas, dari sini dapat disimpulkan bahwa orang yang beriman tak akan menjadi seorang penindas.

“Muslim tak perlu feminisme. Feminisme hanyalah konstruksi Barat yang hanya merupakan kebutuhan dalam masyarakat tanpa mengetahui perintah dari Sang Pencipta. Saya mulai merasa kasihan pada teman-teman non-Muslim saya yang tidak mengetahu arti kebebasan sejati. Saya mengasihani para wanita Muslim yang masih berpegang teguh pada feminisme ketika dalam agamanya dengan jelas menawarkan solusi yang sempurna.

Hampir dua dekade telah berlalu sejak Laura mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam. Delapan belas tahun hidup sebagai wanita muslim, memang tak menutup kemungkinan akan adanya kisah dari para wanita yang tak beruntung karena tak mendapatkan hak dan status yang layak dalam kehidupan mereka. Beberapa laporan menyebutkan adanya perceraian akibat kekerasan, merasa tak dihargai oleh suami, dan sebagainya.

Lagi-lagi, butuh penekanan bahwa hal-hal tak mengenakan ini menjadi gambaran bahwa hal tersebut dapat mungkin terjadi dan dilakukan oleh orang-orang yang tak sepenuhnya taat kepada anjuran-anjuran agama.

Megan Wyatt adalah pelatih hubungan yang menasihati ratusan wanita muslim di seluruh dunia melalui pekerjaannya di Jannah. Ia belum lama ini menulis tentang utas yang dia lihat dalam percakapannya dengan saudara perempuannya di Islam, dan mengatakan bahwa dirinya tak henti-hentinya menerima laporan tentang istri yang diperlakukan tak wajar oleh suami dan bahkan mertuanya. Namun ia menekankan bahwa pesan-pesan yang ia dapatkan adalah tiap saat, dengan cerita yang sama, perjuangan yang sama, dan tingkat keputusasaan yang sama.

Jelas, penganiayaan wanita muslim masih tersebar luas dan marak terjadi. Namun, Laura mengaku bahwa ia yang mencintai Islam dan berkeinginan untuk menjadi contoh baik dalam agamanya ini, ingin membuktikan bahwa sebagian besar wanita muslim melaporkan bahwa kehidupannya telah terpenuhi dan bahagia dalam pernikahannya, serta merasa dihargai dan dilindungi.

“Saya ingin membuktikan kepada para nonmuslim bahwa dengan menerapkan nilai-nilai Islam, mayoritas wanita muslim terbukti merasa aman dan nyaman, di jalan-jalan umum, di toko, sekolah, hingga saat beribadah dengan mayoritas lingkungan yang muslim,” kata Laura.

“Saya berharap bahwa saya ke depannya dapat menunjukkan kepada negara manapun di dunia bahwa dengan Islam diterapkan dengan benar, maka feminisme tak lagi dibutuhkan. Ketidaktahuan mereka membuat saya mengerti mengapa kini feminisme masih bertahan sebagai solusi yang paling tepat, menjadi sebuah gaya hidup di antara mereka," tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini