Santri Tahfidz Alquran Meninggal Kecelakaan, Wajahnya Bersih Seperti Orang Tidur

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 15 Juli 2020 20:28 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 15 614 2247040 santri-tahfidz-alquran-meninggal-kecelakaan-wajahnya-bersih-seperti-orang-tidur-JDCcavsVz7.jpg Pemakaman tahfidz Muammar Ashraf Ahmad Fairuz di area Pemakaman Islam Sungai Karang, Kuantan, Pahang, Malaysia (Foto Harian Metro)

SEORANG santri tahfidz Alquran di Malaysia, Muammar Ashraf Ahmad Faizul (21) meninggal dunia usai kecelakaan lalu lintas. Namun, wajah Muammar terlihat sangat tenang dan bersih persis seperti orang yang tertidur pulas, berbeda dengan korban kecelakaan pada umumnya.

Dilansir dari Harian Metro, Rabu (15/7/2020), jenazah Muammar dimakamkan di Pemakaman Islam Sungai Karang, Kuantan, Pahang, Malaysia, Jumat 17 Juli 2020. Pemakaman dipimpin ulama dari Suriah, Syeikh Mustofa Zaidan.

Baca juga: Yuk Jaga Kebersihan Alat Sholatmu, Ikuti 4 Langkah Ini

Ribuan pelayat mengantar jenazah Muammar ke pereistirahatan terakhirnya, termasuk guru, teman sekelas, keluarga hingga warga lokal sekitarnya.

Ayahnya Muammar, Datuk Ahmad Faizul Ghazali mengatakan, anak ketiga dari sembilan bersaudara ini merupakan santri tahfiz Quran, memiliki sifat saleh semasa hidupnya.

"Bukan tujuan saya untuk membanggakan sifat anak kepada khalayak, karena semua orang memiliki kebaikan mereka sendiri-sendiri. Ini lebih merupakan inspirasi, dakwah dan contoh," ujarnya.

Ketika memandikan anaknya, Ghazali melihat wajah Muammar begitu tenang dan bersih, layaknya orang yang sedang tertidur pulas.

Rajin sholat malam

Ghazali mengatakan sholat malam tidak pernah dilewatkan Muammar. Ia rajin bangun di persetiga malam untuk menunaikan Sholat Tahajud, Sholat Hajat bahkan Sholat Taubat.

Selain itu, Muammar merupakan sosok yang penyayang kepada siapa saja. Bahkan ia malah sering berteman dengan orang yang sering dianggap sebelah mata atau diremehkan. Hal ini sebagai bentuk dukungannya terhadap sesama manusia.

Ghazali juga menceritakan, sehari sebelum kepergian anaknya ia mendapatkan firasat bahwa ada yang janggal. Muammar minta diadakan acara ulang tahun, walau tanggal lahirnya adalah 7 Agustus.

"Dia mendesak kami agar dibuat lebih awal. Katanya dia tidak sempat kalau acara tersebut dibuat pas hari ulang tahunnya. Pada malam itu, dia bilang kue itu yang terakhir dia makan, setelah ini tidak dapat makan lagi," ucapnya.

Kemudian keesokan harinya Muammar mengalami kecelakaan, padahal saat itu ia hendak pergi menjadi guru ngaji. "Motor yang dinaikinya bertabrakan dengan sebuah kendaraan, hingga menyebabkan bahunya patah dan kepala luka parah," terangnya.

Muammar meninggal dunia dalam keadaan baik, seperti yang dipaparkan di atas ia rajin ibadah, penyanyang, jadi guru ngaji, hingga meninggal dalam keadaan wajahnya tenang.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini